PDIP Berikan Penjelasan tentang Filosofi Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’
Latest Program PDIP kembali mencuri perhatian publik dengan meluncurkan lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam politik kontemporer. Lagu ini dirilis dalam acara pembekalan anggota DPRD PDIP seluruh Indonesia, yang berlangsung di Novotel Mangga Dua, Jakarta Utara, pada 29 Mei 2026. DPP PDIP mengungkapkan bahwa karya ini bertujuan memperbaiki persepsi sejarah tentang pendiri bangsa, yang dianggap sebagai simbol pemulihan arah politik ke arah keadilan dan kemerdekaan rakyat.
Upaya Pelurusan Sejarah Melalui Musik
Dalam rangkaian Latest Program yang diadakan oleh PDIP, Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa lagu ini diluncurkan untuk menegaskan kembali peran Bung Karno sebagai tokoh sentral dalam Marhaenisme. Menurutnya, masa Orde Baru sempat mengubah narasi sejarah, termasuk memperkenalkan istilah ‘Marhaen’ sebagai istilah yang dikaitkan dengan komunisme. “Kami ingin memulihkan kebenaran bahwa Marhaenisme adalah konsep sosial yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan hanya politik,” tegas Hasto dalam wawancara dengan media.
Latest Program ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan pesan bahwa politik Indonesia harus kembali berorientasi pada kepentingan rakyat. Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ disebut sebagai alat komunikasi yang efektif untuk mengingatkan kembali masyarakat tentang asal-usul ideologi nasional. Hasto menambahkan bahwa dalam kondisi saat ini, dimana banyak sektor masih tertinggal, semangat ini sangat relevan untuk membangkitkan kekuatan nasional.
Legasi Marhaenisme dalam Konteks Politik Modern
Marhaenisme, yang diusung oleh Bung Karno, merupakan konsep sosial yang menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan secara menyeluruh, termasuk dari kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan. Hasto menyatakan bahwa upaya pelurusan sejarah ini dilakukan untuk menjaga keutuhan ideologi Pancasila di tengah tantangan yang dihadapi bangsa. “Marhaenisme bukan hanya tentang perjuangan politik, tetapi juga tentang kehidupan sosial yang lebih adil,” tambahnya.
Dalam Latest Program PDIP, lagu ini disampaikan sebagai simbol dari keinginan untuk mengembalikan fokus politik ke kesejahteraan rakyat. Hasto menjelaskan bahwa aransemen lagu ini dikerjakan oleh Prananda Prabowo, cucu Sukarno, yang terlibat langsung dalam menginterpretasikan filosofi Bung Karno. Lagu ini diharapkan menjadi sarana untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai asli bangsa.
Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ memiliki lirik yang berisi pesan unifikasi dan perjuangan bersama. Beberapa baris lirik seperti “Rakyat Marhaen, Majulah Bersatu!” dan “Hiduplah Bung Karno, Kita Bapak Marhaenisme!” dirancang agar mampu menyentuh hati pendengar dan mengaktifkan kesadaran akan identitas nasional. Dalam konteks Latest Program, PDIP ingin memastikan bahwa setiap anggota dan partisipan memahami makna filosofi politik yang menjadi landasan gerakan mereka.
Menurut Hasto, lagu ini juga menjadi bagian dari strategi PDIP untuk memperkuat konsolidasi ideologi. “Latest Program ini merupakan langkah untuk menegaskan bahwa politik harus selalu bersumber dari kebutuhan rakyat, bukan hanya dari kepentingan kelompok tertentu,” jelasnya. Selain itu, PDIP menekankan bahwa upaya pelurusan sejarah ini tidak hanya berdampak pada pemahaman anggota, tetapi juga berpotensi memengaruhi masyarakat luas dalam membangun kesadaran akan semangat perjuangan Bung Karno.
“Dengan Latest Program ini, kami ingin menciptakan kesadaran bahwa Marhaenisme bukan sekadar istilah, tetapi juga gerakan yang berkelanjutan. Lagu ini merupakan sarana untuk menyebarluaskan pesan tersebut,” kata Hasto.
