Internasional

Solution For: Imigrasi Malaysia Down Berjam-jam, Puluhan Ribu Orang Antre Panjang

i untuk Antrean Panjang di Imigrasi Malaysia Solution For - Ribuan pekerja Malaysia mengalami hambatan serius dalam perjalanan ke Singapura akibat kegagalan

Desk Internasional
Published Mei 29, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Solusi untuk Antrean Panjang di Imigrasi Malaysia

Solution For – Ribuan pekerja Malaysia mengalami hambatan serius dalam perjalanan ke Singapura akibat kegagalan sistem imigrasi yang berlangsung berjam-jam. Antrean panjang terjadi di seluruh titik pemeriksaan, termasuk perbatasan Johor, yang memakan waktu hingga puluhan ribu orang menunggu sepanjang hari. Masalah teknis ini memperparah kesengsaraan masyarakat, terutama para pekerja yang mengandalkan akses cepat ke luar negeri.

Permasalahan Sistem Digital Menjadi Pemicu Kesengsaraan

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (29/6/2026), laporan The Star menyebutkan kegagalan sistem digital berlangsung hingga lima jam, memaksa petugas imigrasi beralih ke layanan manual. Layanan seperti loket manual, jalur sepeda motor, dan pemeriksaan kendaraan berat dioperasikan sebagai upaya darurat untuk mengatasi antrian yang mengular. Kejadian serupa sebelumnya terjadi pada 23 April, menyebabkan keterlambatan hampir dua jam bagi pelancong.

“Kami terpaksa menurunkan seluruh staf untuk mengoperasikan loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan kendaraan berat,” kata seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri kepada The Star.

“Tidak hanya alat otomatis yang tidak bekerja, sistem pengenalan wajah pun mengalami kegagalan,” tambahnya.

Kerusakan sistem ini menimbulkan kekhawatiran terhadap efektivitas layanan imigrasi Malaysia. Sebanyak 114 titik pemeriksaan di seluruh negeri terdampak, dengan tambahan personel keamanan ditempatkan untuk memastikan alur lalu lintas tetap terjaga. Solusi For berupaya meminimalkan gangguan ini dengan mempercepat perbaikan sistem, meski belum sepenuhnya memecahkan akar masalah.

Sistem Lama diincar Risiko Teknis

Direktur Jenderal Departemen Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, menjelaskan bahwa kegagalan terjadi sekitar pukul 05.00 dan berlangsung hingga 08.45 pagi. Sumber masalah berasal dari gangguan di pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs), yang telah berusia tiga dekade. “Sistem kembali online setelah perbaikan dilakukan. Tidak ada indikasi penyerangan, tapi usia sistem ini membuat risiko kegagalan pasti terjadi,” ujarnya, seperti dilansir The Star.

Perbaikan sistem MyIMMs menjadi fokus pemerintah untuk menghindari kesengsaraan yang sama di masa depan. Solusi For diharapkan dapat mencegah kegagalan serupa dengan mengintegrasikan teknologi modern. Selain itu, sistem baru bernama Sistem Imigrasi Terpadu Nasional (NIISe) yang akan diluncurkan pada 2028, dirancang untuk meningkatkan efisiensi verifikasi dokumen dan pemeriksaan visa.

Pelaku Pekerjaan Terdampak Lalu Lintas yang Macet

Para pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di pos pemeriksaan mengeluhkan keterlambatan yang memengaruhi produktivitas mereka. M Satish, seorang pekerja berusia 35 tahun, mengatakan ia menghabiskan hampir 40 menit di KSAB, padahal biasanya hanya butuh 10 menit. “Solusi For ini penting agar tidak ada penggangguan terhadap jadwal kerja,” katanya.

Di BSI, Soh Qiao Shi, akuntan berusia 28 tahun, menyebut proses imigrasi memakan waktu lebih dari 30 menit. “Kedua sistem pemindai kode QR dan gerbang paspor otomatis tidak berfungsi. Hanya loket manual yang bisa digunakan, membuat semua orang harus berbaris,” tuturnya. Fenomena ini menciptakan kepadatan di perbatasan Johor, dengan foto dan video antrean panjang viral di media sosial.

Penyebab utama kegagalan sistem adalah kelemahan infrastruktur teknologi yang telah usang. Solusi For untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan perlu diuji sebelum peluncuran NIISe pada 2028. Meski demikian, perbaikan saat ini menjadi langkah darurat untuk mengatasi kesengsaraan warga yang terus berlanjut.

“Pemerintah sedang mempercepat proses perbaikan, tapi kita perlu solusi For yang lebih jangka panjang untuk menghindari gangguan serupa,” ujar Zakaria Shaaban.

“Sistem yang lama beroperasi tidak hanya rentan error, tapi juga kurang responsif terhadap kebutuhan pekerja saat ini,” tambahnya.

Leave a Comment