Main Agenda: Warisan Toleransi di Kampung Sawah Bekasi
Main Agenda menjadi tema utama dalam cerita tentang kampung sawah di Bekasi yang menunjukkan komitmen tinggi terhadap kerukunan antarumat beragama. Wilayah ini menjadi simbol kehidupan harmonis karena memiliki tiga tempat ibadah—gereja Katolik, gereja Kristen, dan masjid—yang berdekatan dan saling mendukung. Umat Katolik, Protestan, dan Muslim di Kampung Sawah telah mengembangkan budaya saling menghargai perbedaan, menjadikan tempat ini sebagai contoh nyata toleransi yang mendarah daging.
Sejarah Marga Betawi dan Akar Budaya Toleransi
Kampung Sawah Bekasi memiliki latar belakang historis yang memperkaya nilai kebersamaan masyarakatnya. Pada masa kolonial, marga-marga seperti Noron, Miman, atau Rikin lahir sebagai alat identifikasi kelompok untuk memudahkan sensus. Namun, hal ini tidak menghalangi interaksi antarumat beragama. Jacob, tokoh Betawi Katolik yang sudah lebih dari 70 tahun, menyebutkan bahwa marga Napiun, misalnya, menjadi cikal bakal identitas keluarga yang selama ini diterima oleh semua agama.
“Marga ini dibuat agar mudah diidentifikasi, tapi kami di Kampung Sawah tetap bersatu. Nama lengkap saya Ricardus Jacobus Napiun, tapi saya lebih sering dipanggil Jacob,”
kata Jacob saat ditemui detikcom pada Kamis (14/5/2026). Ia menambahkan bahwa kebersamaan ini sudah terbentuk sejak lama, bahkan sebelum kolonial, dan terus dilestarikan hingga hari ini.
Kehidupan Beragama yang Terpadu dalam Satu Komunitas
Main Agenda yang dipelihara oleh warga Kampung Sawah menggambarkan hubungan antaragama yang tidak hanya formal, tetapi juga sangat personal. Gereja Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan, dan masjid yang terletak di dekat satu sama lain menciptakan dinamika unik. Masyarakat Katolik dan Protestan di sini bukan hanya saling menghormati, tetapi juga membagi kehidupan sehari-hari tanpa ada pembeda.
“Mereka (umat beragama) sudah sepakat bahwa urusan beragama sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibahas lagi, dan kebersamaan lahir secara alami,”
kata Jacob. Ia menjelaskan bahwa keharmonisan ini diperkuat oleh kebiasaan saling bantu saat acara besar seperti Natal atau Lebaran diadakan. Main Agenda yang dipegang oleh masyarakat Betawi Kampung Sawah menjadi pondasi untuk mempertahankan tradisi ini.
Kegiatan Komunitas yang Memperkuat Nilai Toleransi
Kampung Sawah Bekasi tidak hanya menunjukkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga melalui kegiatan komunitas yang terencana. Salah satu contohnya adalah acara Sedekah Bumi yang diadakan setiap tahun. Main Agenda ini menjadi wadah untuk memperkuat kebersamaan antarumat beragama, di mana tokoh agama dan warga muda lintas keyakinan turut serta merayakan budaya lokal yang menjadi identitas bersama.
“Sedekah Bumi ini sudah menjadi bagian dari budaya Kampung Sawah, di mana toleransi bukan sekadar prinsip, tetapi cara hidup yang terus berlangsung,”
ujar Jacob. Ia menegaskan bahwa pengaturan acara seperti ini tidak memicu perselisihan, justru mempererat ikatan sosial yang selama ini terjalin erat antar kelompok.
Warisan Budaya yang Tetap Relevan di Era Modern
Main Agenda yang diwariskan oleh generasi sebelumnya terus relevan dalam masyarakat kontemporer. Meski zaman berubah, nilai toleransi di Kampung Sawah tetap hidup karena diaktualisasikan dalam setiap interaksi. Jacob mengungkapkan bahwa warga setempat tidak pernah menganggap perbedaan agama sebagai hal yang memicu konflik, tetapi sebagai bagian dari keanekaragaman yang harus dihargai.
“Kami lahir sejak 1896, sementara agama Kristen Protestan yang lebih tua, dari 1874. Namun, dalam Main Agenda kita, semua keberagaman dianggap sebagai kekuatan,”
kata Jacob. Ia menambahkan bahwa kerukunan ini juga didukung oleh adat istiadat yang sudah menjadi bagian dari kehidupan komunal, seperti saling bantu dalam acara budaya atau keagamaan.
Perspektif Masa Depan dan Peran Tokoh Betawi
Menurut Jacob, Main Agenda yang dijaga oleh tokoh Betawi seperti dirinya akan terus hidup asalkan ada keinginan dari generasi muda. “Kerukunan ini dibangun dari generasi ke generasi, jadi kalau generasi muda tidak menghargai, akan sulit dipertahankan,” katanya. Ia menyoroti peran tokoh agama dan pemimpin lokal dalam menjaga dinamika harmonis tersebut.
“Kita harus berperan aktif dalam memperkuat Main Agenda ini, karena itu adalah jaminan bahwa toleransi akan terus hidup di Kampung Sawah,”
tambah Jacob. Ia berharap nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan akan tetap menjadi contoh bagi kota lain yang masih menghadapi tantangan kerukunan agama.