Israel Terus Menyerang Lebanon Saat Gencatan Senjata Berlangsung
Serangan Israel Tewaskan 14 Orang di Lebanon – Sejumlah 14 korban tewas dan ratusan orang lainnya terluka akibat rangkaian serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon, yang terjadi saat gencatan senjata berlaku. Serangan ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang ditandatangani antara Israel dan Lebanon, dengan beberapa korban jatuh dalam serangan mematikan terbaru. Pemerintah Lebanon mengakui adanya serangan-serangan yang terus berlangsung, meski gencatan senjata resmi diberlakukan sejak 17 April lalu.
Jumlah Korban dan Dampak Serangan
Dilansir Anadolu Agency, Selasa (2/6/2026), serangan Israel menghantam bangunan dan tempat parkir di persimpangan Maarka dekat Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre, menyebabkan dua warga tewas dan 23 orang terluka, menurut kantor berita negara NNA. Serangan ini juga menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur medis, sehingga mengganggu layanan kesehatan bagi masyarakat setempat. “Serangan itu mengakibatkan kerusakan signifikan pada rumah sakit, menurut seorang reporter Anadolu,”
Dalam serangan yang terjadi di Chehabiyeh, distrik Tyre, satu warga tewas dan satu korban luka dilaporkan. Sementara itu, serangan drone Israel terhadap kendaraan di jalan Zefta-Nabatieh menewaskan pengemudi dan melukai petugas medis yang berada di sekitarnya, menurut laporan NNA. Dua korban jiwa tambahan terjadi saat drone Israel menyerang kendaraan di Braiqaa, kota di selatan, sedangkan seorang warga Suriah tewas dalam serangan terpisah di dekat Rumah Sakit Sheikh Ragheb Harb di Toul.
Serangan udara Israel pada malam hari menewaskan lima warga di Kfar Sir, kota di selatan Lebanon, kata NNA. Dua korban jiwa juga terjadi di Zebdine dalam serangan terpisah, menurut sumber yang sama. Kombinasi serangan udara dan drone menunjukkan intensitas yang tinggi, dengan korban meninggal dan cedera menyebar ke berbagai wilayah. Pemerintah Lebanon mengklaim bahwa serangan-serangan ini terjadi meski pihaknya telah mematuhi perjanjian gencatan senjata.
Latar Belakang Gencatan Senjata
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pertama kali diberlakukan pada 17 April 2024, setelah negosiasi yang dipimpin oleh AS berhasil menghasilkan kesepakatan. Perjanjian ini berlaku selama 45 hari, memberi waktu bagi kedua pihak untuk mengatur kembali pertahanan dan mengurangi konflik. Namun, beberapa hari setelah gencatan senjata dimulai, Israel terus menargetkan Lebanon, menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut tidak sepenuhnya menghentikan aksi militer.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret 2024 telah mengakibatkan kematian lebih dari 3.400 warga di berbagai wilayah. Angka ini mencerminkan dampak jangka panjang dari konflik yang berkepanjangan, yang terus berlangsung meski ada jeda untuk kesepakatan. Serangan terbaru pada 2 Juni menambah kerusakan dan ketidakstabilan di daerah-daerah yang terlibat dalam perang.
Reaksi Dunia Internasional
Reaksi dari berbagai negara dan organisasi internasional terhadap serangan Israel ini bersifat kritis. Beberapa pihak menilai bahwa aksi militer Israel melanggar prinsip kesepakaman, sementara yang lain mempertanyakan keefektifan gencatan senjata dalam menghentikan pertarungan. Organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch mengungkapkan kekhawatiran terhadap jumlah korban dan penggunaan senjata yang berlebihan.
Di tingkat regional, negara-negara tetangga seperti Suriah dan Yordania mengecam serangan tersebut, menyatakan dukungan terhadap Lebanon. Pada sisi lain, Arab Saudi dan Mesir memberikan penjelasan bahwa mereka sedang memantau situasi secara aktif. Meski demikian, tidak ada tanda-tanda bahwa Israel akan menghentikan serangan secara permanen, yang membuat masyarakat internasional terus mengawasi perkembangan di wilayah tersebut.
Sebagai respons atas serangan, PBB mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mendukung upaya untuk memulihkan perdamaian di Lebanon. Namun, tingkat kecemasan tetap tinggi karena serangan-serangan terus berlangsung, dengan potensi melibatkan korban tambahan. Pemimpin organisasi media seperti Al Jazeera dan BBC juga menyebutkan bahwa serangan Israel terbaru menunjukkan ketegangan yang belum berkurang, meski ada kesepakatan yang berlaku.
