Berita

Key Issue: Lestari Moerdijat Dorong Penguasaan AI untuk Pemberdayaan Disabilitas

Lestari Moerdijat Soroti Penguasaan AI untuk Pemberdayaan Disabilitas Mendorong Inklusivitas dalam Era Digital Key Issue menjadi fokus utama dalam pelatihan

Desk Berita
Published Mei 11, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Lestari Moerdijat Soroti Penguasaan AI untuk Pemberdayaan Disabilitas

Mendorong Inklusivitas dalam Era Digital

Key Issue menjadi fokus utama dalam pelatihan AI yang diadakan oleh Alunjiva bersama Microsoft, di mana Lestari Moerdijat, politisi Partai NasDem, memaparkan peran teknologi buatan manusia (AI) dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas. Acara ini dihelat secara daring di Auditorium Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah, pada 10 Mei 2026. Rerie, sapaan akrabnya, menekankan bahwa penguasaan AI adalah kunci untuk membangun kesetaraan dan memperkuat partisipasi masyarakat disabilitas dalam perekonomian digital.

Kekuatan AI dalam Membuka Peluang Ekonomi

Dalam pidatonya, Rerie menyebutkan bahwa AI dapat menjadi penggerak signifikan dalam pengembangan usaha kecil menengah (UMKM) lokal, termasuk peran kritisnya dalam pemberdayaan disabilitas. Menurut survei 2025-2026, sekitar 64,7% responden di Indonesia sudah mengakses AI, dengan penggunaan utama untuk mencari informasi dan kebutuhan belanja. Namun, ia menyoroti bahwa data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan lebih dari 75% penyandang disabilitas bekerja di sektor informal, sementara hanya 25% yang berada di sektor formal. Key Issue ini menunjukkan bahwa akses teknologi masih tidak merata, terutama bagi kelompok yang kurang terwakili.

“Penguasaan AI diyakini dapat mendorong percepatan signifikan dalam pengembangan UMKM lokal serta berbagai inisiatif inklusif yang diharapkan mampu membawa produk daerah ke panggung digital yang lebih luas,” ujarnya. Rerie menambahkan bahwa kemampuan teknis AI saja tidak cukup. “Berfikir kritis tetap menjadi aset utama agar manusia tetap berada di posisi mengendalikan teknologi, mampu memilah informasi, dan menyelesaikan tantangan,” tegasnya.

Key Issue ini terkait erat dengan upaya mengurangi kesenjangan digital yang menghambat pemberdayaan penyandang disabilitas. Pelatihan AI yang diinisiasi Alunjiva dan Microsoft bertujuan menciptakan kesempatan bagi mereka untuk menguasai alat-alat teknologi modern, termasuk AI, yang bisa menjadi solusi untuk berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggabungkan pelatihan teori dan praktik, program ini diharapkan mampu membangun kepercayaan diri serta keterampilan kreatif para peserta.

Menurut Rerie, pelatihan AI juga menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan struktural dalam sistem kerja dan pendidikan. “Key Issue ini mengajak kita untuk memikirkan ulang bagaimana teknologi bisa diintegrasikan ke dalam kehidupan penyandang disabilitas, bukan hanya sebagai alat bantu tetapi sebagai pendorong perubahan sosial,” katanya. Ia menekankan bahwa AI tidak hanya membantu dalam efisiensi, tetapi juga memperluas akses ke pasar kerja dan peluang ekonomi yang sebelumnya terbatas.

Key Issue dalam penguasaan AI oleh penyandang disabilitas juga mencakup upaya mengatasi stigma sosial yang sering menjadi penghalang utama. Rerie menyebutkan bahwa banyak penyandang disabilitas mengalami kesulitan mengakses pelatihan teknologi karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang potensi mereka. “Kita perlu membangun kesadaran bahwa disabilitas bukanlah hambatan, tetapi peluang untuk menciptakan inovasi baru,” ujarnya.

Pelatihan AI yang dihadiri ribuan peserta ini diharapkan menjadi contoh nyata penerapan Key Issue dalam kebijakan inklusivitas. Dengan menggabungkan pendekatan teknologi dan sosial, program ini berupaya mewujudkan martabat kemanusiaan yang setara di era digital. Rerie menutup pidatonya dengan ajakan untuk terus berinovasi dalam memanfaatkan AI sebagai alat pemberdayaan, sekaligus menyoroti pentingnya keterlibatan pemerintah dan swasta dalam mendorong akses yang adil bagi semua lapisan masyarakat.

Leave a Comment