Mama Sinta Datangi Polda Metro Soal Key Issue di Protes Film ‘Pesta Babi’
Key Issue – Yasinta Moiwend, lebih dikenal sebagai Mama Sinta, tokoh adat perempuan dan pejuang lingkungan dari Merauke, melakukan kunjungan ke Polda Metro Jaya untuk membahas masalah yang memicu protes terhadap film ‘Pesta Babi’ yang diproduksi oleh Dandhy Laksono. Ia menilai bahwa tindakan film tersebut mengganggu perasaan dan reputasinya, serta menggambarkan Key Issue dalam konteks kebudayaan dan nilai-nilai lokal.
Protes terhadap Konten Film ‘Pesta Babi’
Pada 29 Mei 2026, Mama Sinta hadir di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, untuk memberikan keterangan terkait Key Issue yang dianggapnya berdampak negatif. Menurut perempuan berusia 50 tahun ini, film ‘Pesta Babi’ yang ditayangkan pada 8 April 2026 di Jayapura dianggap mengandung kesalahan dalam representasi wajah dan peran tokoh adat dalam cerita.
“Saya merasa ada kejadian yang terjadi sejak 8 April, film itu ditayangkan di Jayapura, di tempat Susteran Maranatha, tanpa mendapatkan izin dari saya,” ujarnya saat berbicara di ruang rapat Polda Metro Jaya.
Mama Sinta menjelaskan bahwa pihak pembuat film menayangkan film tersebut tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hal ini membuatnya merasa terluka, terutama karena film tersebut menampilkan wajahnya secara mendalam dan menggambarkan budaya adat Merauke dalam konteks yang dianggap tidak tepat. Menurutnya, film ini menjadi simbol Key Issue dalam kehidupan masyarakat sipil.
“Mereka menayangkan film Pesta Babi di berbagai tempat. Saya merasa terluka dan kecewa. Tanpa izin, tanpa pembicaraan. Mereka itu seperti penjahat,” katanya.
Proses Pemutaran dan Tanggapan dari Pemroduksi
Dalam kunjungannya, Mama Sinta menegaskan bahwa ia tidak pernah diberi kesempatan untuk berdiskusi sebelum tayangan film berlangsung. Keterlibatan pertamanya terjadi ketika seorang pria bernama Tigor mengajaknya menonton film di Jayapura. Setelah selesai, Tigor menunjukkan bahwa film tersebut memiliki hubungan dengan Key Issue yang ia anggap penting.
“Bang Tigor yang mengajak saya ke Jayapura untuk turut serta dalam kegiatan itu. Setelah selesai, dia ajak kita nonton film Pesta Babi. Saat itu, saya baru tahu film itu tentang pemotongan babi, tapi di Aula Maranatha, film yang ditayangkan justru bertajuk ‘Pesta Babi’. Ah, di situ ada wajah saya,” tuturnya.
Mama Sinta mengungkapkan bahwa film ini disebarkan tanpa izin, sehingga memicu protes dari warga setempat. Ia mengklaim bahwa key issue ini tidak hanya mengenai hukum, tetapi juga nilai budaya yang terancam oleh konten yang dianggap tidak tepat. Kehadirannya di Polda Metro Jaya menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum.
“Saya kaget ketika melihat wajah saya di situ. Tidak pernah mengetahui bahwa saya akan terlibat dalam film. Saya ingin pemutaran film tersebut dihentikan segera,” imbuhnya.
Sebagai tanggapan, Dandhy Laksono, sang pembuat film, mengunggah postingan di Instagram pada 29 Mei 2026. Ia memperkenalkan perspektifnya bahwa film ‘Pesta Babi’ memperlihatkan kehidupan di pedalaman Papua secara objektif. Menurut Dandhy, Key Issue ini muncul karena filmnya dianggap menyimpang dari realitas yang ia amati.
“Kawan-kawan, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang dialami Yasinta Moiwend di pedalaman Papua. Apa pun yang muncul di media sosial, kita perlu menahan diri agar tidak menghakimi beliau. Jika semua yang disampaikan murni dari kehendak sendiri, maka setiap orang punya hak untuk memilih,” tulis Dandhy.
