Gerebek Ruko Tempat Oplos LPG di Bogor: Kapolsek Cileungsi Nyamar Jadi Satpam
Wahanaberita.com – Gerebek Ruko Tempat Oplos LPG di Bogor menjadi operasi besar-besaran yang dilakukan oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Cileungsi untuk memberantas praktik ilegal pengoplosan gas LPG. Operasi ini berhasil mengungkap sebuah ruko yang beroperasi sebagai pusat pengoplosan gas di kawasan Desa Cileungsi Kidul, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam operasi yang berlangsung pada hari Kamis, tanggal 23 Juli 2025, Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, memilih untuk menyamar menjadi petugas keamanan atau satpam sebelum dan selama penggerebekan berlangsung. Strategi ini dinilai sangat efektif untuk mengelabui para pelaku yang telah memasang sistem pengawasan di sekitar lokasi.
Strategi Penyamaran Kapolsek dalam Operasi
Kompol Edison menjelaskan bahwa keputusan untuk menyamar sebagai satpam bukan tanpa alasan. Para pelaku pengoplosan LPG telah memasang beberapa kamera CCTV di bagian depan ruko mereka. Kamera-kamera ini berfungsi untuk memantau situasi di sekitar lokasi setiap saat. Dengan adanya sistem pengawasan tersebut, keberadaan petugas kepolisian yang datang langsung akan segera terdeteksi. Oleh karena itu, penyamaran menjadi langkah krusial yang harus dilakukan agar operasi berjalan lancar tanpa menimbulkan kecurigaan dari para pelaku.
“Penyamaran tersebut terpaksa dilakukan karena para pelaku memasang kamera CCTV di bagian depan ruko yang digunakan untuk memantau situasi di sekitar lokasi,” ujar Kompol Edison saat memberikan keterangan kepada media.
“Langkah itu dilakukan agar keberadaan petugas tidak dicurigai sebelum penggerebekan dilaksanakan,” tambah Edison dengan menekankan pentingnya strategi ini dalam keberhasilan operasi.
Temuan Penting di Lokasi Pengoplosan
Selama proses penggerebekan berlangsung, para petugas menemukan berbagai temuan penting yang mengindikasikan skala operasi pengoplosan yang cukup besar. Salah satu temuan menarik adalah adanya sebuah tangga serta jalur khusus yang terletak di bagian belakang bangunan. Jalur ini diperkirakan telah disiapkan secara khusus sebagai rute pelarian jika sewaktu-waktu terjadi operasi penangkapan oleh aparat kepolisian. Keberadaan jalur ini menunjukkan bahwa para pelaku telah mengantisipasi kemungkinan adanya operasi dari pihak berwenang.
“Tangga di bagian belakang bangunan yang diduga telah dipersiapkan sebagai jalur pelarian apabila sewaktu-waktu dilakukan penggerebekan,” beber Edison sambil menunjukkan lokasi yang dimaksud kepada para wartawan.
Penyitaan Massif dan Penangkapan Pelaku
Operasi Gerebek Ruko Tempat Oplos LPG ini menghasilkan hasil yang sangat memuaskan bagi pihak kepolisian. Sebanyak 1.304 tabung gas berhasil disita dari lokasi tersebut. Selain itu, polisi berhasil menangkap dua orang tersangka yang berperan penting dalam operasional pengoplosan. Kedua tersangka tersebut berinisial MS dan RET, yang dikenal sebagai “dokter” atau penyuntik gas dalam praktik pengoplosan LPG.
“Dalam penggerebekan itu, polisi berhasil mengamankan dua orang pelaku berinisial MS dan RET, yang berperan sebagai dokter atau penyuntik gas,” kata Edison dengan penuh kepuasan.
Edison menambahkan bahwa kedua tersangka tersebut memindahkan isi tabung LPG subsidi berukuran 3 kilogram ke dalam tabung nonsubsidi berukuran 12 kilogram. Proses ini dilakukan untuk kemudian dijual kembali ke masyarakat dengan harga yang lebih tinggi, sehingga mendapatkan keuntungan finansial yang signifikan. Tabung-tabung yang telah diisi ulang ini kemudian didistribusikan ke berbagai lokasi penjualan di sekitar Bogor dan wilayah sekitarnya.
Daftar Barang yang Disita dalam Operasi
Barang-barang yang disita dalam operasi Gerebek Ruko Tempat Oplos LPG ini cukup beragam dan menunjukkan kompleksitas operasional pengoplosan. Selain 1.304 tabung LPG, polisi juga menyita 56 buah besi penyambung gas yang digunakan dalam proses pengisian. Dua unit kulkas dan satu unit timbangan digital juga ditemukan di lokasi, yang kemungkinan digunakan untuk menyimpan dan menimbang gas. Satu unit kendaraan roda empat berhasil disita sebagai alat transportasi untuk mendistribusikan tabung-tabung hasil oplosan. Selain itu, terdapat juga tutup plastik barcode tabung LPG 12 kilogram dan tutup plastik tabung LPG 3 kilogram yang diduga digunakan dalam praktik pengoplosan tersebut.
“Seluruh barang bukti akan kami proses lebih lanjut sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” pungkas Edison.
Operasi ini menjadi contoh nyata bagaimana kepolisian terus berupaya memberantas praktik ilegal yang merugikan masyarakat dan negara. Dengan jumlah tabung yang disita mencapai lebih dari 1.300 unit, operasi ini diperkirakan dapat menyelamatkan kerugian negara yang cukup besar akibat praktik pengoplosan LPG yang berlangsung selama ini.

