Jateng Terus Adakan Gerakan Pangan Murah sebagai Strategi Utama
Key Strategy – Sebagai Key Strategy dalam mengatasi inflasi dan meningkatkan akses warga terhadap kebutuhan pokok, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala. Salah satu pelaksanaannya terjadi di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, Senin (18/5). Acara ini menawarkan berbagai komoditas bahan makanan dengan harga lebih rendah dari pasar umum, sekaligus menjadi upaya pemerintah dalam menjamin ketersediaan stok pangan bagi masyarakat. Kegiatan yang diadakan di berbagai titik strategis ini menunjukkan komitmen daerah dalam memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi warga.
Gerakan Pangan Murah Bantu Warga Tertinggal
Gerakan Pangan Murah (GPM) tidak hanya menjadi Key Strategy pemerintah, tetapi juga menjadi harapan bagi keluarga dengan penghasilan terbatas. Peserta acara, Parmiati, menyebutkan bahwa bantuan beras, tepung mocaf, minyak goreng, gula, dan telur dengan harga terjangkau sangat membantu keluarga yang mengalami kesulitan finansial. “Saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lebih mudah, terutama saat harga bahan pokok sedang naik,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa GPM berperan sebagai solusi praktis untuk mengurangi beban ekonomi warga, terutama di tengah tekanan inflasi.
“GPM bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memperkuat keberlanjutan pangan di daerah kita,” katanya.
Program GPM sebagai Intervensi Ekonomi
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menjelaskan bahwa GPM merupakan bagian dari Key Strategy nasional dalam mengendalikan inflasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini dirancang untuk menjamin stabilitas harga, mempercepat distribusi bahan pokok, dan memudahkan akses bagi keluarga berpenghasilan rendah. “Melalui GPM, masyarakat tidak hanya mendapatkan bahan makanan dengan harga lebih murah, tetapi juga dapat memanfaatkan peluang ekonomi lokal,” tambah Luthfi. Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi untuk memperkuat efektivitas program ini.
“Pendekatan terhadap masalah inflasi tidak bisa hanya melalui kebijakan pemerintah pusat, tetapi juga perlu dukungan daerah,” ujarnya.
Manfaat Ekonomi dari GPM
Sejauh ini, program GPM telah diadakan 794 kali sejak Januari hingga Mei 2026, dengan total omzet mencapai Rp15,1 miliar. Selain itu, kegiatan ini memberikan dampak positif bagi penjual lokal, karena memungkinkan mereka menjangkau konsumen yang lebih luas. Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, melalui Kepala Dinas Widi Hartanto, menegaskan bahwa GPM menjadi Key Strategy dalam mengoptimalkan distribusi bahan makanan. “Dengan GPM, kita tidak hanya menurunkan harga bahan pokok, tetapi juga mendorong partisipasi warga dalam sistem pangan yang lebih adil,” terang Hartanto.
“Selama ini, bahan pokok sering kali dijual dengan harga yang tidak stabil. GPM memberikan kepastian bagi warga dan pedagang,” ujarnya.
Saluran Bantuan Pangan untuk 200 Keluarga
Pada acara di Desa Gumiwang, bantuan pangan melalui cadangan daerah disalurkan kepada 200 keluarga. Bantuan tersebut berupa 2 ton beras dan 400 kilogram beras sorgum, yang akan didistribusikan secara langsung ke warga. Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menilai GPM menjadi Key Strategy yang efektif untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. “Kebutuhan pangan warga tidak boleh terabaikan, terutama saat kondisi ekonomi nasional sedang tidak stabil,” katanya. Ia berharap program ini bisa terus diperluas dan menjadi contoh untuk daerah lain.
“Dengan keberlanjutan GPM, warga bisa merasa lebih sejahtera dan pangan tidak lagi menjadi masalah utama,” ujarnya.
Persiapan untuk Memenuhi Kebutuhan Masa Depan
Program Gerakan Pangan Murah (GPM) tidak hanya menjadi Key Strategy saat ini, tetapi juga diharapkan bisa menjadi fondasi untuk keberlanjutan ketahanan pangan Jawa Tengah. Dengan memperkuat sistem distribusi, memperhatikan kebutuhan warga, dan mengintegrasikan input dari berbagai pihak, pemerintah daerah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok. “Kita perlu memperhatikan tren harga dan permintaan pasar untuk memastikan GPM tetap relevan,” kata Luthfi. Ia menambahkan bahwa program ini akan terus diperbaiki agar bisa memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat.
“Selain menurunkan harga, GPM juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat,” tutur Luthfi.
