Ketua Sepak Bola Palestina Ditolak Masuk AS dan Kanada untuk Piala Dunia
Important Visit – Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, mengungkapkan bahwa upayanya memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat dan Kanada sebagai bagian dari important visit ke acara Piala Dunia dibatalkan oleh otoritas keduanya. Ini menimbulkan ketegangan dalam hubungan diplomatik dan olahraga antara Palestina dengan dua negara tersebut.
Latar Belakang Peristiwa
Sebelumnya, Rajoub telah menghadiri kongres FIFA di Vancouver, Kanada, pada April 2026. Namun, ia menolak undangan kepada Gianni Infantino, presiden FIFA, untuk berfoto bersama pejabat Asosiasi Sepak Bola Israel. Tindakan ini mencerminkan ketegangan politik antara Palestina dan Israel, yang terus memengaruhi kebijakan visa bagi anggota sepak bola Palestina.
Rajoub menjelaskan bahwa permohonan visanya ditolak setelah ia mengajukan secara langsung dari Amman. Ia mengkritik keputusan otoritas tersebut, menyebutkan bahwa tindakan ini menggambarkan tekanan dari pihak tertentu terhadap negara-negara yang mendukung Palestina. “Mereka tidak memberi saya visa untuk Amerika Serikat setelah saya mengajukan permohonan di Amman. Perilaku mereka sangat konyol,” kata Rajoub dalam wawancara telepon dengan kantor berita AFP.
Dampak pada Hubungan Internasional
Penolakan visa tersebut tidak hanya memengaruhi kehadiran Rajoub, tetapi juga memperlihatkan kebijakan yang lebih luas terhadap keanggotaan Palestina di kompetisi internasional. Sebelumnya, otoritas AS juga menolak visa bagi wasit asal Somalia, Omar Artan, serta anggota tim suporter dari Iran, Senegal, dan Pantai Gading. Meskipun mereka memiliki visa yang sah, keputusan ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk membatasi akses para pemain dan pengurus sepak bola Palestina.
Pada Piala Dunia, Palestina berharap dapat berpartisipasi dalam pertandingan yang diadakan di Kanada, seperti pertandingan antara tim nasional mereka dengan tim-tim lain. Namun, penolakan visa berdampak pada kemampuan mereka untuk hadir di negara tuan rumah tersebut. Hal ini berpotensi mengganggu keterlibatan Palestina dalam rangkaian acara olahraga global, yang seharusnya menjadi ajang promosi hubungan diplomatik dan persahabatan.
Asosiasi Sepak Bola Palestina terus menekankan bahwa sanksi terhadap Israel perlu ditegakkan karena partisipasi klub-klub Tepi Barat dalam kompetisi yang diatur oleh Asosiasi Sepak Bola Israel. Kelompok ini berargumen bahwa klub yang didirikan di pemukiman Israel seharusnya tidak ikut serta dalam ajang yang diselenggarakan oleh Palestina. “Ini adalah important visit yang diharapkan untuk memperkuat posisi Palestina di panggung internasional,” ujar Rajoub.
Pemutusan akses visa ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keterbukaan organisasi olahraga internasional. Jibril Rajoub menegaskan bahwa keputusan yang diambil oleh AS dan Kanada menunjukkan sikap yang tidak konsisten terhadap keanggotaan Palestina, terutama dalam konteks important visit ke acara olahraga global. “Kita ingin memperlihatkan kehadiran Palestina di Piala Dunia, tetapi otoritas membatalkan itu,” lanjutnya.
Dalam wawancara lain, Rajoub menyebutkan bahwa kebijakan visa ini menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat tekanan politik terhadap Palestina. Ia menyoroti bahwa selain dirinya, sejumlah atlet dan pelatih juga mengalami kesulitan untuk memasuki dua negara tersebut. “Ini tidak hanya menyangkut saya, tetapi juga banyak individu yang ingin berpartisipasi dalam important visit ke Piala Dunia,” kata pelatih sepak bola Palestina tersebut.
Sebagai respons atas penolakan visa, Asosiasi Sepak Bola Palestina berencana menuntut perubahan kebijakan visa dari AS dan Kanada. Rajoub menekankan bahwa penolakan tersebut bertentangan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam olahraga internasional. “Kita harus berada di sana untuk memperlihatkan kekuatan dan semangat sepak bola Palestina,” pungkasnya, sambil menambahkan bahwa important visit ke Piala Dunia adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan pengakuan internasional.
