Bocah 6 Tahun di Jakpus Korban Bullying, Kesetrum hingga Pingsan – Keluarga Laporkan ke Polisi
Korban Bullying oleh Remaja Sebabkan Kesetrum dan Pingsan
Bocah 6 Tahun di Jakpus Dibully – Seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang tinggal di Kelurahan Kramat, Jakarta Pusat, menjadi korban bullying oleh dua remaja yang berinisial LNG dan RVN. Peristiwa kejam ini terjadi Minggu (7/6) lalu dan mengakibatkan korban kejang-kejang serta pingsan setelah dipaksa mendekati tiang listrik. Kecelakaan tersebut membuat keluarga korban, yang dipimpin oleh neneknya Linda Reselin, mengajukan laporan ke Polres Metro Jakarta Pusat.
Menurut Linda, kejadian terjadi di taman umum Kramat Pulo, tempat korban sering bermain bersama teman-temannya. Dalam rekaman CCTV yang diperoleh warga, terlihat dua remaja mengikat korban dan menariknya ke tiang listrik yang ternyata masih menyala. Korban dibiarkan berdiri di dekat tiang tersebut hingga terkena aliran listrik, menyebabkan kesetrum dan kondisi kritis. “Cucu saya masih takut kalau bertemu orang, bahkan saat berjalan di taman,” katanya.
Detail Peristiwa dan Dampak Psikologis
Kecelakaan yang terjadi pada Minggu (7/6) tersebut menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Berdasarkan laporan dari warga sekitar, korban dipaksa mendekati tiang listrik sejak pagi hari dan dibiarkan terus-menerus hingga kaki kiri korban terkena aliran listrik. Akibatnya, korban mengalami kejang-kejang dan kehilangan kesadaran selama beberapa menit. Kejadian ini menjadi sorotan publik karena melibatkan anak usia 6 tahun yang masih rentan terhadap tekanan psikologis.
Warga setempat, Asep, mengungkapkan bahwa taman yang biasanya ramai dihiasi oleh anak-anak dan keluarga kini ditutup sementara hingga penyebab kebocoran listrik diperbaiki. “Pelaku adalah dua remaja SMA dan SMP yang sering bermain di taman itu, tapi tiba-tiba mereka melakukan tindakan brutal terhadap anak kecil,” ujarnya. Selain itu, Asep menambahkan bahwa beberapa orang tua di sekitar taman mengungkapkan rasa kecewa terhadap kejadian ini, karena bullying yang dilakukan remaja terhadap bocah 6 tahun dinilai cukup memalukan.
Keluarga Berharap Penegak Hukum Tindak Lanjuti
Laporan keluarga korban disampaikan ke Polres Metro Jakarta Pusat dengan harapan kedua pelaku dapat ditahan dan dikenai sanksi hukum. Linda Reselin mengatakan bahwa kondisi korban saat ini telah membaik, namun trauma yang dialami masih terasa. “Kami ingin kejadian ini menjadi pelajaran bagi remaja lainnya, agar tidak meniru tindakan brutal ini,” tuturnya.
Kepolisian sudah melakukan pemeriksaan terhadap dua pelaku dan beberapa saksi mata. Dalam laporan polisi, diperjelas bahwa kejadian ini terjadi di taman Kramat Pulo yang berada di dekat jalan raya. Korban, yang baru saja bersekolah di Taman Kanak-Kanak, diduga menjadi target bullying karena sikapnya yang tertutup atau perbedaan tingkah laku dengan teman-temannya. “Kami sedang mencari bukti lebih lengkap untuk memperkuat laporan ini,” kata salah satu petugas dari Polres Jakarta Pusat.
Kebocoran Listrik Diperbaiki, Pemantauan Terus Dilakukan
Pemeliharaan kebocoran listrik di taman Kramat Pulo telah selesai sejak Senin (8/6). Petugas PLN mengklaim bahwa aliran listrik di area tersebut telah dikontrol dengan baik, dan tidak ada risiko kecelakaan serupa dalam waktu dekat. Namun, taman masih ditutup hingga semua saksi dan bukti terkumpul. “Kami sedang melakukan investigasi untuk mengetahui apakah ada kelalaian dari pihak keamanan taman,” jelas Asep.
Di sisi lain, warga sekitar menyatakan kekecewaan terhadap tindakan bullying yang dilakukan remaja. Mereka mengkritik cara pelaku memperlakukan korban dan menilai bahwa penegak hukum perlu memberikan sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terulang. “Anak kecil itu tidak pernah menyakiti siapa pun, jadi mengapa mereka dipermalukan sampai kesetrum?” tanyanya.
Konteks Bullying di Sekolah dan Lingkungan
Bullying terhadap bocah 6 tahun ini bukanlah kejadian pertama di Jakarta Pusat. Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat laporan serupa dari sekolah-sekolah dasar yang menyebutkan bahwa anak-anak sering menjadi korban sarkasme atau penghinaan dari teman-teman yang lebih besar. Menurut pengamat pendidikan, lingkungan sekolah perlu lebih intens mengawasi interaksi antar siswa, terutama yang melibatkan remaja yang cenderung memperlihatkan sikap dominan.
Di samping itu, warga juga menyoroti perlunya keamanan yang lebih baik di tempat umum seperti taman. “Banyak anak-anak bermain di taman, tapi tidak ada pengawasan cukup,” ujar seorang tetangga. Kecelakaan ini menjadi peringatan bahwa bullying tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga bisa terjadi di lingkungan masyarakat, bahkan sampai mengakibatkan cedera fisik.
Harapan Masyarakat dan Langkah Pemecah Masalah
Peristiwa kesetrum bocah 6 tahun di Jakpus ini memicu perdebatan di media sosial. Banyak netizen mengkritik sikap remaja yang tak peduli terhadap korban dan meminta pihak kepolisian lebih aktif menangani kasus bullying. Sejumlah warga juga mengusulkan agar pihak kelurahan meningkatkan keamanan di area taman dengan menambahkan lampu jalan atau petugas pengawas.
Sebagai langkah preventif, warga sekitar mengungkapkan bahwa mereka telah menyusun tim monitoring untuk mengawasi kegiatan anak-anak di taman. Tim ini bertugas mengidentifikasi potensi bullying dan memberi edukasi kepada remaja tentang pentingnya empati. “Kami ingin membuat lingkungan yang lebih aman untuk anak-anak, terutama yang usian masih kecil,” tambah Linda. Ia juga berharap kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya bullying dan langkah-langkah pencegahannya.
