Keluarga Sebut 2 Anggota DPRD TTU Diduga Mabuk Saat Intimidasi Dokter Icha
Pengantar
Important Visit menjadi perbincangan hangat setelah keluarga Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni, dikenal sebagai Icha (27), mengklaim dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tenggara Utara (TTU) diduga mabuk saat melakukan intimidasi terhadapnya. Peristiwa ini terjadi di RS Leona, Kefamenanu, yang menjadi tempat terakhir Icha bertemu dengan dokter dan petugas medis sebelum meninggal dunia dengan cara gantung diri. Keluarga menilai kunjungan tersebut memiliki dampak signifikan pada kondisi mental Icha, yang terlihat terganggu setelah pertemuan dengan dua anggota dewan itu.
Pengakuan Keluarga
Keluarga Icha mengungkapkan bahwa saat important visit dilakukan, Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar terlihat tidak stabil secara emosional. Mereka menyebut bahwa dua orang tersebut terpantau mengonsumsi minuman keras sebelum memasuki ruang IGD. Sebanyak 23 saksi yang diperiksa menyatakan aroma alkohol tercium dari mulut kedua anggota DPRD saat berdebat dengan Icha. “Mereka mengucapkan kata-kata kasar dan berulang kali menghina kinerja tim medis,” ujar Fabianus Banase, paman dan juru bicara keluarga, dalam wawancara di RSS Baumata, Kabupaten Kupang, seperti dilansir detikBali, Senin (29/6/2026).
Keluarga menilai important visit ini bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi sebuah momen kritis yang memicu perasaan trauma dan depresi pada Icha. Dalam keterangan, Fabianus menyatakan bahwa kedua anggota dewan tiba di ruang perawatan dengan keadaan yang terlihat tidak tenang, sehingga memperparah situasi. “Kami ingin kasus ini diperiksa lebih lanjut, terutama karena important visit ini dianggap sebagai pemicu utama,” tambahnya.
Konteks Kasus
Kunjungan important visit tersebut berlangsung dalam konteks konflik antara DPRD TTU dan rumah sakit terkait penanganan pasien anak yang mengalami gigitan ular. Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar mengadukan proses penanganan yang menurut mereka tidak optimal. Namun, keluarga Icha menilai perdebatan yang terjadi justru berujung pada tekanan psikologis yang berlebihan. “Dokter Icha sudah memperlihatkan kelelahan dan stres, tetapi important visit ini membuatnya semakin tertekan,” kata Fabianus.
Dalam keterangan saksi, mereka menyebut bahwa dua anggota dewan terlihat berbicara dengan nada keras dan bahkan mengancam dokter. “Mereka berkata, ‘Kamu tidak bisa menolong pasien ini,’ dan membuat Icha merasa tidak dihargai,” ujar salah satu saksi. Kondisi ini diduga semakin memburuk karena pengaruh alkohol, yang menjadi perhatian utama dalam investigasi keluarga.
Bukti Tambahan
Untuk memperkuat klaimnya, keluarga Icha menyebutkan adanya bukti visual yang diambil saat important visit berlangsung. Foto-foto menunjukkan kedua anggota dewan masuk ke ruang IGD dengan wajah yang gelisah dan beberapa saksi terlihat mengambil perhatian pada aroma alkohol yang menyengat. “Foto ini menegaskan bahwa important visit tidak hanya sekadar pertemuan formal, tetapi juga memiliki dampak emosional,” jelas Fabianus.
Kelangkaan CCTV di area IGD RS Leona menjadi kelemahan dalam proses investigasi. Fabianus mengatakan, jika tidak ada rekaman video, bukti visual dan kesaksian para saksi menjadi andalan utama. “Kami harap important visit ini bisa menjadi peristiwa penting yang diusut hingga tuntas,” tegasnya. Keluarga juga meminta pihak rumah sakit dan DPRD TTU memberikan penjelasan resmi atas insiden tersebut.
Dampak di Masyarakat
Peristiwa important visit yang dilakukan Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar memicu reaksi beragam dari masyarakat. Banyak warga Kefamenanu menyebutkan bahwa tindakan tersebut menunjukkan sikap tidak profesional dari para anggota dewan. “Ini bukan hanya masalah individu, tetapi menggambarkan citra DPRD TTU yang kurang peduli dengan kondisi pasien,” ujar seorang warga yang mengetahui kejadian tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat mulai menggali lebih dalam tentang latar belakang kedua anggota dewan yang terlibat. Beberapa informasi menunjukkan bahwa Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar sering dilihat terlihat mengonsumsi minuman keras dalam kegiatan resmi. “Mereka diduga sering mabuk saat melakukan kunjungan important visit ke rumah sakit,” tambah Fabianus. Hal ini semakin memperkuat klaim keluarga bahwa alkohol berperan dalam intimidasi terhadap Icha.
Langkah Selanjutnya
Keluarga Icha berharap kasus important visit ini bisa diberikan perhatian serius oleh pihak berwajib. Mereka menawarkan kerja sama untuk memproses kasus ini secara pidana. “Jika tidak ada tindakan, kami akan mengambil langkah-langkah sendiri untuk mencari keadilan,” ujar Fabianus. Ia juga meminta penyelidikan lebih menyeluruh, termasuk mengecek apakah ada penggunaan alkohol dalam acara important visit tersebut.
Kasus ini menarik perhatian media dan warga setempat, yang semakin menyoroti pentingnya important visit dalam memperkuat hubungan antara legislatif dan layanan kesehatan. Dengan adanya bukti-bukti yang dikumpulkan, keluarga yakin bahwa pihak DPRD TTU akan bertanggung jawab atas tindakan mereka. “Important visit ini seharusnya menjadi bentuk penghargaan, bukan penindasan,” pungkas Fabianus dalam kesimpulan wawancara tersebut.
