Bamsoet Buka Lomba Asah Keterampilan PERIKHSA, Tekankan Integritas dan Menghadapi Tantangan
Facing Challenges – Dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks, Ketua MPR RI ke-15 dan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), meluncurkan Lomba Penguasaan Keterampilan Senjata Api Beladiri PERIKHSA di Adisutjipto Shooting Range, Yogyakarta. Lomba ini merupakan ajang kelima yang diadakan dalam tahun ini, bertujuan meningkatkan kemampuan teknis dan mental para peserta dalam menghadapi tantangan di dunia nyata. Acara ini juga menegaskan komitmen PERIKHSA untuk membentuk individu yang tidak hanya mahir menggunakan senjata, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab moral.
Upaya Membangun Budaya Penggunaan Senjata yang Aman
Pembukaan lomba dihadiri oleh perwakilan dari berbagai daerah, termasuk provinsi Jawa Tengah, Banten, dan Jambi, yang resmi diberikan pengurus baru. Penetapan pengurus ini bertujuan memperkuat jaringan organisasi ke tingkat daerah, sehingga kegiatan pembinaan bisa lebih merata. Dalam pidatonya, Bamsoet menekankan bahwa setiap pelatihan dalam menghadapi tantangan harus diiringi dengan peningkatan disiplin, kesadaran hukum, dan konsistensi dalam mengikuti prosedur keselamatan.
Menurut Bamsoet, lomba ini menjadi sarana penting dalam membangun budaya penggunaan senjata api yang aman dan profesional. Ia menjelaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi senjata, masyarakat perlu terus dilatih untuk menghadapi tantangan ancaman yang muncul. “Ini bukan sekadar kompetisi tembakan, tetapi juga ajang pembelajaran tentang konsentrasi, kesabaran, dan tanggung jawab,” tambah Bamsoet dalam sambutannya.
Peran PERIKHSA dalam pembinaan keterampilan bela diri tidak hanya terbatas pada latihan teknis, tetapi juga mencakup sertifikasi dan pengawasan internal yang ketat. Bamsoet menegaskan bahwa proses pembelajaran yang berkelanjutan harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika keamanan dan kebutuhan masyarakat. “Dengan menghadapi tantangan, peserta akan lebih siap memperkuat kualitas pendidikan dan kehandalan dalam setiap aktivitas,” jelasnya.
Keterampilan dan Etika dalam Penggunaan Senjata
Lomba ini dirancang untuk menguji kemampuan akurasi tembakan, tetapi juga menyertakan aspek etika dalam penggunaan senjata. Bamsoet menekankan bahwa senjata api bukan sekadar alat pertahanan, tetapi amanah yang harus dijaga dengan integritas. “Semakin baik kemampuan teknis seseorang, semakin besar tanggung jawab moral dan hukumnya dalam menghadapi tantangan,” kata Bamsoet, memberikan penekanan pada pentingnya kepatuhan hukum.
Dalam era di mana ancaman keamanan semakin beragam, seperti gangguan kejahatan dan konflik sosial, PERIKHSA berupaya membekali peserta dengan keterampilan yang komprehensif. Bamsoet menyatakan bahwa lomba ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan kolaborasi dengan aparat penegak hukum, TNI, dan lembaga terkait. “Membangun kemampuan dalam menghadapi tantangan adalah langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan keamanan bersama,” ujarnya.
Peserta lomba yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar, pegawai, dan masyarakat umum, menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka diberi kesempatan untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus memahami pentingnya disiplin dalam penggunaan senjata. Bamsoet menambahkan bahwa lomba ini juga menegaskan bahwa kemajuan teknologi senjata api harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran hukum dan etika, agar tidak terjadi penyalahgunaan.
Lebih lanjut, Bamsoet menyampaikan bahwa PERIKHSA terus memperbarui standar keselamatan dan teknik penembakan guna sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya lomba yang rutin diselenggarakan, ia berharap masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan yang muncul, baik secara pribadi maupun kolektif. “Ini adalah langkah awal untuk menciptakan budaya penggunaan senjata yang aman, profesional, dan beretika,” pungkas Bamsoet.
