Solving Problems: Menteri Israel Unggah Video Aktivis Flotilla Berlutut Tangan Terikat
Solving Problems adalah topik utama yang diangkat dalam peristiwa video yang diunggah oleh Menteri Perdamaian Israel, Itamar Ben-Gvir, pada Rabu (20/5/2026). Dalam video tersebut, para aktivis dari flotilla Global Sumud ditunjukkan berlutut di lantai dengan tangan terikat menggunakan tali. Tindakan ini dilakukan saat mereka sedang berusaha mencapai wilayah Gaza dalam rangka misi kemanusiaan. Video ini segera memicu perdebatan global mengenai pendekatan Israel dalam menyelesaikan konflik.
Konteks Misi Kemanusiaan dan Tindakan Israel
Flotilla Global Sumud merupakan perahu kemanusiaan yang berangkat dari negara-negara Eropa dengan tujuan menyampaikan bantuan ke Gaza. Israel, sebagai negara yang mengklaim perairan itu sebagai zona teritorial, menangkap seluruh 430 aktivis dalam perjalanan. Menurut laporan Al Jazeera, tindakan ini dianggap sebagai bagian dari upaya Israel dalam menyelesaikan masalah yang dianggap mengancam keamanannya. Video yang diunggah oleh Ben-Gvir menampilkan aktivis-aktivis itu dipermalukan sambil lagu kebangsaan Israel terdengar, menciptakan gambaran yang menimbulkan kontroversi.
“Solving Problems tidak hanya tentang mengatasi konflik, tetapi juga tentang cara menangani individu yang dianggap sebagai ancaman. Video ini menggambarkan bagaimana Israel memperlihatkan sikap tegas dalam menghadapi flotilla,” kata Menteri Perdamaian Israel dalam wawancara terpisah.
Menteri Perdamaian Israel, Itamar Ben-Gvir, menambahkan keterangan dalam video tersebut dengan menyebut “Selamat datang di Israel”, sebagai tanda penolakan terhadap pengunjuk rasa. Aksi ini memperkuat gambaran bahwa Israel menggunakan kekerasan sebagai strategi untuk menyelesaikan masalah secara cepat. Dalam konteks kemanusiaan, tindakan mengikat tangan dan membuat aktivis berlutut bisa dianggap sebagai upaya untuk menekan resistensi.
Kontroversi Internasional dan Dukungan Diplomatik
Kemarahan internasional memuncak setelah video Ben-Gvir viral. Negara-negara seperti Italia, Prancis, Belanda, dan Kanada langsung bergerak dengan memanggil duta besar Israel. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik tindakan Israel dalam pernyataannya di platform X, menyebutkan bahwa aktivis-aktivis itu ditangani secara tidak manusiawi.
“Solving Problems harus melibatkan dialog dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Video ini menunjukkan bahwa Israel lebih memilih tindakan keras daripada menyelesaikan masalah dengan kesepakatan,” tegas Meloni.
Menurut Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot, kejadian ini menjadi momentum untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan gerakan anti-kekuasaan. Ia menegaskan bahwa tindakan Israel menimbulkan kekecewaan dan mendorong tindakan internasional untuk menekan.
“Solving Problems membutuhkan respons cepat. Penahanan warga sipil di perairan teritorial Israel adalah langkah yang memicu kritik global,” kata Barrot.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand menyebut bahwa video tersebut memperlihatkan kekacauan dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan. Ia meminta penjelasan lebih lanjut dari Israel terkait dasar hukum penangkapan aktivis tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belanda Tom Berendsen menegaskan bahwa tindakan Israel melanggar prinsip hak asasi manusia.
Respons dari Negara-Negara Eropa dan Dampaknya
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga turut mengkritik penanganan Israel terhadap warganya. Ia menyoroti bahwa peristiwa ini menjadi bagian dari upaya Israel dalam menyelesaikan masalah politik dengan cara mengorbankan kemanusiaan.
“Solving Problems yang sejati harus melibatkan pengertian dan empati. Video ini menunjukkan bahwa Israel mengabaikan itu,” ujar Lee dalam wawancara dengan media lokal.
Kementerian Luar Negeri Portugal dan Spanyol juga memberikan respons tajam terhadap aksi Israel. Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menggambarkan kejadian tersebut sebagai contoh terburuk dalam menyelesaikan masalah secara represif. Sementara Menteri Luar Negeri Irlandia Helen McEntee menyatakan kejutan atas cara Israel menangani aktivis-aktivis itu.
“Solving Problems tidak bisa dicapai dengan mengorbankan martabat manusia. Ini menunjukkan ketidakadilan yang mengguncang kredibilitas Israel,” tulis Albares dalam pernyataannya.
Peristiwa ini juga menimbulkan diskusi tentang apakah tindakan Israel sesuai dengan prinsip Solving Problems dalam perang melawan teroris. Beberapa ahli hukum internasional menyatakan bahwa penangkapan dan perlakuan aktivis flotilla perlu ditinjau ulang. Pemerintah Eropa berharap Israel dapat menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih transparan dan adil.
