Waka MPR Dorong Konsistensi Pola Asuh Anak yang Layak Sejak Dini
Visit Agenda – Dalam visit agenda yang dilakukan oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Rerie Andayani, isu penting tentang pemberian pola asuh anak yang memadai sejak usia dini menjadi sorotan utama. Berbicara dalam suasana resmi, Rerie menekankan bahwa keberhasilan pembangunan bangsa bergantung pada kualitas pengasuhan anak, yang perlu dijaga secara konsisten sejak masa kanak-kanak. Ia menyoroti bahwa pemberdayaan anak harus menjadi prioritas dalam pola pengambilan keputusan pemerintah, khususnya dalam konteks kebijakan visit agenda yang sedang digagas.
Peran Daycare dalam Konsistensi Pengasuhan Anak
Visit agenda ini juga mengangkat peran penting lembaga daycare dalam menjamin konsistensi pola asuh anak. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sekitar 75% keluarga di Indonesia menggunakan jasa daycare, tetapi tidak semua layanan tersebut memenuhi standar yang diperlukan. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 44% lembaga daycare belum terdaftar secara resmi, sementara 20% di antaranya tidak memiliki standar operasional prosedur (SOP). Angka tersebut menggambarkan kebutuhan peningkatan pengawasan dan regulasi dalam sistem daycare.
Dalam visit agenda, Rerie menyebut bahwa kekurangan ini berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak secara negatif. “Konsistensi dalam pola asuh anak menjadi kunci untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berdaya saing,” ujar Rerie dalam keterangan tertulis. Ia menyarankan bahwa pemerintah harus lebih aktif mengawasi pengelola daycare, terutama dalam hal pemberdayaan pengasuh dan penerapan standar yang konsisten.
Tantangan dalam Pemberdayaan Anak
Menurut Rerie, sistem perlindungan anak masih menyisakan beberapa celah yang perlu diperbaiki. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya koordinasi antarinstansi dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak. “Jika tidak ada visit agenda yang komprehensif, kita bisa saja mengabaikan isu-isu kritis yang mengancam masa depan anak-anak Indonesia,” tambahnya. Ia juga menyoroti bahwa penanganan korban kekerasan sering kali bersifat terpisah, sehingga perlu adanya integrasi dalam kebijakan pemerintah.
Lebih lanjut, Rerie menekankan perlunya peran aktif masyarakat dan institusi pendidikan dalam mendorong pola asuh yang baik. “Selama visit agenda, kita perlu menggali solusi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya. Selain itu, ia menyoroti bahwa tingkat sertifikasi pengelola daycare masih rendah, hanya sekitar 33,3% yang tersertifikasi. Hal ini menjadi indikator bahwa pemerintah perlu mengambil langkah lebih tegas dalam penguasaan sumber daya manusia di bidang pengasuhan anak.
Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, tercatat sebanyak 2,98% anak Indonesia masih hidup dalam lingkungan pengasuhan yang tidak memenuhi standar. Angka ini menunjukkan bahwa meski visit agenda sudah dijalankan, masih ada perbaikan yang harus dilakukan. Rerie menekankan bahwa konsistensi pola asuh tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada komitmen seluruh pihak untuk menjaga kualitas pengasuhan anak di berbagai tingkatan.
“Visit agenda bukan sekadar kajian teoretis, tetapi juga penerapan nyata untuk melindungi anak-anak Indonesia,” tegas Rerie. Ia berharap kebijakan ini dapat menjadi dasar untuk membangun sistem pengasuhan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Selain itu, Rerie mengusulkan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh lembaga yang terkait dengan pengasuhan anak, baik yang berupa daycare maupun sistem pendidikan formal.
Sebagai anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, Rerie berharap lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman bagi tumbuh kembang anak dapat terwujud. Hal ini dianggap penting untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik dan berdaya saing di masa depan. “Kita harus mengubah pola pikir bahwa pengasuhan anak adalah investasi jangka panjang yang menghasilkan manfaat jangka panjang,” katanya. Dalam visit agenda, Rerie juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam memastikan keberlanjutan kualitas pengasuhan anak di seluruh Indonesia.
