Dw

Kenapa Trump Membidik Gunung Pickaxe Iran?

Sebuah struktur bawah tanah yang terletak di bawah permukaan Gunung Pickaxe (Kuh-e Kolang Gaz La dalam bahasa Farsi) kini menjadi sorotan internasional

Desk Dw
Published Juli 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Mary Anderson - wahanaberita.com

Gunung Pickaxe: Target Serangan Militer yang Dipertimbangkan Trump

Wahanaberita.com – Sebuah struktur bawah tanah yang terletak di bawah permukaan Gunung Pickaxe (Kuh-e Kolang Gaz La dalam bahasa Farsi) kini menjadi sorotan internasional. Kompleks ini berada di provinsi Isfahan, selatan Teheran, dan berjarak sekitar dua kilometer dari pabrik pengayaan uranium Natanz—salah satu aset nuklir paling vital bagi Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Selasa, 21 Juli, secara terbuka mengusulkan lokasi tersebut sebagai sasaran serangan militer. Ia menambahkan bahwa kemungkinan besar terdapat fasilitas pengayaan uranium di dalam kompleks yang digali ke dalam gunung itu.

“Kami kemungkinan besar akan menyerang wilayah itu dalam waktu dekat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghalanginya,” tegas Trump kepada para wartawan di Gedung Putih.

Sebagai respons, Iran telah mengeluarkan peringatan bahwa mereka siap memperluas konflik jika Washington memutuskan untuk menyerang fasilitas nuklirnya.

Profil Kompleks Bawah Tanah

Hingga saat ini, Teheran sangat minim dalam memberikan informasi mengenai kompleks yang terkubur ini. Sebagian besar data yang tersedia berasal dari citra satelit komersial serta analisis intelijen, bukan dari verifikasi langsung.

Citra yang dipublikasikan oleh Maxar Technologies menunjukkan bahwa pekerjaan konstruksi di lokasi tersebut berlangsung secara konsisten sejak tahun 2020. Dalam gambar-gambar tersebut terlihat pintu masuk terowongan baru, jalan akses, sistem keamanan, serta tumpukan material batu hasil galian.

Kecepatan pembangunan meningkat signifikan setelah sebuah ledakan pada Juli 2020 yang menghancurkan bengkel perakitan sentrifus canggih di Natanz. Pemerintah Iran menyebut peristiwa itu sebagai aksi sabotase. Beberapa bulan kemudian, Teheran mengumumkan rencana membangun fasilitas bawah tanah baru untuk perakitan peralatan sensitif dengan perlindungan lebih baik.

Institut Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Internasional (IISS) di Washington memperkirakan bahwa sebagian kompleks ini terletak pada kedalaman 80 hingga 100 meter di bawah permukaan gunung. Jika estimasi ini benar, maka kompleks tersebut akan menjadi salah satu lokasi nuklir paling dalam dan paling sulit dihancurkan melalui serangan udara.

Ketidakpastian dan Inspeksi

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, telah berkali-kali menegaskan bahwa para inspektur mereka belum pernah mendapatkan izin untuk memasuki Gunung Pickaxe. Tanpa akses langsung, badan tersebut tidak dapat memastikan keberadaan bahan nuklir, sentrifus, atau peralatan sensitif lainnya di dalam kompleks.

Meskipun lokasi ini sering muncul dalam berbagai laporan selama beberapa tahun terakhir, fungsi pastinya masih belum jelas. Ketidakpastian inilah yang menjadikan Gunung Pickaxe sebagai salah satu titik pengawasan utama terkait aktivitas nuklir Iran.

Laporan Intelijen dan Sentrifus

Pada Juni 2026, The Wall Street Journal memberitakan bahwa badan intelijen Israel menilai Iran mungkin telah memindahkan ribuan mesin sentrifus pengayaan uranium atau peralatan sensitif lainnya ke kompleks tersebut. Perpindahan ini diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan setelah serangan udara gabungan AS-Israel selama 12 hari pada Juni 2025.

Merespon pertanyaan seputar laporan tersebut, Trump pada hari Selasa (21/7) menyatakan bahwa Iran “mungkin telah” memindahkan sentrifus ke Gunung Pickaxe, namun ia menambahkan bahwa “kami tidak memiliki catatan mengenai hal itu.”

Beberapa analis meyakini bahwa kompleks ini pada akhirnya dapat mendukung produksi atau perakitan sentrifus canggih jika Iran memilih untuk memulihkan atau memperluas kapasitas nuklirnya.

Posisi Iran dan Data Uranium

Iran secara konsisten berargumen bahwa fasilitas bawah tanah diperlukan untuk melindungi infrastruktur nuklir dari sabotase dan serangan militer. Teheran selalu menegaskan bahwa program pengayaan nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai dan menyangkal upaya pembuatan senjata.

Di sisi lain, inspektur internasional serta laporan intelijen menunjukkan bahwa Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60%. Angka ini jauh melampaui kebutuhan sipil dan mendekati 90% uranium yang diperlukan untuk produksi senjata nuklir.

Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy, menjelaskan kepada DW bahwa kepentingan strategis Gunung Pickaxe “terletak pada ketahanannya terhadap bom penembus bunker.”

Leave a Comment