Bbc World

Special Plan: Guide WN Singapura Saat Dukono Erupsi: Saya Ingin Sujud Minta Maaf ke Orang Tuanya

Panduan WN Singapura Saat Erupsi Gunung Dukono: Saya Ingin Sujud Minta Maaf ke Orang Tuanya Perjalanan Pendakian dan Kondisi Sebelum Letusan Special Plan

Desk Bbc World
Published Mei 13, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Panduan WN Singapura Saat Erupsi Gunung Dukono: Saya Ingin Sujud Minta Maaf ke Orang Tuanya

Perjalanan Pendakian dan Kondisi Sebelum Letusan

Special Plan – Dukono, sebuah gunung berapi aktif di Halmahera Utara, Maluku Utara, menjadi sorotan internasional saat erupsi besar terjadi pada 8 Mei 2026. Untuk mengantisipasi situasi kritis ini, Special Plan yang disusun oleh pihak terkait dirancang secara khusus untuk melindungi wisatawan asing, termasuk warga negara Singapura. Rombongan tiga pendaki Singapura dan 17 pendaki lainnya dibawa ke kawah oleh pemandu Reza Selang, yang sebelumnya menilai aktivitas vulkanik masih stabil. Namun, dalam empat hari setelah letusan, dua pendaki Singapura dan satu pendaki lokal nyaris menjadi korban kecelakaan tragis.

Kejadian Letusan dan Upaya Evakuasi

Pada 8 Mei 2026, Reza memperbolehkan rombongan mendekati puncak Gunung Dukono, dengan syarat tidak tinggal terlalu lama di area tersebut. Namun, sekitar pukul 07.41 WIT, letusan tiba-tiba terjadi. Letusan pertama mengeluarkan asap, sementara yang kedua muntahkan material vulkanik yang menghancurkan jalur pendakian. Dalam waktu kurang dari satu menit, sejumlah pendaki kehilangan keseimbangan dan terjebak di medan yang berbahaya.

Dalam kepanikan, Reza menggunakan drone untuk memantau situasi di kawah. Ia menyebutkan bahwa saat letusan terjadi, ada satu pendaki terkapar di dekat puncak. Pemandu lain, Timothy Heng, mengambil inisiatif untuk kembali mendaki dan membantu korban. “Saya merasa jantung saya berdebar kencang saat melihat korban terluka,” ujarnya. Meski terkena hujan batu vulkanik, Reza memutuskan tetap di lokasi untuk menjalankan Special Plan secara maksimal.

“Saat tiba di kawah, saya sudah tahu ada risiko, tapi tidak menyangka letusan akan terjadi begitu cepat. Dalam waktu kurang dari satu menit, keadaan berubah drastis,” katanya.

Korban terparah adalah Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, pendaki Singapura yang ditemukan terkapar di dekat puncak. Jasad Angel Krishela Pradita, pendaki dari Ternate, ditemukan oleh tim SAR pada Sabtu (09/05). Dengan Special Plan yang telah dibuat, Reza dan timnya memastikan setiap pendaki mendapat bantuan secepat mungkin. Namun, letusan yang tak terduga tetap memberikan pelajaran berharga tentang persiapan darurat.

Pengalaman Berharga dan Refleksi Diri

Reza mengungkapkan bahwa Special Plan telah diuji dalam situasi paling mengguncang. “Saya merasa sangat bersalah kepada korban dan keluarga mereka,” ujarnya sambil menahan emosi. “Saya ingin ke sana, sujud di kaki orang tuanya, dan minta maaf secara tulus.” Dalam perjalanan evakuasi, Reza dan Timothy sempat terjebak dalam tabrakan batu besar yang menghancurkan tubuh keduanya.

“Di 07.40 saya sempat nge-drone dari jauh. Pas di 07.41 langsung gunungnya meletus,” katanya.

Reza menggambarkan momen tersebut sebagai pengalaman paling menyedihkan. “Batu itu sekitar dua meter lebarnya. Saya sudah teriak ‘stone’, tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin,” katanya. Meski terluka di kaki, ia tetap berada di lokasi untuk membantu proses penyelamatan. Special Plan juga membantu meminimalkan risiko bagi pendaki lain yang berhasil dievakuasi.

Letusan Gunung Dukono mengingatkan kembali betapa pentingnya Special Plan dalam menghadapi bencana alam. Meski pihak pengelola telah memberikan instruksi secara detail, kejadian ini menunjukkan bahwa persiapan tidak cukup untuk menjamin keselamatan sepenuhnya. Dengan adanya Special Plan, Reza dan timnya mampu merespons situasi secara cepat, meski tetap mengalami kekacauan.

“Ini kejadian pertama yang saya alami, dan saya merasa sangat bersalah kepada korban serta keluarga mereka,” ujarnya. “Saya ingin sujud di kaki orang tuanya dan minta maaf ke mereka.”

Selain memberikan laporan kepada tim pemandu, Reza juga menyebutkan bahwa Special Plan telah dirancang untuk meningkatkan kesadaran wisatawan tentang risiko yang mungkin terjadi. Namun, kejadian ini menegaskan bahwa di bawah kondisi darurat, setiap keputusan harus diambil dengan cepat dan tepat. “Kami terus berusaha menjaga rombongan, tapi kecepatan letusan membuat kami terjebak dalam keadaan tidak terduga,” katanya. Dengan kejadian ini, Special Plan diuji kembali untuk memperbaiki prosedur di masa depan.

Leave a Comment