New Policy: Trump Ancam Bombardir Iran Lebih Kuat Meski Ragu Ambil Alih Pulau Kharg
New Policy – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan New Policy yang memperkuat ancaman militer terhadap Iran, meski ia tetap meragukan keberanian AS dalam mengambil alih pulau strategis Kharg. Langkah ini menunjukkan pergeseran fokus kebijakan luar negeri AS dalam upaya mengatasi tekanan geopolitik di Teluk Persia.
Strategi New Policy: Tantangan dan Peluang
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan bahwa New Policy akan menargetkan kekuatan Iran dengan cara yang lebih intensif, termasuk serangan udara terhadap infrastruktur minyak di Kharg. Meski ia mengakui risiko tinggi dari tindakan tersebut, Trump berpendapat bahwa AS perlu bertindak cepat untuk memastikan dominasi di kawasan tersebut.
Kharg, sebuah pulau kecil di Teluk Persia, menjadi pusat perhatian karena memiliki pelabuhan minyak yang krusial bagi Iran. Sebagai bagian dari New Policy, AS ingin memastikan bahwa Iran tidak bisa menghalangi aliran energi global melalui Selat Hormuz. Namun, ancaman ini juga memicu kekhawatiran di kalangan diplomat Barat terkait potensi eskalasi konflik.
“Pilihan saya adalah mengambil alih Pulau Kharg… Saya tidak tahu apakah Amerika berani melakukan hal itu,” ujarnya, seperti dilaporkan Reuters, Kamis (11/6/2026).
Setelah lebih dari tiga bulan perang, Iran masih menguasai Selat Hormuz, membatasi akses minyak ke pasar internasional. Trump, sebagai bagian dari New Policy, menegaskan bahwa serangan udara lebih kuat akan dilancarkan untuk menekan pasukan Iran dan mengurangi kemampuannya berperang. Hal ini mengindikasikan perubahan pendekatan AS dari strategi defensif ke ofensif.
Di sisi lain, pemerintah AS tetap berupaya menegosiasikan perdamaian dengan Iran. Namun, dalam New Policy, Trump menekankan bahwa negosiasi harus diiringi dengan ancaman tegas agar Iran memahami konsekuensi dari tindakannya. Gedung Putih belum merespons pertanyaan mengenai keberlakuan gencatan senjata yang dijanjikan pada April, menunjukkan ketegangan antara keinginan diplomasi dan kebutuhan militer.
“Semuanya terasa gila,” kata Trump.
“Mereka benar-benar bisa dikendalikan. Hanya saja mereka belum menyadarinya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut memperjelas sikap Trump yang konsisten dalam New Policy, yaitu mengutamakan kekuatan militer sebagai alat tekanan politik. Ia juga menyoroti kemampuan Iran dalam mengendalikan situasi, meski pihak AS berupaya mengubahnya melalui tindakan tegas.
