Iyung Cerita Pisau Jagal Diasah 2 Jam demi Sekali Sembelih Hewan Kurban
Iyung Cerita Pisau Jagal Diasah 2 Jam – Dalam menjalankan tugasnya sebagai jagal hewan kurban, Iyung mengungkapkan betapa pentingnya mempersiapkan alat kerja secara matang. Menurut Iyung, pisau jagal yang tajam dan rapi tidak hanya memudahkan proses sembelihan, tetapi juga menjamin keamanan dan keakuratan saat melaksanakan ritual. Khususnya untuk memastikan bahwa setiap hewan kurban dapat disembelih dengan cepat dan sempurna, Iyung menghabiskan waktu hingga dua jam untuk diasah pisau sebelum digunakan.
Persiapan yang Mendalam
Iyung menegaskan bahwa proses diasah pisau jagal adalah langkah kritis dalam menghadapi tugas sembelihan. “Diasahnya 2 jam,” kata Iyung saat ditemui di gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (27/5/2026). Ia menjelaskan bahwa waktu yang cukup lama itu diperlukan agar pisau tetap dalam kondisi terbaik, terutama untuk menghadapi berbagai jenis hewan yang disembelih, seperti sapi, kambing, atau domba.
Berdasarkan pengalamannya, Iyung menyatakan bahwa kecermatan dalam merawat pisau tidak bisa dipandang remeh. “Kalau motong itu pisaunya mesti tahu, mesti tajam. Jangan pisaunya ecek-ecek,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pisau yang tidak tajam dapat menyebabkan kesulitan selama proses sembelihan, seperti memperpanjang waktu pemotongan atau merusak daging yang terkena.
Teknik dan Keterampilan dalam Diasah Pisau Jagal
Mengasah pisau jagal bukanlah tugas yang bisa dilakukan secara acak. Iyung menjelaskan bahwa terdapat metode khusus yang harus diperhatikan, termasuk arah urat dan alur mata pisau. “Kalau asah pisau nih, kalau uratnya kemari-kemari, dari kanan begitu. Kalau dia begini, macet di sininya,” tambahnya sambil memperagakan langkah-langkah asahan yang diperlukan. Teknik ini dianggap sangat vital agar pisau tidak hanya tajam, tetapi juga mempercepat proses sembelihan.
Pisau yang digunakan Iyung tidak sembarang alat. Alat kerjanya tersebut diwariskan dari keluarga dan telah menjadi bagian dari kebiasaan turun-temurun. “Ini bapak saya,” ujarnya sambil memperlihatkan pisau jagalnya. Ia menjelaskan bahwa perawatan alat ini membutuhkan keahlian khusus, mulai dari pemilihan bahan hingga cara diasah yang benar. Proses ini juga melibatkan kehati-hatian untuk menghindari kerusakan pada pisau yang bisa memengaruhi kualitas hasil sembelihan.
Profesi jagal telah menjadi bagian dari hidup Iyung sejak usia 17 tahun. Hingga kini, di usia 64 tahun, ia tetap aktif dan percaya diri dalam menjalani tugas tersebut. “Umur saya udah 64. Saya motong dari umur 17 tahun,” tambuhnya. Dengan pengalaman yang panjang, Iyung memahami betapa pentingnya konsistensi dalam memperbaiki alat, termasuk memastikan pisau jagal diasah dua jam sebelum digunakan.
Usia yang cukup panjang membuat Iyung sering dipercaya melakukan tugas sembelihan, termasuk pada Idul Adha tahun ini. Dari pagi hingga siang, ia berkeliaran di berbagai lokasi dan menyembelih puluhan ekor sapi. “Udah pertama 8 terus 5, 7. Oh, 20-an lah ya,” ujarnya. Setiap hari, Iyung memperlihatkan kompetensinya dalam memanage waktu dan konsentrasi agar proses sembelihan berjalan lancar.
Menurut Iyung, keberhasilan dalam profesi jagal bergantung pada kombinasi antara keahlian dan keteraturan. “Berhati-hatilah, jangan terlalu sombong. Jangan anggap sapi itu nggak berani ngelawan kita,” tambuhnya. Ia menekankan bahwa hewan kurban memiliki kekuatan dan perlu dihormati selama proses sembelihan. Dengan pisau yang diasah dua jam, Iyung dapat melaksanakan tugasnya secara efisien dan menghindari risiko kesalahan yang bisa memengaruhi keberhasilan ritual.
