Berita

Solving Problems: Tragedi Balita di Bekasi Tewas Mengenaskan di Tangan Paman Sendiri

i: Solusi dalam Tragedi Solving Problems - Kasus pembunuhan balita berusia dua tahun di Jatisampurna, Kota Bekasi, mencuri perhatian publik setelah jasad

Desk Berita
Published Mei 30, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Balita di Bekasi Dibunuh oleh Pamannya Sendiri: Solusi dalam Tragedi

Solving Problems – Kasus pembunuhan balita berusia dua tahun di Jatisampurna, Kota Bekasi, mencuri perhatian publik setelah jasad korban ditemukan di kontrakan pada Rabu (27/5). Tragedi ini terjadi di tangan pamannya sendiri, G (18), yang juga merupakan keponakannya. Dalam mencoba mengatasi masalah keluarga, G terbukti melakukan tindakan keji yang tidak terduga.

Kondisi Korban Saat Ditemukan

Korban ditemukan dalam kamar kontrakan bersama pamannya. Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, menyebutkan bahwa kondisi tubuh balita menunjukkan luka tusuk dan sayatan di pipi, sementara pamannya mengalami luka di dada serta bagian wajah. Dalam penyelidikan, polisi mengungkapkan bahwa korban mengalami luka yang parah hingga ususnya terurai.

“Lukanya tersebar di kepala, wajah, badan, hingga selangkangan. Jadi, banyak luka tusukan dan iris. Pipinya juga diiris sampai terbuka bagian mulutnya. Saya rasa lebih dari sepuluh lukanya,” ujar Andi.

“Kalau omnya, luka tusuk ada di dada, kemudian di pipi kiri dan kanan,” tambahnya.

Gangguan Jiwa pada Pelaku

Pelaku, G, ditemukan memiliki riwayat gangguan kejiwaan berdasarkan keterangan dari nenek korban. Menurut informasi yang dihimpun, ia pernah dibawa ke psikiater dan rutin mengonsumsi obat. Namun, dua hari sebelum kejadian, G tidak mengonsumsi obat karena keluarga sedang mengalami kesulitan finansial.

“Iya, berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan, kami mendapatkan informasi dari ibunya. Memang sebelumnya yang bersangkutan pernah dibawa ke psikiater dan memiliki gangguan jiwa serta rutin mengonsumsi obat,” jelas Andi.

“Namun dua hari ini dia tidak mengonsumsi obat karena ibunya tidak ada uang untuk membeli obat lagi,” ucapnya.

Proses Penemuan dan Bukti

Korban pertama kali ditemukan oleh neneknya, M, yang sehari-hari mengasuh anak serta pamannya. Menurut Andi, M berjualan bahan kue untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat menemukan korban, nenek mengaku terkejut dan langsung mencuci pisau yang ditemukan di dekat tubuh korban.

“M ingin membuka kunci kontrakan, namun saat ingin dibuka pintu terkunci. Setelah memiliki kunci cadangan, ibu M sudah melihat korban anak A dan SG tergeletak dengan korban A yang ususnya sudah terurai dan SG yang ingin mencoba bunuh diri, lalu SG dilarikan ke rumah sakit,” katanya.

“Iya, sempat dia (nenek) cuci (pisau) karena syok, refleks, dan spontanitas. Nah, dia langsung mencuci pisaunya,” ujar Andi.

Perkembangan Proses Hukum

Setelah melakukan gelar perkara, G ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Kasat Reskrim menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil keterangan dari pelaku, yang sebelumnya dilarikan ke rumah sakit akibat luka tusuk. Dalam keterangan, G mengakui tindakannya, meski masih diperlukan investigasi lanjutan untuk menegaskan motif.

“Sudah bisa (diperiksa), dia sudah sadar, sudah kita mintai keterangan,” imbuh Andi.

“Sudah, sudah itu (ditetapkan tersangka), sudah kita gelar perkara,” kata Andi saat dimintai konfirmasi detikcom, Jumat (29/5/2026).

Menurut Andi, proses hukum masih terus berjalan dan pihaknya belum bisa menyimpulkan kondisi kejiwaan G secara pasti. Meski nenek korban menyebut G memiliki gangguan jiwa, hasil visum dari RS Polri menunggu untuk memastikan apakah tindakan tersebut tergolong gangguan mental atau hanya kecelakaan.

Konteks Tragedi dan Refleksi

Tragedi ini menjadi contoh nyata bagaimana konflik kecil dalam keluarga bisa berujung pada kejadian mengenaskan. Dalam mencari solusi masalah, G mungkin terjebak dalam keputusasaan yang akhirnya mendorongnya melakukan tindakan ekstrem. Fenomena ini mengingatkan bahwa penanganan masalah secara emosional seringkali memengaruhi keputusan seseorang.

“Dalam mencoba mengatasi masalah, ia memilih jalan yang tidak terduga. Ini menggambarkan betapa pentingnya pemahaman terhadap kondisi psikologis seseorang,” kata Andi.

“Tragedi ini juga menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan bisa memicu tindakan kekerasan, terutama jika tidak didukung oleh dukungan sosial dan psikologis yang memadai,” tambahnya.

Kasat Reskrim berharap kasus ini bisa menjadi bahan pembelajaran untuk masyarakat, khususnya dalam menghadapi konflik keluarga. Dengan mengatasi masalah secara bijak dan tidak impulsif, mungkin bisa mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.

Leave a Comment