Latest Program: Eddy Soeparno Desak PLN Evaluasi Pasokan Listrik Bergilir
Kondisi Listrik Bergilir di Wilayah Strategis
Latest Program – Beberapa wilayah seperti Jawa, Sumatera, dan Bali tengah mengalami pemadaman listrik bergilir yang menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi. Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), memberikan pernyataan tajam tentang masalah ini, menilai bahwa PLN perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terkait rantai pasok listrik. Ia menyebutkan bahwa gejala pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini adalah indikasi bahwa sistem energi nasional membutuhkan peningkatan kinerja dan perbaikan struktur.
Penyebab dan Dampak Pemadaman Listrik
“Saya mengalami langsung pemadaman listrik secara bergilir saat berkunjung ke Dapil Kota Bogor pada hari Jumat (19 Juni) lalu,” ujar Eddy dalam pernyataannya, Sabtu (20/6/2026).
Eddy mengungkapkan bahwa penyebab utama pemadaman listrik bergilir terkait dengan keterbatasan pasokan batubara kategori ‘medium rank coal’ yang diperlukan untuk operasional pembangkit listrik. Kekurangan pasokan ini mengakibatkan PLN harus melakukan alokasi beban listrik secara tidak merata, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara penghasil batubara yang cukup besar, tidak seharusnya mengalami krisis pasokan energi yang begitu signifikan dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Dalam konteks situasi saat ini, pemadaman listrik bergilir bukan hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari warga, tetapi juga berpotensi mengganggu operasional perusahaan dan aktivitas industri. Pemadaman yang terjadi secara berkala menyebabkan gangguan pada sistem distribusi, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan PLN dalam mengelola pasokan energi. Eddy menilai bahwa upaya peningkatan kapasitas produksi dan distribusi listrik harus menjadi bagian dari Latest Program untuk memastikan keberlanjutan energi.
Evaluasi Terhadap Rantai Pasok Batubara
Eddy Soeparno menyoroti perlambatan izin produksi batubara oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai salah satu faktor yang memperparah situasi. Ia menekankan bahwa kebijakan yang memperlambat perizinan mengurangi kemampuan produsen untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga memicu ketergantungan pada pasokan luar negeri. Dalam rangka Latest Program, Eddy mengingatkan bahwa Kementerian ESDM perlu lebih proaktif dalam mengawasi Domestic Market Obligation (DMO), yang mengharuskan produsen batubara menyediakan sebagian besar produksi mereka untuk pasar dalam negeri.
“Kami mendesak PLN mengaudit secara menyeluruh sistem pasokan batubaranya, agar gejala serupa tidak terulang,” tegas Eddy.
Penyebab lain yang diajukan Eddy adalah ketidakseimbangan dalam pengelolaan infrastruktur dan distribusi energi. Menurutnya, PLN harus merancang strategi yang lebih terarah dalam mengatur kebutuhan listrik, termasuk meningkatkan efisiensi penggunaan batubara. Eddy juga menyoroti bahwa pemadaman listrik bergilir menjadi momentum untuk menguji kesiapan sistem energi Indonesia dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.
Pemadaman Listrik Bergilir dan Transisi Energi
Dalam pandangannya, pemadaman listrik bergilir seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah dan PLN. Eddy menekankan bahwa transisi energi ke sumber daya terbarukan, seperti energi surya dan angin, harus dipercepat agar ketergantungan pada batubara bisa ditekan. Ia menambahkan bahwa peningkatan kapasitas PLTSurya sebesar 100 GW, yang menjadi target nasional, harus diwujudkan dalam waktu dekat.
“Program transisi energi, yang sejalan dengan visi Presiden Prabowo, wajib ditingkatkan agar ketergantungan Indonesia pada batubara bisa ditekan secara maksimal,” jelas Eddy.
Eddy juga menyebutkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada koordinasi antarinstansi dan kebijakan yang konsisten. Ia menilai bahwa Latest Program bisa menjadi kerangka kerja untuk mengintegrasikan berbagai sektor energi, termasuk mengoptimalkan pembangkit tenaga surya dan mengurangi beban batubara. Dengan adanya pemadaman listrik bergilir, kebutuhan akan sumber daya terbarukan semakin mendesak.
Solusi untuk Meminimalkan Dampak
Untuk mengatasi masalah pemadaman listrik bergilir, Eddy menyarankan beberapa langkah kunci. Pertama, PLN perlu melakukan audit menyeluruh terhadap proses distribusi energi, termasuk mengidentifikasi celah-celah dalam pengelolaan kebutuhan beban listrik. Kedua, pemerintah harus mempercepat pengurusan izin produksi batubara dan memastikan produsen memenuhi kewajiban DMO. Ketiga, penguatan kerja sama antarlembaga, seperti Kementerian ESDM, Kementerian PUPR, dan PLN, diperlukan untuk menyelaraskan strategi dan memastikan pasokan energi tetap stabil.
Dalam konteks jangka panjang, Eddy menegaskan bahwa krisis listrik saat ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk tidak bergantung sepenuhnya pada bahan bakar fosil. Ia menekankan bahwa transisi energi yang cepat akan memberikan keuntungan jangka panjang, seperti mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Dengan mengevaluasi sistem pasokan energi secara mendalam, Latest Program bisa menjadi acuan untuk membangun model energi yang lebih berkelanjutan.
