Berita

Menbud Sebut Permainan Tradisional Bentuk Karakter Anak di Era Digital

Festival bertajuk "Generasi Berani Exploring - Biarkan Mereka Berlari" baru-baru ini menjadi wadah penting bagi generasi muda untuk kembali mengenal permainan

Desk Berita
Published Juli 26, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Mark Williams - wahanaberita.com

Menbud Sebut Permainan Tradisional Bentuk Karakter Anak di Era Digital

Festival Generasi Berani Exploring Hadirkan Permainan Rakyat

Wahanaberita.com – Festival bertajuk “Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari” baru-baru ini menjadi wadah penting bagi generasi muda untuk kembali mengenal permainan tradisional. Acara yang dihadiri oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, ini menghadirkan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dengan Komunitas Hong dalam memamerkan berbagai permainan rakyat kepada anak-anak berusia lima hingga delapan tahun.

Sejumlah permainan rakyat dipamerkan kembali di festival tersebut, mulai dari congklak, bekel, gasing, dam-daman, kelom batok, ular naga, ampar-ampar pisang, cublek-cublek suweng, hingga cing ciripit. Kegiatan ini bertujuan sebagai media pembelajaran dan sekaligus sarana pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus bangsa yang semakin terbiasa dengan dunia digital.

Permainan Tradisional dalam Kerangka Pemajuan Kebudayaan

Fadli Zon menekankan bahwa permainan tradisional merupakan salah satu objek penting dalam Pemajuan Kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Ia menjelaskan bahwa permainan ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang berkontribusi dalam pembentukan karakter anak di tengah perkembangan zaman.

Permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita hidupkan. Di tengah perkembangan teknologi digital, anak-anak tetap memerlukan ruang untuk bermain, berinteraksi, belajar bekerja sama, dan mengenal nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata.

Menurut Fadli, Indonesia memiliki ribuan permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah, mencerminkan keberagaman budaya bangsa. Kekayaan tersebut perlu didokumentasikan, dilestarikan, dan diperkenalkan kembali melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Kementerian Kebudayaan saat ini sedang menyusun berbagai langkah untuk mendokumentasikan, meregistrasi, serta memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada masyarakat. Salah satu rencana yang sedang dikembangkan adalah pembangunan museum permainan tradisional Indonesia. Kolaborasi yang dilakukan hari ini menjadi langkah penting agar anak-anak kembali akrab dengan permainan yang membentuk karakter, kejujuran, kebersamaan, dan semangat gotong royong.

Perlindungan Anak di Ruang Digital dan Pengalaman Nyata

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyampaikan bahwa perlindungan anak di ruang digital harus berjalan beriringan dengan penyediaan ruang bagi anak untuk memperoleh pengalaman nyata melalui aktivitas bermain. Pendekatan ini penting untuk menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas fisik.

Kita ingin menghadirkan generasi yang tumbuh melalui pengalaman, bukan hanya dari layar digital. Karena itu, perlindungan di ruang digital harus dibarengi dengan semakin banyak kesempatan bagi anak-anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya lokal yang menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, diluncurkan Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga. Buku ini disusun secara kolaboratif bersama komunitas orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, dan pemerhati tumbuh kembang anak. Isinya beragam inspirasi aktivitas yang dapat dilakukan bersama keluarga sebagai alternatif kegiatan positif di luar paparan layar digital.

Festival Mendukung Implementasi PP TUNAS

Penyelenggaraan festival ini menggunakan pendekatan yang edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi digital dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial yang menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter anak.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Betadine Indonesia ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, tenaga kesehatan, pendidik, dan keluarga. Tujuannya adalah menghadirkan ruang bermain yang sehat bagi anak sekaligus memperkuat perlindungan anak di era digital melalui pendekatan budaya.

Festival ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional. Upaya menghidupkan kembali permainan tradisional bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang berkarakter, kreatif, tangguh, serta memiliki kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Leave a Comment