Berita

Historic Moment: Polda Metro Tekankan Pelayanan Aksi Humanis, Anggota Tak Dibekali Senpi

Polda Metro Jaya Prioritaskan Pelayanan Humanis dalam Aksi Demonstrasi Historic Moment yang mencolok terjadi saat Polda Metro Jaya menggelar apel gabungan

Desk Berita
Published Juni 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Polda Metro Jaya Prioritaskan Pelayanan Humanis dalam Aksi Demonstrasi

Historic Moment yang mencolok terjadi saat Polda Metro Jaya menggelar apel gabungan untuk mengamankan kunjungan Presiden Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Istana Negara serta menghadapi aksi demonstrasi oleh mahasiswa. Dalam acara tersebut, polisi menegaskan pendekatan humanis sebagai prinsip utama, dengan personel tidak dibekali senjata api untuk meminimalkan risiko konflik dan menunjukkan komitmen pada keterbukaan serta kepercayaan publik.

Pendekatan Humanis sebagai Prioritas

Dalam apel yang dipimpin oleh Kombes Pol Joko Sulistio, Direktur Pengamanan Objek Vital Polda Metro Jaya, pesan utama ditekankan pada sikap polisi yang bersikap ramah, terukur, dan penuh empati. “Yang pertama, laksanakan tugas secara humanis dan terukur. Jangan mudah terpancing emosi, hadapi dengan sabar, tenang, dan proporsional. Ingat betul bahwa penegakan hukum adalah langkah terakhir,” ujar Joko di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Kombes Pol Joko Sulistio menjelaskan bahwa kesiapan personel diarahkan untuk menghindari kekerasan serta menjaga harmoni antara pihak kepolisian dan peserta aksi. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah, sehingga masyarakat merasa didengar dan dihargai. Pendekatan ini dianggap sebagai contoh baru dalam sejarah pengamanan aksi besar di Jakarta, yang menjadi historic moment penting dalam perubahan cara polisi menjalankan tugas.

Strategi Pengamanan yang Terukur

Dalam sesi kedua, Joko Sulistio mengingatkan bahwa seluruh anggota tidak dilengkapi senjata api. “Ini adalah langkah untuk memastikan keamanan dan ketenangan berjalan bersamaan dengan pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat,” kata direktur pengamanan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan oleh Propam akan memastikan setiap personel memahami aturan serta menjaga sikap saat bertugas.

Kombes Pol Joko Sulistio menyebutkan bahwa pengamanan dilakukan secara terpadu, mencakup jalur VIP Presiden Jerman yang meliputi Halim Perdanakusuma, Sudirman, Gatot Subroto, hingga Asia Afrika dan TVRI. Keberadaan personel dari berbagai satuan TNI-Polri menjadi penekanan untuk menjaga konsistensi dalam menangani aksi demonstrasi. Ini merupakan langkah strategis yang diharapkan mampu mengurangi ketegangan dan membangun kemitraan antara polisi dengan masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi historic moment dalam penyelenggaraan apel ini adalah penggunaan pelayanan humanis sebagai pengganti kekuatan tindakan keras. Pendekatan ini diharapkan bisa menciptakan suasana yang lebih kondusif, sehingga aksi mahasiswa bisa berjalan lancar tanpa mengganggu keharmonisan di jalanan Jakarta. Joko Sulistio juga mengingatkan bahwa keberhasilan aksi ini bergantung pada koordinasi yang baik antarinstansi serta kesadaran personel dalam menjaga emosi.

Kesiapan untuk Penyampaian Aspirasi

Budi Hermanto dari Bidang Humas Polda Metro Jaya menambahkan bahwa pihaknya bersama Kodam Jaya mengirimkan total 3.588 personel TNI-Polri untuk mengawal berbagai aksi demonstrasi. “Ini adalah historic moment di mana polisi berupaya lebih keras dalam menjaga keamanan masyarakat yang tidak terlibat dalam aksi,” ujarnya.

Komando tersebut menggarisbawahi bahwa pengamanan tidak hanya fokus pada tindakan represif, tetapi juga pada penyampaian aspirasi secara terbuka. Budi mengatakan bahwa personel yang diterjunkan mencakup dari Dishub, Satpol PP, dan polres penyangga, sehingga bisa meliputi berbagai aspek seperti pengaturan lalu lintas dan penegakan peraturan daerah. Dengan kombinasi antara kekuatan dan keterbukaan, Polda Metro Jaya ingin menunjukkan bahwa polisi bisa menjadi mitra dalam menyuarakan keinginan masyarakat.

Dalam rangka mengamankan empat titik utama aksi, pihak kepolisian melakukan pengawasan intensif. Titik-titik tersebut meliputi Gedung DPR/MPR RI, area Silang Monas, Bundaran HI, Dukuh Atas, serta kantor BGN Republik Indonesia. “Pelayanan humanis ini menjadi bahan evaluasi terhadap sejarah pengamanan aksi di Jakarta,” kata Budi, yang menambahkan bahwa kebijakan ini bisa dijadikan referensi untuk aksi masa depan.

Historic Moment ini juga mencerminkan transformasi kinerja kepolisian dalam menghadapi situasi yang dinamis. Dengan tidak menggunakan senjata api secara langsung, polisi berharap masyarakat bisa melihat bahwa tugas pengamanan tidak selalu identik dengan kekerasan. Kombes Pol Joko Sulistio menegaskan bahwa keberhasilan aksi demonstrasi ini bukan hanya soal kuantitas personel, tetapi juga kualitas tindakan mereka dalam menjaga rasa aman dan nyaman bagi semua pihak.

Leave a Comment