Berita

Main Agenda: DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying di SRMA 13 Bekasi

DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying di SRMA 13 Bekasi Main Agenda - Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan, Main

Desk Berita
Published Mei 12, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying di SRMA 13 Bekasi

Main Agenda – Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan, Main Agenda Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial Republik Indonesia mengadakan kampanye anti bullying di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi. Acara ini bertujuan menggali kesadaran pelajar akan pentingnya sikap empati dan tanggung jawab dalam mengurangi kekerasan terhadap teman sebaya. Dengan mengintegrasikan pendekatan edukatif dan partisipatif, Main Agenda memastikan pesan anti bullying diterima secara luas oleh seluruh komunitas sekolah.

Pengembangan Karakter Melalui Aktivitas Kolaboratif

Kampanye yang diinisiasi oleh Main Agenda DWP Kemensos ini menjadi bagian dari upaya sistemik dalam membangun karakter generasi muda. Selain itu, kegiatan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendekatan holistik, Main Agenda mengharapkan peningkatan lingkungan belajar yang sehat dan inklusif. Peserta acara, yang terdiri dari hampir 200 siswa, turut aktif dalam berbagai sesi yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak psikologis bullying.

Dalam rangkaian acara, para pelajar menampilkan tarian tradisional yang mencerminkan kehangatan dan kebersamaan. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pidato dalam tiga bahasa, yaitu Inggris, Arab, dan Jepang, sebagai bentuk perwujudan keberagaman di lingkungan belajar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Main Agenda tidak hanya fokus pada satu aspek, tetapi mencakup berbagai dimensi untuk membangun kesadaran emosional dan sosial siswa.

Peran Sekolah dalam Mewujudkan Lingkungan Aman

Wakil Ketua II DWP Kemensos, Evi Agus Zainal, mengungkapkan bahwa Main Agenda ini adalah respons terhadap tingginya kasus bullying di berbagai tingkatan sekolah. “Bullying saat ini sering menjadi penghalang bagi pertumbuhan mental dan sosial anak-anak. Dengan kegiatan ini, kita berharap mereka bisa lebih paham dampaknya dan mampu mengambil tindakan untuk mencegahnya,” jelas Evi dalam pernyataan tertulis, Senin (11/5/2026).

Sebaliknya, Penasihat DWP Kemensos, Fatma Saifullah Yusuf, menekankan pentingnya peran sekolah dalam mendukung pelajar menjadi pelopor perubahan. “Main Agenda ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga membangun kebiasaan baik melalui interaksi langsung dengan guru dan kepala sekolah,” tambahnya. Kepala Sekolah SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, juga menyatakan bahwa lembaga tersebut terus berupaya menciptakan suasana belajar yang positif, termasuk melalui 14 ekstrakurikuler yang dirancang untuk melatih keterampilan sosial siswa.

Kegiatan Interaktif untuk Membentuk Emosi Positif

Salah satu elemen utama Main Agenda adalah sesi role play yang dipandu oleh Ginanjar Maulana, seorang trainer dan motivator. Metode ini membantu siswa memahami peran sebagai korban, pelaku, atau saksi dalam situasi bullying. Selain itu, pembacaan deklarasi anti perundungan menjadi simbol komitmen peserta untuk menolak tindakan merendahkan dan menyebarkan pesan positif.

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh Fatma Saifullah Yusuf, Direktur Anak, Kepala Sentra Terpadu, serta perwakilan sekolah. “Main Agenda ini berupaya mengubah pola pikir masyarakat terhadap bullying dengan pendekatan menyenangkan dan menyentuh,” ujar salah satu peserta. Dengan integrasi antara pendidikan formal dan kegiatan ekstra, Main Agenda bertujuan menghasilkan lingkungan belajar yang lebih empatik dan kearifan lokal.

Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Bantuan Sosial

Di samping sosialisasi, Main Agenda juga menyisipkan penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) kepada lima penerima manfaat. Kursi roda, serta perlengkapan lainnya, diberikan kepada Eko Yulianto (28) dari Bekasi, Fao (48) dari Bandung, Wilson (33) dari Bekasi, Chelsea (9) dari Ternate yang memiliki kondisi jantung bocor, dan Rosada, seorang lansia. Bantuan ini menjadi bukti bahwa Main Agenda tidak hanya berfokus pada pemecahan masalah bullying, tetapi juga memperhatikan kebutuhan fisik pelajar yang kurang terlayani.

Peserta acara seperti Alma menyatakan bahwa Main Agenda memberinya wawasan baru tentang cara mengatasi perundungan. “Dengan praktek langsung, saya bisa merasakan bagaimana tidak nyamannya menjadi korban, dan kini lebih siap untuk menghentikannya bersama teman sebaya,” kata Alma. Keberhasilan Main Agenda di SRMA 13 Bekasi menjadi contoh bagaimana inisiatif lokal dapat berkontribusi pada perubahan nasional dalam bidang pendidikan.

Leave a Comment