Melindungi Tuah Marwah

Lahan Gambut 969 Hektare Padam, Drone Diturunkan Pantau Kerumutan

Setelah hampir tiga puluh hari operasi pemadaman tanpa henti, kebakaran yang melahap 969,6 hektare lahan gambut di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan

Desk Melindungi Tuah Marwah
Published September 2, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments
pendinginan-kebakaran-di-kerumutan-pelalawan-1788275797558_169
Foto : Jennifer Jackson - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Sebulan Bertarung Melawan Api, Lahan Gambut Kerumutan Akhirnya Padam
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Sebulan Bertarung Melawan Api, Lahan Gambut Kerumutan Akhirnya Padam

Wahanaberita.com – Setelah hampir tiga puluh hari operasi pemadaman tanpa henti, kebakaran yang melahap 969,6 hektare lahan gambut di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, akhirnya dinyatakan padam. Capaian ini diraih pada Minggu, 30 Agustus 2026, berkat pengerahan personel gabungan dari berbagai instansi dan sektor swasta. Meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan, pihak berwenang menegaskan bahwa fase berikutnya—pendinginan dan pemantauan—sama krusialnya dengan pemadaman itu sendiri.

Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Dipadamkan

Lahan gambut menyimpan karakteristik unik yang membedakannya dari kebakaran hutan konvensional. Gambut merupakan lapisan tanah organik yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Ketika terbakar, api tidak hanya menyala di permukaan, melainkan merambat ke dalam lapisan tanah hingga kedalaman beberapa meter. Akibatnya, meskipun kobaran api tampak sudah hilang, bara panas dapat bertahan di bawah permukaan selama berminggu-minggu dan sewaktu-waktu menyala kembali, terutama ketika cuaca kering dan angin kencang melanda.

Kondisi inilah yang membuat operasi di Kerumutan berlangsung selama sebulan penuh. Titik kebakaran pertama tercatat pada 29 Juli 2026, dan sejak saat itu tim di lapangan bekerja dalam rotasi bergantian untuk mencegah api menjalar ke area gambut yang lebih luas. Pelalawan sendiri merupakan salah satu kabupaten dengan luasan gambut signifikan di Riau, sehingga setiap insiden kebakaran di wilayah ini berpotensi memicu kabut asap lintas provinsi.

Peran Drone dalam Pemantauan Pasca-Pemadaman

Meskipun kobaran api telah padam, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara menegaskan bahwa pengawasan tidak boleh kendor. Setiap hari, unit pemantauan udara berupa drone diterbangkan di atas bekas lokasi kebakaran untuk mendeteksi titik panas yang mungkin masih tersisa di bawah permukaan gambut.

“Pemantauan kami terus lakukan dengan menggunakan drone setiap hari, sesuai perintah Pak Kapolda.”

Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa, 1 September 2026. Penggunaan drone dipilih karena memungkinkan peninjauan area yang luas secara cepat dan berulang tanpa membebani personel di lapangan. Citra termal yang dihasilkan mampu mengidentifikasi anomali suhu yang tidak terlihat oleh mata telanjang, sehingga petugas dapat menindaklanjuti titik-titik rawan sebelum bara tersebut berkembang menjadi kebakaran baru.

Ancaman Super El Niño di September

Keputusan untuk memperketat pemantauan tidak terlepas dari prakiraan iklim. Memasuki September 2026, puncak fenomena Super El Niño diprediksi akan memengaruhi wilayah Sumatera bagian timur. El Niño secara historis memperpanjang musim kering, menurunkan curah hujan di bawah normal, dan meningkatkan suhu udara—kombinasi kondisi yang sangat menguntungkan bagi penyalaan ulang lahan gambut.

Kapolda Riau telah memberikan peringatan agar seluruh jajaran di tingkat kabupaten dan kecamatan tidak lengah. Kewaspadaan tingkat tinggi diminta agar setiap titik hotspot yang terdeteksi dapat ditangani dalam waktu singkat, sebelum api sempat menjalar ke area gambut yang belum terbakar.

Pendinginan: Langkah yang Sering Diabaikan

Setelah pemadaman utama selesai pada akhir Agustus, petugas gabungan beralih ke fase pendinginan. Proses ini melibatkan penyiraman intensif terhadap bagian-bagian lahan yang dinilai masih menyimpan panas di dalam lapisan gambut. Tujuannya sederhana namun vital: memastikan tidak ada bara terpendam yang dapat menjadi sumber api susulan.

Pendinginan tidak dilakukan secara seragam di seluruh area. Petugas memprioritaskan zona yang secara topografis dan hidrologis paling rentan, seperti tepian kanal, area dengan ketebalan gambut tipis, atau titik yang sebelumnya menunjukkan intensitas api tinggi. Dengan pendekatan yang terarah, sumber daya air dan tenaga personel dapat dialokasikan secara efisien.

Operasi 24 Jam Tanpa Jeda

AKBP John Louis Letedara menjelaskan bahwa Tim Terpadu Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan menjalankan skema kerja dua puluh empat jam nonstop selama masa pemadaman. Tidak ada pembagian shift yang memberi ruang bagi personel untuk meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam.

“Meski hari libur, tidak ada alasan bagi personel untuk pulang sebelum api padam.”

Komitmen ini melibatkan berbagai unsur: personel Polri dan TNI, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), anggota Manggala Agni, relawan Masyarakat Peduli Api, serta tenaga dari perusahaan pemegang konsesi di sekitar lokasi. Kerja sama lintas sektor ini memungkinkan rotasi personel yang berkelanjutan sehingga tidak ada jeda waktu di mana api dapat berkembang tanpa pengawasan.

Implikasi bagi Lingkungan dan Masyarakat Sekitar

Kebakaran gambut berskala ratusan hektare tidak hanya mengancam ekosistem lokal, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas udara yang dihirup oleh warga di Pelalawan dan kabupaten-kabupaten tetangga. Asap dari pembakaran gambut mengandung partikel halus dan gas beracun yang dapat memperburuk penyakit pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Keberhasilan memadamkan kebakaran di Kerumutan sebelum puncak El Niño tiba menjadi langkah preventif yang signifikan. Namun, pengalaman sebulan terakhir juga menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan infrastruktur pemadaman—mulai dari ketersediaan air, akses jalan ke titik api, hingga kapasitas drone pemantau—harus terus ditingkatkan agar respons di masa depan lebih cepat dan efektif. Sinergi antar-lembaga yang terbukti berhasil di Kerumutan diharapkan menjadi model operasional yang dapat direplikasi di kawasan gambut lain di Riau maupun di tingkat nasional.

Frequently Asked Questions

What is Lahan Gambut 969 Hektare Padam Drone?

Lahan Gambut 969 Hektare Padam Drone is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Lahan Gambut 969 Hektare Padam Drone matter?

Lahan Gambut 969 Hektare Padam Drone matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment