Melindungi Tuah Marwah

Solution For: Pasutri di Riau Kerap Pukul Anak-Cucu Jika Setoran Mengemis Kurang

Solution For: Pasutri di Riau Kerap Pukul Anak-Cucu Jika Setoran Mengemis Kurang Solution For - Dalam kasus penganiayaan yang terjadi di Kabupaten Pelalawan

Desk Melindungi Tuah Marwah
Published Juni 13, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Solution For: Pasutri di Riau Kerap Pukul Anak-Cucu Jika Setoran Mengemis Kurang

Solution For – Dalam kasus penganiayaan yang terjadi di Kabupaten Pelalawan, Riau, pasangan berinisial MM (46) dan SM (32) dikenal sering memukuli anak dan cucu mereka jika jumlah uang yang terkumpul dari mengemis tidak mencapai target. Fenomena ini menjadi sorotan karena mengungkap praktik eksploitasi yang dilakukan pasangan tersebut terhadap anggota keluarga kecilnya. “Solution For” kasus ini kini menjadi perbincangan hangat di masyarakat setempat, terutama setelah polisi mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh MM dan SM.

Kapolsek Pangkalan Kerinci: Kasus Terungkap Setelah Laporan Masyarakat

Kasus ini terungkap setelah masyarakat melaporkan adanya tiga anak yang ribut di depan pusat perbelanjaan di Pangkalan Kerinci, pada Jumat (12/6/2026). Laporan tersebut membawa Kapolsek Pangkalan Kerinci, AKP Shilton, dan timnya mendatangi lokasi kejadian. “Solution For” penganiayaan terhadap korban, yang disebutkan sebagai cucu MM dan SM, terjadi karena target setoran mengemis yang tidak tercapai. Menurut AKP Shilton, kejadian tersebut tidak hanya melibatkan dua anak laki-laki, MH (11) dan RA (9), tetapi juga satu anak perempuan, PW (9), yang merasa takut pulang karena ancaman pukulan dari neneknya.

“Jadi cucunya itu yang cewek, PW (9) dia takut pulang, karena biasanya jika tidak mencapai target, korban dipukuli oleh neneknya,” kata Kapolsek Pangkalan Kerinci, AKP Shilton, dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).

Kapolsek menambahkan bahwa korban PW (9) terpaksa ditarik oleh RA (9) untuk ikut pulang, meskipun ia enggan melangkah karena takut dipukuli. “Solution For” kasus ini terbongkar setelah polisi menyelidiki keluhan masyarakat dan menemukan bukti-bukti tentang kebiasaan MM dan SM memaksa anggota keluarga mereka untuk mengumpulkan uang setoran. “Jadi anak-anak ini disuruh nyetor sehari RP 500 ribu, kalau nggak menyampai target mereka dipukuli,” lanjut AKP Shilton.

Detil Kasus dan Pengakuan Pelaku

Dalam penyelidikan, polisi mengamankan MM dan SM di rumah mereka setelah menerima laporan yang cukup kuat. Para pelaku disebutkan sering mengontrol setoran anak-anak mereka dengan cara memukul jika hasilnya kurang dari target. “Solution For” masalah ini sedang diteliti lebih lanjut, termasuk mencari kebenaran tentang status PW (9) yang tidak terdaftar dalam Kartu Keluarga (KK). “Kami masih mendalami anak PW ini, karena tidak ada di dalam KK. Mereka mengakunya korban ini cucunya, tapi sedang kami dalami,” jelas AKP Shilton.

Kejadian ini menjadi contoh nyata bagaimana kehidupan keluarga yang tergantung pada pengemis manusia silver bisa berujung pada kekerasan. MH (11) dan RA (9), sebagai anak MM dan SM, diberi tekanan untuk mengumpulkan uang sehari-hari. Jika target tidak tercapai, mereka akan dianiaya, baik fisik maupun psikologis. Fenomena ini menggambarkan bagaimana eksploitasi bisa terjadi dalam lingkaran keluarga, terutama jika ada kebutuhan ekonomi yang mendesak.

“Solution For” kasus ini sangat penting untuk mencegah kekerasan berulang, terutama terhadap anak-anak yang menjadi korban,” tegas AKP Shilton saat memberikan keterangan lebih lanjut. “Kami akan terus mengungkap fakta dan memberikan keadilan kepada para korban.”

Implikasi Sosial dan Kebutuhan Penyelesaian

Kasus ini tidak hanya menimbulkan kecaman dari warga sekitar, tetapi juga menyoroti masalah sosial yang berkembang di Riau. Banyak keluarga yang terjebak dalam siklus kemiskinan dan ketergantungan pada pengemis manusia silver, terutama jika tidak ada akses ke layanan sosial yang memadai. “Solution For” masalah ini memerlukan peningkatan kesadaran masyarakat serta dukungan dari pemerintah daerah untuk memberikan bantuan kepada keluarga rentan seperti pasangan MM dan SM.

Kapolsek juga menjelaskan bahwa penyelidikan terus berlanjut untuk memastikan apakah MM dan SM benar-benar memperbudak anak-anak mereka atau hanya memaksa mereka untuk mengumpulkan uang sehari-hari. “Solution For” kejahatan ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan sanksi hukum yang tepat, apakah berupa penjara, denda, atau program rehabilitasi. Dengan menyelesaikan kasus ini, pihak kepolisian berharap bisa memutus pola kekerasan yang terjadi di lingkungan keluarga.

“Kami ingin melalui “solution for” ini, masyarakat lebih waspada terhadap kekerasan dalam rumah tangga,” ujar AKP Shilton. “Ini juga menjadi pelajaran bahwa kekuasaan dalam keluarga perlu diawasi.”

Leave a Comment