Internasional

New Policy: AS-Iran Mau Damai, Israel Ogah Tarik Pasukan dari Lebanon-Suriah-Gaza

New Policy: AS dan Iran Sepakat Damai, Israel Teguh Tidak Tarik Pasukan dari Lebanon, Suriah, dan Gaza New Policy - Dalam konteks New Policy yang baru

Desk Internasional
Published Juni 15, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

New Policy: AS dan Iran Sepakat Damai, Israel Teguh Tidak Tarik Pasukan dari Lebanon, Suriah, dan Gaza

New Policy – Dalam konteks New Policy yang baru diterapkan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkapkan bahwa pasukan negara itu akan tetap berada di wilayah yang didudukinya di Lebanon, Suriah, dan Jalur Gaza tanpa batas waktu. Pernyataan ini dikeluarkan beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menyelesaikan konflik di wilayah Timur Tengah, termasuk Lebanon. New Policy ini menjadi fokus utama dalam upaya mencapai kestabilan regional, tetapi Israel menegaskan komitmennya untuk tetap mempertahankan kehadiran militer sebagai langkah perlindungan.

Konteks Perjanjian Damai AS-Iran

Perjanjian damai antara AS dan Iran, yang diumumkan pada pagi hari Senin (15/6/2026), menjadi alasan utama bagi New Policy yang diterapkan. PM Pakistan, Shehbaz Sharif, menyoroti kesepakatan ini sebagai titik balik dalam konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut pernyataannya, kedua pihak menyetujui penghentian “segera dan permanen” perang di semua front, termasuk wilayah Lebanon, Suriah, dan Gaza. Namun, New Policy ini tidak sepenuhnya mengubah strategi Israel, karena kebijakan negara itu tetap fokus pada keamanan dan keterlibatan militer.

“New Policy ini tidak mengurangi kemampuan kita untuk bertindak di mana pun diperlukan. Pasukan Angkatan Bersenjata Israel (IDF) akan tetap berada di zona keamanan Lebanon, Suriah, dan Gaza tanpa batas waktu, demi melindungi perbatasan serta komunitas Israel dari ancaman elemen jihadis,” jelas Katz dalam wawancara dengan AFP.

Katz menambahkan bahwa New Policy ini dirancang untuk mengimbangi kebijakan AS yang menekankan dialog damai. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk tidak menarik pasukan dari Lebanon dan Suriah tidak dipengaruhi oleh perjanjian dengan Iran, melainkan oleh kebutuhan strategis Israel untuk memastikan dominasi di wilayah tersebut. “Kami tidak akan mundur meski ada tekanan dari negara-negara lain, karena New Policy ini justru memperkuat posisi kita di kawasan ini,” tegasnya.

Strategi Militer Israel dan Pengaruh New Policy

Penjelasan Katz tentang New Policy dianggap sebagai langkah penting dalam memperjelas visi pertahanan Israel. Menurut laporan, kebijakan ini diputuskan setelah analisis mendalam mengenai dampak perang di Lebanon terhadap stabilitas regional. New Policy berarti Israel tetap mempertahankan kekuatannya di kawasan yang secara geopolitik sensitif. Pernyataan ini juga menunjukkan bahwa negara itu tidak ingin kehilangan keterlibatan langsung dalam konflik yang melibatkan Iran dan kumpulan gerilya seperti Hezbollah.

“New Policy ini memberi kita kebebasan untuk mengambil tindakan terhadap ancaman dari semua arah, termasuk dari wilayah Lebanon yang menjadi pangkalan utama gerakan jihadis,” ujar Katz. “Kami akan memastikan bahwa semua infrastruktur teroris, baik di permukaan maupun bawah tanah, dihancurkan guna memutus rantai perang yang berkelanjutan.”

Persahabatan antara AS dan Iran dalam New Policy dinilai sebagai dorongan untuk menurunkan intensitas konflik, tetapi Israel tetap mempertahankan sikap defensifnya. Pihak berwenang di Tel Aviv memperkirakan bahwa kebijakan ini akan membantu mengurangi tekanan dari pihak-pihak yang menginginkan perang melawan negara itu. Namun, ada kekhawatiran bahwa New Policy akan menjadi alasan bagi Iran untuk terus membangun kemampuan militer di wilayah Timur Tengah.

Analisis terhadap New Policy menunjukkan bahwa Israel menekankan kebutuhan untuk tetap memiliki kekuatan militer di daerah kritis. Selain itu, kebijakan ini juga mencerminkan keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mengedepankan keamanan nasional di atas keinginan untuk mendamaikan konflik. Dalam wawancara, Katz mengungkapkan bahwa New Policy ini tidak hanya berdampak pada Lebanon, tetapi juga akan memengaruhi kebijakan pertahanan di Suriah dan Jalur Gaza.

“New Policy ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan bahwa Israel tidak hanya bertahan, tetapi juga berkuasa di wilayah yang mengancam kita,” jelas Katz. “Kami tidak akan menarik pasukan dari Lebanon kecuali semua ancaman teroris di sana dihancurkan.”

Persiapan untuk Tindakan Lanjutan

Katz juga menyampaikan bahwa Israel akan menyerang Iran “dengan kekuatan penuh” jika negara Syiah itu memulai operasi terhadap Tel Aviv sebagai respons atas perang di Lebanon. Ia menekankan bahwa keamanan Israel dan perlindungan warga negaranya adalah prioritas utama. New Policy ini menjadi dasar untuk meningkatkan koordinasi antara Israel dan AS dalam menghadapi ancaman dari Iran, meskipun ada ketegangan dalam hubungan bilateral.

Dalam wawancara dengan AFP dan Anadolu Agency, Katz menjelaskan bahwa New Policy ini sudah dipertimbangkan oleh Netanyahu dalam rapat dengan Presiden AS Donald Trump dan pejabat senior lainnya. “Saya telah menyampaikan secara jelas kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahwa kebijakan ini sangat penting untuk memastikan keterlibatan militer Israel dalam konflik Timur Tengah tetap stabil dan berkelanjutan,” lanjutnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa New Policy tidak hanya bersifat strategis, tetapi juga memiliki dampak politik yang luas.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa New Policy menjadi alat untuk menyeimbangkan kebijakan diplomatik dan militer. Dengan mengumumkan keputusan untuk tetap mempertahankan pasukan di wilayah Timur Tengah, Israel menegaskan bahwa negara itu tidak ingin kehilangan kendali atas daerah-daerah kritis. Meskipun AS dan Iran mencapai kesepakatan damai, New Policy tetap menjadi jaminan bahwa Israel memiliki kekuatan untuk mempercepat tindakan jika diperlukan.

Leave a Comment