Berita

Analisis BMKG soal Gempa M 5,2 di Pangandaran Terasa hingga Sukabumi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis analisis BMKG soal Gempa M 5,2 yang terjadi di wilayah Pangandaran, Jawa Barat. Guncangan

Desk Berita
Published Agustus 6, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Mark Williams - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Analisis BMKG soal Gempa M 5,2 di Pangandaran: Detail Lengkap dan Dampaknya
  2. Related Reading

Analisis BMKG soal Gempa M 5,2 di Pangandaran: Detail Lengkap dan Dampaknya

Wahanaberita.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis analisis BMKG soal Gempa M 5,2 yang terjadi di wilayah Pangandaran, Jawa Barat. Guncangan dengan magnitudo 5,2 ini tercatat cukup kuat dan mampu dirasakan hingga ke wilayah Sukabumi yang berjarak relatif jauh dari episenter. Peristiwa seismik ini menjadi perhatian masyarakat karena intensitas getarannya yang terasa di berbagai daerah di Jawa Barat.

Berdasarkan data resmi yang dirilis BMKG, gempa bumi ini terjadi pada pukul 21.55 WIB hari Rabu, tanggal 5 Agustus. Parameter-parameter penting telah diperbarui oleh tim ahli BMKG, termasuk kedalaman hiposenter yang berada pada level 14 kilometer dari permukaan bumi. Kedalaman ini mengindikasikan bahwa gempa termasuk dalam kategori gempa dangkal yang umumnya lebih terasa di permukaan.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8.17° LS; 107.86° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 87 Km arah barat daya Pangandaran, Jawa Barat. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami, ujar Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.

Wijayanto menjelaskan lebih lanjut bahwa berdasarkan analisis lokasi episenter serta kedalaman hiposenter, kejadian ini dikategorikan sebagai gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas pada sesar aktif. Lebih lanjut, mekanisme sumber gempa mengindikasikan adanya pergerakan jenis geser naik atau oblique-thrust fault. Mekanisme ini menunjukkan adanya kompresi dan pergerakan vertikal pada lempeng tektonik di wilayah tersebut.

Sebaran Getaran di Berbagai Wilayah Jawa Barat

Laporan BMKG mengungkap bahwa intensitas getaran bervariasi di beberapa daerah di Jawa Barat. Di Kabupaten Bandung, skala III MMI tercatat di sejumlah kecamatan seperti Kertasari, Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, Arjasari, Nagrak, serta Solokanjeruk. Skala III MMI berarti getaran terasa seperti truk berat lewat dan benda-benda ringan mulai bergoyang.

Sementara itu, wilayah Soreang, Sukabumi (baik kabupaten maupun kota), Pangalengan, dan Ciwidey mengalami getaran dengan skala II hingga III MMI. Untuk daerah Sumedang, Parongpong, Cihanjuang, Ngamprah, Lembang, dan Pelabuhan Ratu, intensitas tercatat pada skala II MMI yang berarti getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang dengan benda-benda ringan yang digantung mulai bergoyang.

BMKG juga mencatat bahwa masyarakat di wilayah pesisir selatan Jawa Barat, termasuk Pangandaran sendiri, merasakan guncangan dengan intensitas yang lebih kuat dibandingkan wilayah-wilayah lainnya. Hal ini sesuai dengan jarak relatif yang lebih dekat dari episenter gempa.

Aftershock dan Langkah Pencegahan

Hingga pukul 22.30 WIB, hasil pemantauan BMKG mencatat satu kali aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo sebesar 2,2. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas seismik masih berlangsung namun dalam tingkat yang lebih rendah. BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan aktivitas seismik dan memberikan informasi terkini kepada publik melalui berbagai saluran komunikasi resmi.

Sebagai langkah pencegahan, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, warga disarankan untuk menjauhi bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat guncangan gempa. Masyarakat juga diminta untuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar seperti air, makanan, obat-obatan, dan senter.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai aktivitas seismik di Indonesia, pembaca dapat mengunjungi halaman berita gempa bumi terbaru di situs resmi detik.com. BMKG juga menyediakan aplikasi mobile yang memungkinkan masyarakat menerima notifikasi real-time ketika terjadi gempa bumi di wilayah mereka.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa itu gempa dangkal dan bagaimana bedanya dengan gempa dalam?

Gempa dangkal adalah gempa yang hiposenter-nya berada pada kedalaman kurang dari 70 kilometer dari permukaan bumi. Gempa dangkal umumnya lebih terasa di permukaan dibandingkan gempa dalam karena jaraknya yang lebih dekat dengan permukaan. Gempa dangkal juga cenderung memiliki dampak yang lebih luas pada bangunan dan infrastruktur di permukaan.

Apakah gempa M 5,2 di Pangandaran berpotensi menimbulkan tsunami?

Berdasarkan analisis BMKG, gempa M 5,2 di Pangandaran tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hal ini disebabkan oleh kedalaman hiposenter yang relatif dangkal dan mekanisme sumber gempa yang tidak menghasilkan perpindahan air laut secara signifikan. Namun, masyarakat tetap disarankan untuk waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Berapa lama BMKG biasanya memantau aktivitas gempa setelah kejadian utama?

BMKG biasanya memantau aktivitas gempa selama beberapa hari hingga minggu setelah kejadian utama, tergantung pada intensitas dan frekuensi aftershock. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada gempa susulan yang lebih besar dan untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Bagaimana cara mengetahui intensitas getaran gempa di wilayah saya?

Intensitas getaran gempa dapat diketahui melalui skala MMI (Modified Mercalli Intensity) yang diukur berdasarkan dampaknya terhadap manusia, bangunan, dan benda-benda di sekitar. BMKG merilis laporan intensitas getaran untuk berbagai wilayah setelah setiap kejadian gempa signifikan. Masyarakat juga dapat melaporkan pengalaman mereka melalui aplikasi atau saluran komunikasi resmi BMKG.

Leave a Comment