Dw

Selat Hormuz Terancam, Negara Teluk Berebut Jalur Alternatif

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan penting pada Senin (10/8) bahwa kekuatan laut negaranya telah berhasil menguasai Selat Hormuz

Desk Dw
Published Agustus 13, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
hormuz-terancam-negara-teluk-berebut-jalur-alternatif-1786614336142
Foto : Mary Anderson - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Negara Teluk Persia Berebut Jalur Pengiriman Minyak di Tengah Ancaman Selat Hormuz
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Negara Teluk Persia Berebut Jalur Pengiriman Minyak di Tengah Ancaman Selat Hormuz

Wahanaberita.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan penting pada Senin (10/8) bahwa kekuatan laut negaranya telah berhasil menguasai Selat Hormuz. Saat ditemui wartawan di Gedung Putih, ia menegaskan bahwa operasi pembersihan ranjau laut telah diselesaikan di seluruh wilayah selat tersebut.

“Kami telah menyapu ranjau di seluruh selat,” ujar Trump.

Ketegangan selama berbulan-bulan di kawasan perairan strategis ini telah memaksa berbagai negara pengekspor energi untuk mencari rute pelayaran alternatif. Sebelumnya, pejabat Iran menyatakan bahwa jalur tersebut tidak akan dibuka kembali kecuali Washington memenuhi syarat-syarat dalam kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani pada bulan Juni serta memberikan kompensasi atas pelanggaran yang dituduhkan.

Kawasan perairan sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini memegang peranan vital dalam perdagangan minyak dunia. Sebelum konflik berskala besar terjadi, sekitar seperlima dari total ekspor minyak mentah global yang berasal dari Teluk Persia mengalir melalui jalur ini menuju konsumen di benua Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

Arab Saudi Menunjukkan Kapasitas Rute Alternatif

Ketika perang antara AS dan Iran semakin mengkhawatirkan, jalur pelayaran melalui Laut Merah menjadi semakin krusial. Kerajaan Arab Saudi memanfaatkan East-West Pipeline untuk mengalirkan minyak mentah dari ladang-ladang di wilayah timur menuju pelabuhan Yanbu yang terletak di tepi Laut Merah. Sistem ini memungkinkan kerajaan tersebut melanjutkan pengiriman ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Data dari platform PortWatch yang dikelola Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat perubahan signifikan dalam pola pengiriman. Pada bulan April dan Mei, volume kargo yang datang ke Arab Saudi dari kawasan Teluk menurun drastis dari 47,5 juta ton menjadi hanya 6,3 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, ekspor melalui rute Laut Merah justru melonjak dari 29,6 juta ton menjadi 54,8 juta ton dalam periode yang sama. Kenaikan sebesar 25,2 juta ton tersebut berhasil menutupi sekitar 61% dari volume yang hilang akibat gangguan di Teluk Persia.

Perkembangan ini membuktikan bahwa East-West Pipeline bukan hanya jalur darurat, melainkan infrastruktur strategis untuk menjaga stabilitas aliran minyak Arab Saudi selama Selat Hormuz ditutup.

Di sisi lain, kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang mendapat dukungan Iran baru-baru ini mengumumkan rencana blokade maritim terhadap Arab Saudi. Namun, dampak langsung dari pernyataan tersebut belum terlihat jelas.

UAE Hadapi Tantangan Kapasitas dan Risiko

Sementara Arab Saudi menunjukkan kemampuan alternatifnya, Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Meskipun memiliki pelabuhan dan jaringan pipa yang dirancang khusus untuk tujuan ini, keberhasilan UEA masih terbatas.

Secara teoritis, UEA telah menyiapkan infrastruktur yang memadai. ADCOP mengangkut minyak mentah dari Habshan di Abu Dhabi menuju Fujairah di Teluk Oman, melewati Selat Hormuz. Selain itu, Fujairah dan Khor Fakkan memiliki fasilitas pelabuhan dalam yang besar di pesisir timur.

Namun, lokasi pelabuhan-pelabuhan tersebut yang masih relatif dekat dengan Iran membuatnya rentan terhadap serangan drone dan rudal. Selama pertempuran berlangsung, pelabuhan Fujairah mengalami serangan, begitu pula dengan kapal-kapal yang beroperasi di perairan dekat pesisir timur UEA.

Menurut data pelacakan kapal PortWatch milik IMF, lalu lintas di pesisir Teluk Persia UEA selama April dan Mei turun menjadi 12 juta ton dari 68,5 juta ton pada periode yang sama tahun 2025. Lalu lintas melalui pelabuhan alternatif UEA juga menurun, dari 13,7 juta ton menjadi 6,3 juta ton.

Dengan kata lain, alih-alih menerima kargo yang dialihkan dari Teluk Persia, pelabuhan-pelabuhan alternatif tersebut juga mengalami penurunan pengiriman.

Salah satu masalah utamanya adalah kapasitas fisik. Fujairah tidak dapat dengan cepat menggantikan volume pengiriman yang sangat besar dari fasilitas-fasilitas utama di Teluk Persia seperti Jebel Ali.

Namun, risiko perang setidaknya sama pentingnya. Jalur alternatif hanya memiliki manfaat terbatas jika pemilik kapal dan perusahaan asuransi menganggap tujuan tersebut hampir sama berbahayanya dengan Hormuz.

Prospek Pipa Baru untuk Krisis Jangka Panjang

Pemerintah dan para pakar industri juga sedang membahas alternatif yang lebih besar. Ekonom Hassan Mansour mengatakan kepada DW bahwa usulan yang dibahas mencakup jaringan pipa baru yang menghubungkan Irak dengan Oman dan Yordania, serta jalur laut yang lebih aman.

Pipa-pipa baru ini tidak akan langsung menyelesaikan krisis saat ini, namun dapat memberikan solusi jangka panjang bagi negara-negara Teluk yang bergantung pada jalur pelayaran tradisional.

Frequently Asked Questions

What is Selat Hormuz Terancam Negara Teluk Berebut?

Selat Hormuz Terancam Negara Teluk Berebut is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Selat Hormuz Terancam Negara Teluk Berebut matter?

Selat Hormuz Terancam Negara Teluk Berebut matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment