Important News: RW Jaktim Inovasi Biopori Jumbo sebagai Contoh Terbaik
Important News – Jakarta Timur kembali menjadi sorotan dengan pengelolaan sampah yang inovatif. Sebuah RW di Duren Sawit, Pondok Kelapa, berhasil menerapkan sistem biopori jumbo yang mampu menampung sampah dalam volume besar. Inisiatif ini diapresiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menyebutnya sebagai contoh yang baik dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan.
Proses Implementasi Biopori Jumbo
Penggunaan biopori jumbo di RW 014 Pondok Kelapa dimulai sebelum adanya Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Pramono menjelaskan bahwa keberhasilan ini berawal dari inisiatif warga yang aktif, dengan enam rukun tetangga (RT) bersama-sama mengadopsi teknologi pengolahan sampah berbasis biopori dengan kapasitas besar. “Ini bukti bahwa masyarakat bisa berperan aktif dalam mengelola lingkungan,” kata Pramono saat memberikan wawancara di Duren Sawit, Jaktim, pada hari Minggu (7/6/2026).
Dalam implementasinya, biopori jumbo dirancang dengan ukuran yang lebih besar dari sistem konvensional. Setiap biopori bisa menampung sampah organik dapur (SOD) hingga 3.700 kilogram dalam tiga bulan. Pramono menyampaikan bahwa inisiatif ini tidak hanya efektif tetapi juga efisien, karena mampu menampung sampah dari dua rumah sekaligus. “Dengan metode ini, kita bisa mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, serta mempercepat proses pengolahan,” jelasnya.
Keberhasilan dan Dukungan Pemerintah
Pramono menegaskan bahwa penggunaan biopori jumbo menjadi solusi yang berpotensi menjadi percontohan bagi RW lainnya di Jakarta. “Saya berharap metode ini bisa diadopsi lebih luas, karena sangat efektif dan ramah lingkungan,” tambahnya. Inisiatif ini didukung oleh adanya Ingub (Instruksi Gubernur) yang memberikan kerangka hukum untuk pengelolaan sampah dari sumber. Selain itu, dana bantuan dari pemerintah daerah juga turut mengakselerasi proses implementasi.
Dari data yang diperoleh, 120 biopori jumbo telah dioperasikan di RW 14, Pondok Kelapa, dan mampu menampung sampah organik secara signifikan. Pramono menjelaskan bahwa sistem ini tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga. “Sampah yang diolah menjadi kompos bisa digunakan untuk perkebunan warga, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan pupuk kimia,” katanya.
Role Model untuk Wilayah Lain
Pramono memberikan apresiasi khusus kepada warga RW 014 yang berani mencoba metode baru ini. “Mereka membuktikan bahwa inisiatif dari bawah bisa menciptakan perubahan besar,” ujar Pramono. Ia juga menyebutkan bahwa biopori jumbo ini menjadi inovasi pertama di Jakarta Timur. “Saya juga meresmikan penggunaan biogas di waktu yang sama, semoga ini bisa menjadi acuan bagi wilayah lain,” tambahnya.
Pengelolaan sampah melalui biopori jumbo diharapkan bisa diterapkan di RW-RW lain di Jakarta, seperti Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Pramono berharap adanya konsep ini mendorong masyarakat lebih sadar dalam memilah dan mengolah sampah. “Important News, Jakarta Timur menjadi contoh yang baik untuk kota-kota lain dalam menghadapi tantangan sampah,” pungkasnya. Dengan adanya sistem ini, eksplorasi sumber daya lokal dan pengurangan volume sampah yang dibuang ke TPA pun menjadi lebih optimal.
