Amerika Serikat Menimbang Ancaman Serangan Drone dari Kuba
AS Pertimbangkan Ancaman Serangan Drone – Amerika Serikat Pertimbangkan Ancaman Serangan Drone – Mengutip laporan AFP yang diterbitkan pada Senin (18/5/2026), pemerintah AS dikabarkan sedang mengembangkan strategi untuk membenarkan tindakan militer terhadap Kuba, yang saat ini dipimpin oleh pemerintahan komunis. Menurut sumber dari Departemen Luar Negeri AS, ancaman ini berkaitan erat dengan kemajuan teknologi drone dan kehadiran penasihat militer Iran di Havana.
Ancaman Drone dan Kekhawatiran Militer AS
AS Pertimbangkan Ancaman Serangan Drone yang semakin menjadi perhatian global. Pejabat senior AS mengungkapkan bahwa kuban telah mengakuisisi drone serang dari Rusia dan Iran sejak 2023, dan kini sedang berusaha memperoleh lebih banyak senjata udara ini. Menurut laporan, kekhawatiran utama pemerintah AS terletak pada kemampuan drone untuk melaksanakan operasi rahasia, termasuk pengintaian atau serangan teroris terhadap wilayah strategis.
“Dengan kemajuan teknologi yang pesat, drone kini bisa menjadi alat ampuh bagi negara-negara berkepentingan untuk menyerang tanpa terdeteksi,” ujar seorang pejabat AS kepada media. Dalam beberapa tahun terakhir, drone telah digunakan dalam konflik seperti di Suriah dan Yaman, menunjukkan potensi ancaman yang bisa diaplikasikan ke Kuba.
Kuba dianggap telah mendapatkan drone serang dari Rusia dan Iran sejak 2023, dan kini berusaha memperluas penggunaannya. Menurut sumber dari Departemen Luar Negeri AS, ancaman ini memperkuat kebutuhan AS untuk membangun alasan militer. Selain itu, penggunaan drone oleh negara-negara seperti Iran dan Rusia dianggap sebagai indikasi kekuatan militer yang bisa menimbulkan risiko bagi keamanan AS.
Respon Kuba dan Konteks Politik
Kuba dengan tegas menolak tuduhan serangan drone dari AS, menyebut pemerintah Amerika sebagai pihak yang membangun alasan untuk agresi. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernandez de Cossio mengatakan bahwa negara itu hanya berusaha mempertahankan keamanan negara, sementara AS berupaya menimbulkan kesan serangan tanpa dasar.
“Kami bersikap defensif, bukan agresif. Serangan drone yang dikhawatirkan AS justru menunjukkan ketidakpercayaan mereka terhadap kemampuan Kuba melindungi wilayah sendiri,” kata Fernandez de Cossio dalam wawancara di platform X. Pernyataan ini menyoroti ketegangan antara dua negara yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Kuban juga memperlihatkan kritik terhadap laporan tersebut, menekankan bahwa negara itu tidak melakukan tindakan serangan, tetapi justru melindungi rakyatnya dari ancaman eksternal. Dalam konteks politik, Kuba menjadi pusat perhatian karena keberadaan komunitas pengasingan di Florida, yang selama ini menjadi basis aktivis anti-Kuba.
Selama beberapa dekade, hubungan AS-Kuba dipenuhi oleh perselisihan diplomatik, sanksi ekonomi, dan intervensi militer. Pemadaman listrik yang terjadi di Kuba akibat blokade bahan bakar yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump menjadi bukti kekacauan yang terus berlangsung. Situasi ini, dianggap sebagai bagian dari upaya AS untuk memperkuat alasan serangan drone terhadap Kuba.
Direktur CIA John Ratcliffe, yang baru saja berkunjung ke Havana, menambahkan bahwa penggunaan drone bisa menjadi senjata efektif dalam operasi rahasia. Dalam wawancara eksklusif kepada Axios, pejabat CIA yang tidak disebutkan nama mengungkapkan bahwa AS berharap Kuba menjadi target berikutnya setelah keberhasilan menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
