Latest Program: Kenneth DPRD DKI Minta Program Padat Karya Jadi Jalan Naik Kelas bagi Pekerja Jakarta
Latest Program – Anggota DPRD DKI Jakarta, Kenneth, mengkritik program padat karya yang baru diluncurkan pemerintah setempat. Ia berharap program ini tidak hanya menyelesaikan masalah pengangguran sementara, tetapi juga menjadi sarana berkelanjutan untuk memperkuat kualitas tenaga kerja di Jakarta. Dalam pernyataannya, Kenneth menekankan bahwa program padat karya harus dirancang dengan perhatian khusus pada pengembangan kompetensi dan pelatihan, agar peserta mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi kota.
Program Padat Karya Sebagai Solusi Berkelanjutan
Kenneth menyatakan bahwa 2.843 lowongan kerja yang dibuka melalui program padat karya adalah langkah awal yang baik. Namun, menurutnya, keberhasilan program ini bergantung pada strategi yang jelas dan berorientasi jangka panjang. “Latest Program ini harus memberikan dampak yang lebih mendalam, bukan hanya sebatas mengurangi angka pengangguran, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas pekerja,” ujarnya.
“Program padat karya bisa menjadi jalan naik kelas bagi pekerja Jakarta jika peserta diberikan pelatihan sesuai kebutuhan industri. Mereka perlu ditempatkan berdasarkan kompetensi, bukan hanya karena prioritas politik,”
Dalam upaya meningkatkan relevansi program, Kenneth menyarankan agar pemerintah lebih memperhatikan sektor-sektor strategis seperti pemeliharaan lingkungan, penataan permukiman, dan pengembangan ekonomi hijau. Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan pelatihan ke dalam setiap tahap program, agar peserta benar-benar siap memasuki dunia kerja yang kompetitif. “Latest Program ini bisa menjadi jembatan antara pengangguran dan kemandirian ekonomi masyarakat lokal,” tambahnya.
Sebagai bagian dari solusi, Kenneth mengungkapkan bahwa program padat karya perlu didukung oleh lembaga seperti Pusat Pengembangan Produktivitas Daerah (P3D) dan Balai Latihan Kerja (BLK). Ia menyatakan bahwa kedua institusi tersebut harus aktif dalam memberikan asesmen, pelatihan, serta pemantauan hasil program. “Melalui P3D, peserta bisa mendapatkan keterampilan sesuai kebutuhan usaha, sementara BLK bertugas memperkuat fondasi kompetensi dasar sebelum mereka masuk ke dunia kerja,” jelas Kenneth.
Kenneth juga mengingatkan bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi peserta sangat krusial. Ia menyoroti kecurigaan masyarakat terhadap potensi korupsi atau manipulasi dalam penyaluran lowongan. “Latest Program ini harus jadi model yang bisa diikuti, dengan sistem seleksi yang adil dan berbasis data. Syarat pendaftaran harus jelas, agar tidak ada keuntungan berlebihan bagi kelompok tertentu,” tegasnya.
Dalam konteks ekonomi Jakarta yang semakin dinamis, Kenneth berharap program padat karya bisa dijadikan sebagai salah satu prioritas untuk menangani keterampilan tenaga kerja. Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu membangun kerja sama dengan sektor swasta, organisasi masyarakat, dan institusi pendidikan untuk memastikan program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan sementara, tetapi juga mendorong peningkatan kualifikasi tenaga kerja secara berkelanjutan. “Latest Program ini akan menjadi dasar bagi transisi pekerja Jakarta ke level yang lebih baik, selama ada komitmen pemerintah untuk memperbaiki sistem pelatihan dan rekrutmen,” pungkas Kenneth.
