Berita

Key Strategy: Bukan Cuma Cincin, Batu Bacan Malut Bakal Disulap Jadi Bros-Aksesori Modern

rn Key Strategy yang diterapkan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Maluku Utara (Malut) semakin terlihat dalam upaya mengubah batu bacan dari

Desk Berita
Published Juli 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Batu Bacan Malut Akan Disulap Jadi Aksesori Modern

Key Strategy yang diterapkan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Maluku Utara (Malut) semakin terlihat dalam upaya mengubah batu bacan dari bahan tradisional menjadi aksesori kekinian. Batu bacan, yang selama ini dikenal sebagai bahan utama untuk cincin, kini diharapkan bisa dikembangkan menjadi berbagai produk inovatif, seperti bros dan aksesori fesyen modern. Strategi ini tidak hanya fokus pada perluasan pasar, tetapi juga pada penguatan keterampilan para pengrajin lokal guna menyesuaikan dengan permintaan pasar yang semakin dinamis.

Partnership dengan Bank Indonesia dan Mitra Lain

Key Strategy Dekranasda Malut dilakukan secara kolaboratif, dengan dukungan dari Bank Indonesia (BI) dan berbagai mitra strategis lainnya. Ketua Dekranasda, Rusni Sarbin, menjelaskan bahwa kemitraan ini menjadi kunci dalam mendorong pengrajin lokal untuk mengikuti pelatihan dan pembinaan yang memadai. “Dengan Key Strategy yang kita jalankan, pelaku UMKM bisa meraih peluang baru sekaligus meningkatkan kualitas produk,” kata Rusni kepada detikcom, Jumat (10/7/2026).

Program ini memprioritaskan pengembangan produk batu bacan yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memenuhi standar kualitas modern. Selain BI, pihak Dekranasda juga bekerja sama dengan perusahaan desain lokal dan organisasi seni untuk menyulap batu bacan menjadi aksesori yang bisa bersaing di pasar nasional dan internasional. Rusni menegaskan bahwa Key Strategy ini bertujuan mengangkat potensi ekonomi Malut secara signifikan.

Transformasi Batu Bacan: Dari Tradisional ke Kreatif

Key Strategy dalam transformasi batu bacan Malut melibatkan langkah-langkah terstruktur, termasuk penyuluhan teknik pengerjaan dan penggunaan bahan baku yang lebih efisien. Dengan Key Strategy ini, batu bacan yang awalnya hanya menjadi cincin, kini diberi peluang menjadi bros, kalung, dan aksesori fesyen yang lebih beragam. Rusni menambahkan bahwa inisiatif ini juga mencakup pengembangan desain yang menyesuaikan dengan tren pasar, sehingga produk dapat menarik minat konsumen yang lebih luas.

“Batu bacan memiliki nilai estetika dan keunikan yang bisa dijadikan diferensiasi. Dengan Key Strategy yang kita lakukan, kita tidak hanya menjual produk, tetapi juga menceritakan cerita budaya Malut secara global,” tutur Rusni.

Pelaku UMKM di Malut mulai tertarik untuk ikut serta dalam Key Strategy ini. Pemrosesan batu bacan yang lebih canggih, seperti penggunaan teknik digital dan desain minimalis, dianggap sebagai langkah penting untuk menjaga relevansi produk di tengah persaingan industri kerajinan yang semakin ketat. Rusni menegaskan bahwa Key Strategy ini juga bertujuan memperkuat ekonomi daerah melalui pemberdayaan masyarakat lokal.

Challenge dan Solusi dalam Key Strategy

Pengembangan Key Strategy batu bacan Malut tidak tanpa tantangan. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya akses ke pasar internasional serta keterbatasan sumber daya teknis. Namun, Rusni optimis bahwa kolaborasi dengan BI dan mitra lain bisa membantu mengatasi masalah tersebut. “Key Strategy ini memerlukan kesabaran dan keberlanjutan. Dengan pendekatan sistematis, kita bisa mengubah batu bacan menjadi produk yang lebih diminati,” jelasnya.

Key Strategy juga melibatkan pemanfaatan teknologi digital untuk promosi. Dengan memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce, batu bacan Malut bisa dikenal lebih luas dan menjangkau konsumen di luar daerah. Rusni menekankan bahwa Key Strategy ini bukan sekadar perubahan bentuk produk, tetapi juga perubahan mindset para pengrajin untuk tetap relevan di era globalisasi.

Harapan untuk Masa Depan

Key Strategy Dekranasda Malut diharapkan bisa menjadi contoh bagus dalam penguatan kerajinan daerah. Rusni mengungkapkan bahwa keberhasilan ini akan berdampak pada penerimaan masyarakat terhadap produk lokal. “Key Strategy ini tidak hanya menguntungkan pengrajin, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” imbuhnya.

Dengan Key Strategy yang konsisten, batu bacan Malut berpotensi menjadi salah satu ikon kerajinan nasional yang bisa dikenal hingga ke mancanegara. Rusni juga berharap, Key Strategy ini mendorong munculnya inovasi baru, termasuk penerapan teknik inovatif dalam pengolahan batu bacan. “Kita perlu terus beradaptasi agar produk Malut tetap relevan dan diminati,” pungkasnya.

Leave a Comment