Main Agenda Lestari Moerdijat Soroti Peran Masyarakat Adat dalam Menjaga Ekosistem Pangan Lokal
Main Agenda – Dalam rangkaian Main Agenda yang diadakan pada 20 Mei, Lestari Moerdijat menyoroti peran penting masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati dan mendorong kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Wilayah adat dikenal sebagai kawasan yang menjadi penyangga keanekaragaman hayati, serta mengatur keberlanjutan sumber pangan lokal. Menurut Lestari, masyarakat adat dan komunitas setempat merupakan penghalang terakhir dalam menjaga lingkungan hidup serta mempertahankan sistem pangan mandiri.
Kontribusi Wilayah Adat terhadap Kedaulatan Pangan dan Ekosistem
Main Agenda ini memfokuskan diskusi tentang bagaimana wilayah adat tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga aktor kritis dalam membangun ekosistem pangan yang tangguh. Wilayah adat membantu mengakses sumber daya alam, termasuk tanah pertanian yang dibudidayakan secara turun-temurun. Lestari menekankan bahwa keberadaan wilayah adat menghasilkan pengetahuan lokal yang tak tergantikan untuk menopang keberlanjutan pangan di masa depan.
“Wilayah adat berperan penting dalam menjaga ekosistem sekaligus menjadi penyangga keanekaragaman hayati,” kata Lestari dalam keterangan resmi.
Kebudayaan pertanian adat tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga menjamin kelangsungan hidup masyarakat. Dalam diskusi, Lestari menjelaskan bahwa pangan lokal, seperti beras, jagung, dan umbi-umbian, memiliki peran sentral dalam memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi warga. Selain itu, keberagaman sumber pangan ini mampu menahan dampak perubahan iklim yang semakin mengancam.
Data BRWA: Kontribusi Masyarakat Adat terhadap Sumber Pangan
Dari data Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), diketahui bahwa sekitar 4,9 juta hektare lahan pertanian adat tetap aktif, menjadikannya fondasi utama bagi sistem pangan lokal yang mandiri. Main Agenda ini juga menyoroti bagaimana masyarakat adat memiliki peran vital dalam melestarikan 80% keanekaragaman hayati di dunia.
“Keanekaragaman hayati Indonesia sering kali diabaikan sebagai sumber pangan, padahal kita punya lebih dari 5.500 jenis tanaman pangan dan 33.000 varietas tanaman obat,” jelas Lestari.
Helianti Hilman, pendiri Javara Indigenous Indonesia, menegaskan bahwa biodiversitas pangan lokal bisa menjadi kekuatan ekspor. Dalam Main Agenda, ia menyampaikan bahwa peluang pasar global terbuka bagi produk pangan lokal, asalkan strategi pemasaran dan kebijakan mendukungnya. Ini menunjukkan bahwa pangan adat bukan hanya sumber kebutuhan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari perekonomian nasional.
Polah Kebijakan Pangan yang Menyebabkan Ketergantungan Impor
Menurut Hilmar Farid, mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, kebijakan pangan Indonesia cenderung menyebabkan ketergantungan impor, meskipun negara ini memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Main Agenda ini mengangkat isu bahwa sektor pertanian terlalu terpusat, sehingga membatasi akses masyarakat adat terhadap sumber daya alam.
“Kita masih mempertahankan pola makan yang heterogen, tetapi kebijakan pangan sering kali membuat kita mengandalkan impor,” ujarnya.
Polah konsumsi makanan yang berubah dari beragam menjadi dominasi beras dan gandum memberi tekanan pada sistem pertanian monokultur. Hilmar mengingatkan bahwa kebijakan pangan yang terlalu memaksa akan menghambat upaya masyarakat adat dalam mempertahankan keberlanjutan sumber daya pertanian.
Konsistensi Sistem Pangan Lokal sebagai Kunci Kedaulatan
Dicky Senda, pendiri Komunitas Lakoat Kujawas, menyoroti bahwa konsistensi sistem pangan lokal adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan budaya pertanian. Main Agenda ini juga menegaskan bahwa stigma kekurangan pangan di masa kini menghambat pengembangan pertanian lokal di daerah seperti Pegunungan Mollo.
“Pengetahuan tentang pangan lokal perlu dijaga agar terus hidup dari generasi ke generasi,” kata Dicky.
Menurut Dicky, pertanian adat tidak hanya menjamin keberlanjutan ekosistem, tetapi juga menjaga kekayaan budaya dan identitas masyarakat. Kebiasaan pertanian lokal seperti pengolahan tanah secara alami dan penanaman berbagai jenis tanaman dapat dijadikan model untuk pangan masa depan yang lebih berkelanjutan.
