Gempa Filipina Tewaskan 37 Orang, Lebih dari 20.000 Warga Terpaksa Mengungsi
Special Plan – Setelah gempa terkuat dalam setengah abad terakhir mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (08/06), tim penyelamat terus melakukan pemeriksaan di area reruntuhan bangunan pada Selasa (09/06) untuk mengecek apakah masih ada warga yang terjebak. Puluhan orang tewas, sementara ribuan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan berlindung di titik evakuasi.
Peristiwa Gempa dan Ancaman Tsunami
Gempa berpusat di perairan lepas Pulau Mindanao, wilayah dengan jumlah penduduk kedua terbesar di negeri itu. Dalam laporan terkini, empat orang masih dilaporkan hilang, sementara sejumlah bangunan yang roboh atau rusak parah memerlukan inspeksi menyeluruh.
“Gempa tersebut dipicu oleh pergerakan di Palung Cotabato, dan menjadi yang terkuat sejak gempa berkekuatan 8,1 pada tahun 1976 yang berasal dari palung yang sama,” kata Teresito Bacolcol, Direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina.
Kerusakan Akibat Gempa dan Dampaknya
Dalam peristiwa ini, sekitar 500 warga mengalami cedera, dan ratusan bangunan rusak. Bandara General Santos ditutup, menyebabkan pembatalan 63 penerbangan domestik. Selain itu, sejumlah besar sekolah negeri masih dalam pengecekan sebelum pembelajaran dilanjutkan.
Peringatan Tragedi 1976
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menginstruksikan distribusi bantuan makanan dan bahan konstruksi bagi korban. Dalam sejarah, gempa berkekuatan 8,1 yang terjadi pada 17 Agustus 1976 memicu gelombang tsunami hingga 8–10 meter, mengakibatkan 8.000 kematian. Institut seismologi berencana memperingati tragedi tersebut dengan memasang alat pendeteksi gempa di wilayah rawan.
Kerusakan di Wilayah Terdampak
Selama ini, data pemerintah mencatat sekitar 2.000 rumah serta 117 fasilitas pemerintah rusak. Di General Santos City, pusat industri tuna, puluhan korban tewas akibat runtuhnya bangunan. Sementara itu, korban lainnya berasal dari Sarangani, South Cotabato, Davao Occidental, dan Pulau Balut.
Warga mengungsi utamanya karena mengkhawatirkan ancaman tsunami. Meski gelombang mencapai 1,4 meter di perairan Filipina, kerusakan hanya terjadi pada enam rumah panggung di desa dekat pantai. Wilayah lain seperti Indonesia, Palau, dan Jepang juga mengalami gelombang kecil.
