Dw

Eritrea Intip Peluang di Laut Merah sebagai Alternatif Selat Hormuz

Kawasan Tanduk Afrika kini menjadi arena persaingan geopolitik yang semakin sengit. Berbagai kekuatan dunia berlomba-lomba memperluas pengaruhnya, memicu

Desk Dw
Published Agustus 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
eritrea-intip-peluang-di-laut-merah-sebagai-alternatif-hormuz-1786757737528
Foto : Mary Anderson - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Eritrea Mengincar Posisi Strategis di Laut Merah
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Eritrea Mengincar Posisi Strategis di Laut Merah

Wahanaberita.com – Kawasan Tanduk Afrika kini menjadi arena persaingan geopolitik yang semakin sengit. Berbagai kekuatan dunia berlomba-lomba memperluas pengaruhnya, memicu ketegangan dan konflik di wilayah tersebut. Dalam dinamika ini, Eritrea mulai tampil sebagai aktor yang kian signifikan.

Negara yang dipimpin oleh Isaias Afewerki sejak lama ini memiliki keunggulan geografis. Dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan vital seperti Assab dan Massawa, Eritrea memegang kendali atas titik-titik pesisir strategis di Laut Merah.

Konsultasi Diplomatik di Kairo

Pada Juli 2026, serangkaian pertemuan diplomatik di ibu kota Mesir menyoroti peran Eritrea yang semakin menonjol. Dalam forum tersebut, hadir perwakilan dari Mesir, Somalia, Eritrea, serta utusan tinggi Amerika Serikat. Hasil konsultasi menunjukkan bahwa Eritrea dinilai mampu menjadi katalisator dalam menyelesaikan tantangan keamanan di Laut Merah dan Tanduk Afrika, sekaligus memperlancar jalur perdagangan regional.

Keunikan letak geografis Eritrea semakin terasa di tengah perselisihan perdagangan global. Negara kecil ini memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 1.000 kilometer yang bersebelahan dengan Selat Bab-al-Mandeb. Secara geografis, Eritrea berbatasan dengan Sudan di arah barat laut dan Jibuti di tenggara.

Namun, posisi strategis Eritrea sangat bergantung pada kondisi di seberang selat yang lebarnya tidak melebihi 30 kilometer pada bagian tersempitnya.

Yaman: Tetangga yang Sedang Krisis

“Yaman terletak di seberang Laut Merah, yang membuat lokasi Eritrea sangat menarik, karena Yaman berada dalam keadaan krisis dan keamanan maritim di kawasan tersebut terancam,” ujar Abdurahman Sayed, Direktur lembaga penelitian Horn of Africa Centre for Regional Integration (CRI) yang berbasis di London.

“Satu-satunya rute aman di area tersebut membentang melalui Eritrea, saat ini wilayah ini tidak ada masalah keamanan,” tambahnya.

Kelompok milisi Houthi yang mendapat dukungan dari Iran secara konsisten melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dari wilayah pesisir Yaman. Selama satu dekade terakhir, Yaman mengalami salah satu krisis kemanusiaan paling parah di dunia. Laporan Badan Pengungsi PBB yang dirilis pada Juli 2026 mencatat bahwa kekerasan berkelanjutan, kolapsnya ekonomi, kekeringan, dan banjir telah memperparah penderitaan rakyat Yaman.

Stabilitas di Bawah Kediktatoran

Sayed menyoroti bahwa sistem pemerintahan Eritrea yang otoriter telah berakar kuat selama puluhan tahun. Negara Afrika ini dikenal tidak mentoleransi perbedaan pendapat. Dalam berbagai pengukuran kebebasan internasional, Eritrea kerap menempati posisi kedua setelah Korea Utara.

Sejak proklamasi kemerdekaan 32 tahun silam, Eritrea belum pernah menyelenggarakan pemilihan umum. Sebagai negara satu partai di bawah kepemimpinan Afewerki, tidak ada mekanisme demokratis untuk pergantian kekuasaan melalui pemilu.

“Karena alasan ini, semua negara, termasuk kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Mesir yang mengendalikan Terusan Suez, ingin menjaga hubungan stabil dengan Eritrea,” tegas Sayed.

Kondisi ini juga menciptakan kerentanan tersendiri.

“Negara ini diperintah oleh satu orang dan tidak ada lembaga konstitusional. Hal itu membuat negara ini sangat rentan jika tokoh kuat tersebut lengser dari kekuasaan,” lanjut Sayed.

Di dalam lingkaran kekuasaan sang penguasa berusia 80 tahun, belum muncul figur yang jelas sebagai penerus. Kekhawatiran muncul bahwa stabilitas keamanan Eritrea bisa runtuh setelah Afewerki meninggalkan tampuk kekuasaan.

Alternatif Selat Hormuz

Pengaruh Eritrea terus meluas seiring dengan meningkatnya peran Laut Merah sebagai jalur maritim global. Rute ini menjadi sangat krusial bagi negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Ketegangan dengan Iran semakin mengukuhkan posisi Eritrea. Krisis ini kembali mengingatkan dunia akan pentingnya titik-titik sempit maritim seperti Selat Hormuz dan Bab-al-Mandeb dalam perdagangan internasional.

Jika Selat Hormuz terus mengalami gangguan, salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi yang terletak lebih dalam di Laut Merah. Meskipun kerajaan tersebut telah membangun pipa minyak dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan Yanbu-Al-Bahr, rute alternatif ini menghadapi ancaman keamanan yang dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Dengan demikian, Eritrea kini memiliki kepentingan strategis yang semakin besar dalam peta geopolitik regional dan global.

Frequently Asked Questions

What is Eritrea Intip Peluang di Laut Merah?

Eritrea Intip Peluang di Laut Merah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Eritrea Intip Peluang di Laut Merah matter?

Eritrea Intip Peluang di Laut Merah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment