Berita

Key Strategy: PSEL Bali Mulai Dibangun, Tampung 1.500 Ton Sampah Tiap Hari di 2027

PSEL Bali 2027: Key Strategy untuk Mengurangi Sampah 1.500 Ton/Hari Key Strategy - Pemerintah Indonesia telah memulai pembangunan pusat pengolahan sampah

Desk Berita
Published Juli 14, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

PSEL Bali 2027: Key Strategy untuk Mengurangi Sampah 1.500 Ton/Hari

Key Strategy – Pemerintah Indonesia telah memulai pembangunan pusat pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Denpasar, Bali, sebagai bagian dari rencana nasional menangani krisis sampah. Pembangunan ini diharapkan selesai pada tahun 2027 dan akan menjadi contoh sukses dalam implementasi pola pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyatakan bahwa PSEL adalah salah satu langkah strategis penting dalam upaya menjaga lingkungan Bali dari masalah penumpukan sampah.

Perkembangan Proyek PSEL Bali

Dalam wawancara dengan media pada 13 Juli 2026, Qodari mengungkapkan bahwa proyek PSEL Denpasar Raya merupakan implementasi langsung dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Proyek ini bertujuan untuk mengubah cara penanganan sampah di Bali, yang sebagian besar masih dibuang langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung. Qodari menegaskan bahwa Key Strategy ini menjadi bagian dari pergeseran paradigma dalam pembangunan lingkungan yang lebih modern dan berkelanjutan.

Pembangunan PSEL dimulai dengan menancapkan batu pertama pada 8 Juli 2026, di mana investasi mencapai Rp 3 triliun. Fasilitas ini dirancang untuk menampung hingga 1.500 ton sampah per hari, dengan teknologi moving grate incinerator yang mampu mengurangi volume sampah hingga 80-90%. Teknologi ini juga mengubah sampah menjadi energi listrik, sekaligus memastikan pengelolaan yang lebih efisien melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle.

Menurut data terbaru, sekitar 72% sampah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung masih didaur ulang atau dibuang ke TPA Suwung. Hal ini menyebabkan penumpukan sampah yang memperparah masalah lingkungan. Dengan Key Strategy yang diterapkan, PSEL diharapkan mampu memproses sampah secara terpusat, mengurangi beban TPA, dan mencegah kejenuhan kapasitas tempat penampungan pada 2028.

Peluang dan Manfaat dari Key Strategy PSEL Bali

Fasilitas PSEL di Bali bukan hanya solusi untuk mengurangi sampah, tetapi juga menjadi sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Dengan mengubah sampah menjadi listrik, Key Strategy ini memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara bersamaan. Proyek ini dianggap sebagai wujud nyata transformasi pembangunan yang berorientasi pada masa depan, seperti yang disampaikan Qodari.

“Key Strategy ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan teknologi modern, kita bisa mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai,” kata Qodari dalam pernyataan resmi.

Pembangunan PSEL juga diharapkan menjadi model untuk daerah lain di Indonesia. Pemerintah memproyeksikan penyebaran fasilitas serupa ke 34 kawasan aglomerasi, sehingga mampu menangani sampah di 60-70 kabupaten dan kota. Hal ini menunjukkan bahwa Key Strategy yang diterapkan di Bali akan menjadi langkah pionir dalam upaya nasional pengurangan sampah.

Di samping itu, Key Strategy ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang dan pengelolaan sampah. Pemangkasan volume sampah yang masuk ke TPA juga akan memberi ruang bagi pengembangan daerah lain yang lebih hijau. Qodari menegaskan bahwa PSEL Denpasar Raya akan menjadi pengingat bahwa penanganan sampah tidak hanya tentang pengumpulan, tetapi juga transformasi menjadi energi.

Dengan proyek PSEL ini, Bali berharap mampu mencapai target pengurangan sampah yang signifikan, sekaligus menunjukkan komitmen dalam menjaga ekosistem yang sehat. Proses pengolahan sampah menjadi listrik juga dianggap sebagai solusi yang inovatif, karena tidak hanya mengurangi masalah lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pengembangan ekonomi lokal.

Leave a Comment