Viral Perairan di Papua Dipenuhi Batu Apung, BMKG: Sumber dari Gunung Api Bawah Laut
Viral Perairan di Papua Dipenuhi Batu – Kebocoran informasi menunjukkan bahwa perairan di wilayah Papua kini dipenuhi dengan batu apung, fenomena yang viral di media sosial. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan tentang asal-usul dan dampak dari kejadian ini, menyebutkan bahwa batu apung tersebut berasal dari letusan vulkanik di Laut Bismarck, utara Papua Nugini. Fenomena ini menarik perhatian publik karena menunjukkan bagaimana aktivitas geologis bawah laut dapat memengaruhi lingkungan di sekitar wilayah pesisir.
Proses Terbentuknya Batu Apung di Perairan Papua
Batu apung yang menyelimuti perairan di Sarmi dan Biak, Papua, sebagian besar dianggap sebagai hasil dari letusan Gunung Api Bawah Laut di Selat Loniu. Heri Purnomo, Kepala Stasiun BMKG Maritim Jayapura, menjelaskan bahwa batu apung terbentuk dari magma yang meledak ke permukaan laut dan mengapung karena memiliki porositas tinggi serta berat jenis kurang dari air. Fenomena ini tidak langka, tetapi jarang terjadi dengan intensitas seperti saat ini.
“Batu apung yang kita lihat saat ini terbawa oleh arus laut dari letusan vulkanik di wilayah laut utara Papua Nugini. Kami masih menelusuri detail letusan tersebut,” kata Heri, Rabu (8/7/2026).
Menurut Heri, keberadaan batu apung di perairan Papua disebabkan oleh massa magma yang meledak dan terbawa arus ke arah barat. Letusan ini menghasilkan sedimen vulkanik yang menyebar ke seluruh wilayah, termasuk perairan Sarmi hingga Biak. BMKG mencatat bahwa batu apung yang terapung di laut memengaruhi sistem transportasi air, mengubah pola arus, dan menciptakan kondisi baru di sekitar pesisir.
Dampak Batu Apung pada Lingkungan dan Aktivitas Pelayaran
Seiring menyebar, batu apung berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran dan nelayan di sekitar wilayah tersebut. Menurut BMKG, material vulkanik yang mengapung dapat menyebabkan pendangkalan di dasar laut, mengurangi kedalaman perairan, dan memengaruhi ekosistem terumbu karang. Namun, hingga saat ini belum ada indikasi bahaya signifikan terhadap kehidupan laut atau penduduk setempat.
“Penumpukan batu apung di perairan Papua memerlukan pemantauan terus-menerus. Jika kondisi terus memburuk, kita perlu mengambil langkah-langkah pencegahan,” jelas Heri.
Batu apung yang mengapung di perairan Papua juga dapat berdampak pada aktivitas nelayan. Dengan sedimen vulkanik yang menumpuk di dasar laut, perahu nelayan bisa mengalami hambatan saat melintas atau mendaratkan hasil tangkapan. BMKG memberi peringatan agar nelayan memantau kondisi perairan dan siap menghadapi perubahan yang mungkin terjadi.
Batu apung, yang terbentuk dari material yang meledak dari gunung api bawah laut, memiliki dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Selain memengaruhi ekosistem, batu apung juga dapat menjadi indikator kegiatan vulkanik yang intensif. BMKG menyatakan bahwa fenomena ini bisa berlangsung beberapa hari hingga mingguan, tergantung pada intensitas letusan dan kecepatan arus laut.
Pengamatan BMKG dan Kesiapan untuk Respon Darurat
BMKG terus melakukan pemantau
