Malaysia Tetap Tolak Akui Israel di Tengah Tekanan Diplomatik AS
Wahanaberita.com – Kuala Lumpur kembali menegaskan posisinya yang konsisten dalam Malaysia Tetap Tolak Akui Israel meskipun tekanan dari Amerika Serikat semakin meningkat. Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa keputusan untuk tidak memberikan pengakuan resmi kepada Israel merupakan komitmen jangka panjang yang tidak akan bergeser, terlepas dari berbagai upaya diplomasi dan tekanan politik dari Washington. Ketegangan antara kedua negara ini semakin memuncak setelah Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada 15 Juli lalu mengumumkan kebijakan tegas untuk mengusir seluruh warga negara Israel yang berada di Malaysia.
Respons Tegas dari Kongres Amerika Serikat
Pernyataan tegas dari Anwar Ibrahim tersebut langsung memicu kemarahan di kalangan anggota Kongres Amerika Serikat. Sejumlah legislator AS mengirimkan surat resmi kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dengan tuntutan agar Washington meninjau ulang hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia. Salah satu permintaan utama yang disampaikan adalah penghentian pendanaan untuk program “Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional” yang selama ini memberikan pelatihan kepada personel militer Malaysia. Program ini merupakan salah satu bentuk kerja sama pertahanan antara kedua negara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ketegangan diplomatik ini berujung pada pemanggilan Duta Besar Malaysia untuk AS, Shahrul Ikram, oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat beberapa hari lalu. Pemanggilan ini menunjukkan tingkat keparahan situasi yang dihadapi Malaysia dalam hubungannya dengan Washington.
Kebijakan yang Telah Ada Sejak Lama
Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, yang dikutip dari Middle East Monitor pada Selasa (28/7/2026), menjelaskan bahwa Dubes Shahrul telah menyampaikan posisi negara tersebut setelah dipanggil. Hasan menekankan bahwa sikap Malaysia terhadap Israel bukanlah hal baru atau sekadar respons terhadap perkembangan terbaru, melainkan kebijakan resmi yang telah ada sejak lama dan dipertahankan oleh berbagai pemerintahan yang berkuasa secara berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa Malaysia Tetap Tolak Akui Israel bukan hanya kebijakan sementara, melainkan prinsip fundamental dalam hubungan luar negeri negara tersebut.
“Ini memang sudah menjadi kebijakan Malaysia sejak lama. Kebijakan imigrasi kami tidak mengakui negara Israel ataupun rezim Zionis. Ini sudah sejak lama menjadi posisi kami,” tegas Menlu Hasan seperti dikutip kantor berita Bernama.
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Malaysia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Selain itu, negara ini juga memberlakukan larangan bagi pemegang paspor Israel untuk memasuki wilayahnya sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perjuangan Palestina. Larangan ini telah berlaku sejak lama dan menjadi salah satu ciri khas kebijakan luar negeri Malaysia di kawasan Asia Tenggara.
Komitmen Kuat untuk Palestina dan Gaza
Pernyataan terbaru dari Menlu Malaysia ini datang beberapa hari setelah Anwar Ibrahim kembali menegaskan komitmen pemerintahannya terhadap kebijakan non-pengakuan Israel. Dalam pernyataannya, Anwar menyatakan bahwa Malaysia akan terus menyuarakan dukungan untuk Palestina dan Gaza, meskipun ada negara-negara yang bersikap selektif atau bahkan diam terhadap kekejaman yang terjadi. Posisi ini menunjukkan bahwa Malaysia Tetap Tolak Akui Israel sejalan dengan solidaritas regional dan internasional terhadap rakyat Palestina.
“Malaysia merupakan negara yang merdeka dan kami menggunakan hak-hak kami dan bangga untuk menyatakan bahwa rakyat Malaysia menjunjung tinggi martabat manusia serta menghormati semangat kemanusiaan,” ucapnya.
“Kami akan terus melanjutkan kebijakan ini dan tidak akan mengizinkan warga negara Israel menginjakkan kaki di Malaysia,” tegas PM Malaysia tersebut.
Dengan demikian, situasi diplomatik antara Malaysia dan Amerika Serikat masih terus berkembang. Namun, jelas bahwa Malaysia Tetap Tolak Akui Israel sebagai prinsip yang tidak dapat ditawar-tawar. Pemerintah Malaysia menunjukkan keteguhan hati dalam mempertahankan posisinya, meskipun menghadapi tekanan dari salah satu sekutu terdekatnya di dunia internasional. Langkah-langkah selanjutnya akan bergantung pada perkembangan lebih lanjut dalam hubungan bilateral kedua negara serta dinamika politik regional di kawasan Timur Tengah.

