Prabowo Singgung ‘Bangsa Kepiting’, Golkar: Ketidakpuasan Harus Diubah Jadi Motivasi
Key Issue – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat Indonesia sebagai ‘bangsa kepiting’ menuai respons dari Partai Golkar. Dalam sebuah wawancara dengan media, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, mengkritik keluhan yang dianggapnya tidak seimbang dan mengingatkan pentingnya mengelola ketidakpuasan secara bijak. Ia menilai kritik terhadap pemerintah justru bisa menjadi alat untuk kemajuan bangsa, selama tidak terjadi sikap iri atau mementingkan kepentingan pribadi.
Pernyataan Prabowo dan Makna ‘Bangsa Kepiting’
Prabowo menyampaikan kritik tersebut saat pidato di acara peluncuran Biosolar B50, di Rest Area Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2026). Dalam pidatonya, ia membandingkan fenomena saling mencela dalam masyarakat dengan perilaku kepiting yang terus-menerus menurunkan rekan-rekannya. “Kepiting kalau rekan mereka naik, yang di bawah malah menurunkan. Jika ada kepiting lain ingin naik, mereka juga menurunkan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sikap ini mungkin dipengaruhi oleh sejarah panjang penjajahan, di mana beberapa orang masih merasa senang ketika melihat sesama mengalami kesulitan.
“Ada kecenderungan sebagian masyarakat merasa bahagia ketika melihat rekan-rekannya kesulitan. Itu namanya senang lihat rekan susah, susah lihat rekan senang,” lanjut Prabowo.
Menurut Prabowo, perilaku ‘bangsa kepiting’ bisa menghambat keharmonisan dalam masyarakat dan memperkuat prasangka antar kelompok. Ia berharap masyarakat mampu membedakan antara kritik konstruktif dan sikap iri yang tidak sehat. “Kita harus menghindari kecemburuan dan rasa iri yang bisa memicu perpecahan,” imbuhnya. Kritik yang tepat, menurutnya, tidak boleh dianggap sebagai kritik negatif yang hanya merusak citra pemerintah.
Respons Golkar terhadap Kritik Prabowo
Sarmuji, dalam pernyataannya, mengingatkan bahwa masyarakat harus belajar dari masa lalu untuk tidak terjebak dalam sikap saling menyalahkan. “Kritik yang sehat justru mendorong perbaikan, sedangkan iri bisa menjadi bumerang bagi keberlanjutan bangsa,” ujarnya. Ia menekankan bahwa Kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi, selama tidak bersifat merendahkan atau menyalahkan tanpa dasar.
“Bangsa ini harus bisa mengelola ketidakpuasan dengan baik. Tidak boleh sampai kita jadi iri atau dengki. Jangan sampai kekuasaan bergantian tanpa ada yang membangun,” ujarnya.
Sarmuji juga menyampaikan bahwa Partai Golkar mendukung kritik yang menjadi alat perbaikan, asalkan disampaikan dengan sikap kearifan dan kepekaan terhadap kondisi bangsa. “Key Issue yang terutama adalah bagaimana masyarakat Indonesia mampu mengubah kekecewaan menjadi semangat untuk berubah,” tutur Sarmuji. Ia menambahkan bahwa Prabowo menggambarkan Kritik terhadap pemerintah sebagai indikasi dari kecemburuan yang tidak sehat.
Dalam konteks Key Issue ini, Sarmuji mengkritik cara Prabowo menyampaikan pesan kritik. Menurutnya, kritik yang disampaikan oleh presiden harus diimbangi dengan dukungan untuk kebijakan yang dinilai baik. “Key Issue tidak hanya tentang menyebut kesalahan, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikannya dengan baik,” jelas Sarmuji. Ia menilai pernyataan Prabowo mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya mencela, tetapi juga membangun.
“Kita harus mampu mengevaluasi kebijakan secara objektif, bukan hanya karena rasa iri atau kekecewaan,” tambah Sarmuji.
Key Issue ini juga membawa perdebatan di kalangan publik. Sebagian orang setuju dengan pernyataan Prabowo karena menggambarkan realitas sosial yang terjadi, sementara sebagian lain menilai kecaman tersebut terlalu keras dan bisa merugikan konsensus. Dengan ini, Partai Golkar dan Prabowo berharap masyarakat Indonesia mampu menjadi bangsa yang lebih kuat dan kompeten dalam menghadapi tantangan politik.
