Tri Tito Hadiri Syukuran 46 Tahun Dekranas dengan Baju Adat Sulsel
Perayaan Budaya di Trans Studio Mall Makassar
Solving Problems di tengah tantangan global, Tri Tito Karnavian, Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), hadir dalam acara syukuran ulang tahun ke-46 Dekranas di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sulawesi Selatan. Kehadirannya memakai baju adat Sulsel, yaitu bodo, menjadi simbol upaya memperkuat identitas budaya Indonesia sebagai bagian dari strategi Solving Problems dalam industri kerajinan. Acara ini mengusung tema ‘Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia’ yang menekankan pentingnya inovasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan kreativitas lokal.
Kontribusi Makassar dalam Pengembangan Kerajinan Nasional
Dalam perayaan yang dihadiri lebih dari 3.000 peserta, termasuk pengurus Dekranas dan Dekranasda di berbagai daerah, Selvi Gibran Rakabuming, Ketua Umum Dekranas, membuka acara dengan pernyataan yang menonjolkan peran Kota Makassar sebagai pusat pengembangan industri kriya. Ia menyatakan bahwa Solving Problems dalam sektor ini tidak hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas transformasi yang mengakomodasi kebutuhan pasar global dan penghargaan terhadap nilai budaya tradisional. “Makassar selalu menarik perhatian. Selain wisatanya, kulinernya juga luar biasa. Hari ini kita tampil berwarna-warni sesuai ciri khas masyarakat Makassar. Semua tampil cantik dan memukau,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).
“Kalau orang Makassar bilang, cantik na ngaseng, kalau orang Bugis bilang, mancentik manengki,” imbuh Selvi Gibran Rakabuming. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa Solving Problems dalam industri kerajinan memerlukan pendekatan yang memadukan keunikan lokal dengan inovasi modern.
Strategi Solving Problems dalam Industri Kriya
Acara syukuran kali ini menjadi momentum untuk mengevaluasi langkah-langkah Solving Problems yang telah diambil dalam beberapa tahun terakhir. Selvi Gibran Rakabuming menekankan bahwa keberhasilan pembinaan perajin tidak cukup dinilai dari jumlah kegiatan, tetapi dari manfaat konkret yang dirasakan. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama di industri kerajinan global, berkat kekayaan budaya dan sumber daya alam yang melimpah.
Kehadiran Tri Tito Karnavian, yang juga merupakan mantan Menteri Koordinator Bidang Polhukam, memberikan semangat baru dalam Solving Problems. Menurutnya, tantangan utama industri kriya adalah persaingan pasar, perkembangan teknologi, dan perubahan tren konsumen. “Produk kerajinan harus memiliki nilai estetika, kualitas tinggi, desain menarik, dan tetap menjaga identitas budaya Indonesia,” tambah Selvi, menggarisbawahi pentingnya konsistensi dalam menjaga warisan budaya sambil mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah Konkret untuk Mengatasi Tantangan Industri
Dalam upaya Solving Problems, Dekranas dan Dekranasda diharapkan berperan sebagai fasilitator yang membantu perajin mengakses modal, pelatihan desain, dan digitalisasi produk. Selvi Gibran Rakabuming menegaskan bahwa transformasi organisasi harus berorientasi pada solusi yang berkelanjutan, seperti pemasaran global dan manajemen keuangan yang efektif. “Kita perlu menciptakan ekosistem yang mendukung perajin untuk berkompetisi di kancah internasional,” katanya, menyoroti kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mengatasi masalah struktural.
Kunjungan Tri Tito Karnavian ke pameran kriya dan wastra juga menunjukkan komitmen dalam Solving Problems. Ia menilai bahwa bentuk-bentuk kreativitas seperti baju adat Sulsel tidak hanya memperkaya ruang seni, tetapi juga menjadi media untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya perlindungan budaya. “Dekranas harus menjadi wadah yang mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang,” ujarnya, menggambarkan tantangan sebagai alat untuk menciptakan solusi yang lebih baik.
Peran Pemerintah Daerah dalam Kolaborasi Nasional
Solusi masalah dalam industri kerajinan tidak bisa tercapai tanpa dukungan pemerintah daerah. Hadirnya Gubernur Sulsel Andi Amran Sulaiman dan Ketua Dekranasda Sulsel Naoemi Octarina menunjukkan komitmen regional dalam memperkuat ekosistem nasional. Kehadiran Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi serta pihak terkait lainnya membuktikan bahwa Solving Problems memerlukan sinergi antar-sektor, baik dalam pengembangan bahan baku seperti keramik, serat alami, batu, kayu, maupun logam.
Kerja sama antara pemerintah daerah dan Dekranas menjadi pondasi untuk mengatasi hambatan ekonomi dan sosial yang dihadapi perajin. Selvi Gibran Rakabuming menyebutkan bahwa akses ke perizinan ekspor dan sumber daya teknologi merupakan langkah penting dalam mengubah industri kriya menjadi lebih kompetitif. “Solusi harus berpangkalan pada kebutuhan nyata perajin, bukan hanya tren jangka pendek,” pungkasnya, menyoroti pentingnya konsistensi dalam pendekatan Solving Problems.
Potensi Global dan Konsistensi Budaya
Solving Problems dalam sektor kriya juga terlihat dari upaya Dekranas untuk menarik perhatian pasar global. Acara syukuran ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga ajang promosi produk lokal yang memiliki daya tarik internasional. Selvi Gibran menekankan bahwa perajin harus diberikan ruang untuk mengembangkan inovasi tanpa kehilangan akar budaya. “Kita ingin dunia mengenal kriya Indonesia, bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai bagian dari identitas nasional yang unik,” katanya, menegaskan bahwa Solving Problems membutuhkan strategi yang berkelanjutan dan inklusif.
Kehadiran Tri Tito Karnavian sebagai salah satu pengambil kebijakan menambahkan dimensi politik dalam Solving Problems. Ia menyebutkan bahwa pemerintah daerah perlu menjadi mitra aktif dalam pembinaan kriya, terutama dalam mengakses pasar ekspor dan meningkatkan kualitas produk. “Dekranas tidak hanya organisasi, tetapi juga wadah yang mampu membangun solusi untuk masalah struktural di sektor kriya,” tambah Tri Tito, menggarisbawahi peran lembaga tersebut dalam mendukung pengembangan industri secara bertahap.
