Internasional

Iran Murka Israel Gempur Lebanon: Negosiasi dengan AS Tak Ada Gunanya

Iran Murka Israel Gempur Lebanon: Negosiasi dengan AS Tidak Berhasil Iran Murka Israel Gempur Lebanon - Dalam peristiwa terbaru yang memicu ketegangan

Desk Internasional
Published Juni 15, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Iran Murka Israel Gempur Lebanon: Negosiasi dengan AS Tidak Berhasil

Iran Murka Israel Gempur Lebanon – Dalam peristiwa terbaru yang memicu ketegangan internasional, Iran mengeluarkan pernyataan tajam terhadap serangan udara Israel ke wilayah Dahieh di Beirut, Lebanon. Tindakan agresi yang dilakukan oleh militer Israel ini, menurut utusan resmi Iran, menunjukkan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat tidak lagi memiliki makna dalam menyelesaikan konflik antara Iran dan Israel. Serangan yang terjadi pada Minggu (14/6/2026) dianggap sebagai bukti ketidakmampuan AS dalam menjaga keseimbangan di Timur Tengah.

Reaksi Iran terhadap Serangan Israel

Pernyataan resmi Iran menyatakan bahwa serangan Israel ke Lebanon adalah bentuk penguasaan langsung terhadap wilayah yang dipertahankan oleh gerakan Hizbullah. Mohammad Bagher Ghalibaf, utusan negosiator Iran, mengungkapkan bahwa tindakan ini tidak hanya melanggar prinsip diplomatik, tetapi juga membuktikan ketidakseriusan AS dalam memenuhi janji-janji yang diberikan selama proses perundingan. “Agresi Zionis terhadap Dahieh sekali lagi menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki niat atau kemampuan untuk menerapkan janji-janji yang diberikan,” katanya, seperti dilaporkan AFP, Minggu (14/6/2026).

Kata-kata Ghalibaf menegaskan bahwa Iran menganggap negosiasi dengan AS sebagai upaya yang tidak efektif karena Israel, sekutu utama AS, terus mengambil inisiatif dalam menyerang Lebanon. Ia menyatakan bahwa pihak Iran telah memasukkan perdamaian di Lebanon sebagai syarat utama perundingan dengan AS, tetapi Israel tidak menunjukkan komitmen untuk menghentikan serangan. “Jika Anda tidak mampu memenuhi komitmen Anda, maka tidak ada gunanya melanjutkan pembicaraan tentang jalan keluar ini,” tambah Ghalibaf, menyoroti ketidakseriusan AS dalam proses diplomasi.

Sebelumnya, Iran dan AS telah menjalani beberapa putaran negosiasi dalam upaya meredakan ketegangan antara Hizbullah dan Israel. Namun, serangan Israel terbaru dinilai sebagai titik balik yang membuat langkah-langkah diplomatik tersebut menjadi bermakna. Selain itu, Iran juga menegaskan bahwa serangan tersebut melanggar kesepakatan internasional yang telah dibuat untuk melindungi wilayah Lebanon dari serangan militer. Pernyataan ini menambahkan tekanan pada AS untuk segera mengambil tindakan dalam menyelaraskan kebijakan dengan negara-negara lain di kawasan.

Respons dan Ancaman dari Pihak Iran

Mengikuti serangan Israel, pihak Iran berencana membalas tindakan tersebut dengan serangan balik yang lebih keras. Sardar Asadi, pejabat dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengancam akan memulai operasi militer terhadap wilayah selatan Beirut sebagai respons terhadap agresi yang terjadi. “Tanpa ragu, kejahatan ini akan direspons dengan cara yang tegas,” ujarnya, menurut laporan kantor berita Iran Mizan.

Khatam al-Anbiya, sebagai pusat komando Iran, mengawasi pasukan militer seperti Korps Garda Revolusi Islam dan angkatan bersenjata resmi negara. Serangan terbaru Israel menargetkan benteng Hizbullah, yang merupakan aliansi utama Iran di Lebanon. Menurut Al Jazeera, badan pertahanan sipil Lebanon melaporkan menemukan tiga jenazah setelah serangan menghantam daerah Ghoebeiry, sementara 15 orang lainnya terluka. Kerusakan parah juga terjadi pada bangunan dan toko-toko di sekitar lokasi.

Peristiwa ini memperburuk ketegangan antara Iran dan Israel, yang telah berlangsung sejak lama. Iran menganggap Israel sebagai musuh utama yang tidak pernah berhenti menyerang wilayah-wilayah yang didukung oleh gerakan Hizbullah. Sementara itu, AS terus berupaya menjaga hubungan diplomatik dengan Israel, meskipun beberapa kritikus menganggap bahwa kebijakan tersebut tidak lagi mendukung stabilitas di kawasan. Pemerintah Iran berharap bahwa negosiasi dengan AS akan menjadi alat untuk menegakkan keadilan, tetapi serangan terbaru dinilai sebagai penghalang utama bagi pencapaian tujuan tersebut.

Leave a Comment