Fenomena Kampung Hilang di Bendungan Karian Kembali Terlihat Saat Kemarau
Wahanaberita.com – Tentang Kampung Hilang di Bendungan Karian menjadi sorotan publik ketika musim kemarau tiba. Fenomena unik ini terjadi di Kabupaten Lebak, Banten, di mana permukaan air bendungan yang menyusut membuat pemukiman-pemukiman yang sebelumnya terendam kembali muncul ke permukaan. Kampung-kampung ini ditinggalkan oleh penghuninya pada masa lalu ketika pemerintah melakukan program relokasi untuk pembangunan bendungan strategis nasional tersebut.
Profil Bendungan Karian sebagai Proyek Nasional
Bendungan Karian merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Dengan kapasitas penampungan air mencapai 314,7 juta meter kubik, fasilitas ini memiliki peran vital dalam penyediaan sumber air bagi berbagai wilayah di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Wilayah yang dilayani mencakup Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, serta sebagian wilayah Provinsi DKI Jakarta.
Proses pembangunan bendungan ini dimulai sejak Oktober 2015 dan baru rampung sepenuhnya pada tahun 2023. Selama periode konstruksi yang berlangsung hampir satu dekade, setidaknya tiga kampung mengalami relokasi penduduk, yaitu Kampung Susukan, Kampung Cibolang, dan Kampung Karian. Total luas lahan yang dibebaskan untuk keperluan proyek ini mencapai 2.226,44 hektar, menjadikan ini sebagai salah satu proyek infrastruktur terbesar di wilayah Banten.
Selain pemukiman penduduk, pemerintah juga melakukan relokasi sejumlah bangunan fasilitas umum. Sebanyak 37 bangunan dipindahkan pada tahap awal pembangunan, kemudian ditambahkan 8 bangunan lagi pada tahun 2024. Kumpulan fasilitas yang direlokasi meliputi enam sekolah, sebelas masjid, lima madrasah, sembilan majelis, enam musala, empat kantor desa, satu polindes, dan tiga posyandu.
Kembali Munculnya Pemukiman yang Terendam
Setelah kampung-kampung ditinggalkan, proses pengisian air awal atau impounding dimulai pada tahun 2024 di Kabupaten Lebak, Banten. Air pun perlahan memenuhi area pemukiman yang telah kosong, menciptakan pemandangan unik di mana bangunan-bangunan rumah tampak seperti pulau-pulau kecil di tengah genangan air yang luas.
Kini, seiring dengan penurunan permukaan air akibat musim kemarau, bangunan-bangunan di kawasan tersebut mulai terlihat kembali. Meskipun atap rumah sudah hilang, dinding-dindingnya masih berdiri kokoh. Pemukiman padat yang sebelumnya tertutup air kini tampak jelas, memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat yang pernah menghuni kawasan tersebut.
“Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya Kecamatan Sajira, sudah di area hulu, dan awalnya memang merupakan daerah permukiman padat,” ujar Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3) Maretha Ayu Kusumawati, Senin (27/7/2026).
Bangunan-bangunan tersebut tidak dihancurkan saat proses pengisian air berlangsung. Tim konstruksi hanya membersihkan vegetasi yang tumbuh di area waduk, sehingga struktur bangunan tetap utuh dan dapat terlihat kembali ketika air menyusut.
“Kondisi seluruh area genangan meski sudah dibebaskan tidak dilakukan demolish untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja,” ujarnya.
Maretha Ayu menjelaskan bahwa saat ini air dalam waduk hanya menyusut sekitar lima persen. Penurunan ini membuat bangunan rumah yang ditinggalkan penghuninya tampak lebih jelas, menciptakan pemandangan yang menarik bagi pengunjung dan masyarakat sekitar.
“Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 m. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal,” katanya.
Fenomena tentang Kampung Hilang di Bendungan Karian ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menjadi bukti nyata dari perubahan lingkungan akibat pembangunan infrastruktur besar. Masyarakat dapat menyaksikan kembali jejak sejarah pemukiman yang pernah ada sebelum bendungan ini dibangun, memberikan perspektif baru tentang hubungan antara manusia dan alam dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

