Polda Sumsel Bantu Kelompok Tani dengan Bantuan Jagung dan Alat Mesin untuk Menyelesaikan Masalah
Solving Problems menjadi tema utama dalam upaya Polda Sumsel memperkuat kapasitas kelompok tani di kabupaten-kabupaten yang tergabung dalam program pertanian berkelanjutan. Kapolda Sumsel, Irjen Sandi Nugroho, mengungkapkan langkah ini sebagai bagian dari strategi menyelaraskan dukungan keamanan dengan pengembangan ekonomi pedesaan. Acara panen jagung serentak di Desa Bumi Agung Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, menjadi simbol nyata bagaimana institusi kepolisian tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga aktif dalam memecahkan masalah pangan melalui pemberdayaan sektor pertanian.
Komitmen Kepolisian untuk Mengatasi Tantangan Pertanian
Polda Sumsel melalui Kapolda Sandi Nugroho menyatakan bahwa pendekatan lokal menjadi landasan utama dalam meningkatkan hasil panen masyarakat pedesaan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Solving Problems bukan hanya tentang menghadirkan keamanan, tetapi juga tentang memberikan solusi nyata melalui akses sumber daya yang lebih merata. “Solusi ini dirancang agar petani bisa mengoptimalkan potensi lahan dan mengurangi ketergantungan pada modal eksternal,” jelas jenderal bintang dua tersebut.
“Kehadiran Polri di lapangan bertujuan untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih efisien, sekaligus memperkuat kemandirian petani dalam menghadapi tantangan seperti ketersediaan benih berkualitas dan pengelolaan lahan yang kurang memadai,” tambah Irjen Sandi.
Bantuan yang diberikan mencakup benih jagung varietas ADV 105 S Bejo dalam jumlah puluhan ribu kilogram, serta alat mesin pertanian (Alsintan) seperti traktor, mesin tanam, dan fasilitas pengering. Solving Problems juga terwujud melalui kolaborasi dengan Himbara, yang membantu kelompok tani mengakses kredit usaha rakyat (KUR) secara lebih cepat. Polda Sumsel memastikan bahwa setiap kelompok tani yang membutuhkan dukungan bisa mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan.
Program Pendampingan untuk Peningkatan Produktivitas
Kombes Nandang Mu’min Wijaya, Kabid Humas Polda Sumsel, menjelaskan bahwa program pendampingan ini dilakukan secara terpadu, mulai dari proses pengajuan KUR hingga distribusi benih dan alat mesin. “Solving Problems memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk lembaga keuangan dan instansi terkait, untuk memastikan bantuan sampai ke tangan petani secara tepat waktu,” kata Kombes Nandang.
“Dengan dukungan dari Polda Sumsel, kami yakin target swasembada pangan tahun 2026 akan tercapai. Petani bisa mengatasi hambatan produksi melalui langkah-langkah yang terstruktur dan berkelanjutan,” terang Kombes Nandang.
Program ini juga menekankan pentingnya pendidikan teknis bagi petani, seperti pelatihan penggunaan Alsintan atau manajemen pertanian modern. Polda Sumsel menganggap bahwa Solving Problems tidak hanya tentang pengadaan benih dan alat, tetapi juga tentang membangun kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya secara optimal. Kombes Nandang menyatakan bahwa evaluasi program akan terus dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Kepolisian Sumsel menargetkan peningkatan hasil panen sebesar 25% dalam setahun setelah bantuan diberikan. Dengan Solving Problems yang menjadi fokus utama, mereka ingin menciptakan rantai pasok yang lebih cepat dan harga jagung yang lebih kompetitif. “Solusi ini dirancang agar petani tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi pelaku utama perekonomian daerah,” tambah Kapolda Sandi.
“Kerja sama antarlembaga seperti Bank BRI, BNI, dan Mandiri akan terus diperkuat untuk memastikan program bantuan berkelanjutan. Solving Problems bukan sekadar slogan, tapi tindakan nyata yang terukur,” jelas Kombes Nandang.
Program bantuan benih jagung dan Alsintan ini diharapkan menjadi contoh sukses dalam upaya membangun ekonomi pedesaan. Kapolda Sandi Nugroho menegaskan bahwa Solving Problems akan terus menjadi prioritas, terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan fluktuasi harga pasar. “Dengan dukungan ini, petani bisa tetap stabil meski menghadapi tantangan yang tak terduga,” pungkasnya.
