Key Strategy: Iran Yakin Kemungkinan Perang Lagi dengan AS Kecil
Key Strategy – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa kemungkinan perang kembali dengan Amerika Serikat tetap menjadi prioritas dalam rencana pertahanan mereka. Meski situasi saat ini terlihat relatif stabil, para pejabat militer Iran menyatakan bahwa pihak mereka selalu siap mengambil tindakan tegas jika terjadi provokasi dari pihak AS. Dalam beberapa minggu terakhir, Iran memperkuat posisi militernya di Selat Hormuz, yang dianggap sebagai jalur vital untuk keamanan energi global.
Penegasan ini muncul setelah pihak Iran menuding AS melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak April 2024. IRGC mengingatkan bahwa jika AS atau sekutunya melakukan serangan terberat, Iran akan segera membalas dengan strategi yang sudah direncanakan secara matang. Kementerian Pertahanan Iran juga memberikan pernyataan bahwa mereka sedang meningkatkan kapasitas operasional pasukan untuk memastikan siap menghadapi ancaman dari luar.
Konteks Perang Timur Tengah
Konflik Timur Tengah kembali memanas setelah serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran di akhir Februari 2025. Serangan tersebut dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap perjanjian nuklir yang telah ditandatangani sebelumnya. Meski tidak terjadi pertempuran langsung, kecemasan meningkat karena AS dan sekutunya dituduh mengancam keamanan Iran melalui operasi udara dan intelijen. Menurut laporan kantor berita Iran, situasi ini menjadi momentum untuk memperkuat Key Strategy dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Meskipun risiko perang kembali terlihat kecil karena kelemahan musuh, angkatan bersenjata Iran tetap menunggu dengan persiapan lengkap,” ujar Mohammad Akbarzadeh, wakil kepala politik angkatan laut IRGC, seperti dilaporkan Al Arabiya pada Kamis (28/5/2026).
Akbarzadeh menegaskan bahwa militer Iran telah menyiapkan skenario terburuk, termasuk mengubah Selat Hormuz menjadi zona perang jika diperlukan. Strategi ini tidak hanya berupa pembangunan kapal perang, tetapi juga memperkuat koordinasi dengan negara-negara kawasan seperti Suriah dan Lebanon, serta mengerahkan pasukan dari dalam negeri untuk mengantisipasi skenario terburuk. Kementerian Pertahanan Iran juga mengatakan bahwa mereka telah memperbaiki sistem pertahanan udara dan laut di sepanjang perairan Selat Hormuz.
Persiapan Melawan Agresi
Kementerian Intelijen Iran mengungkapkan bahwa AS dan Israel terus berusaha menggulingkan pemerintahan Iran serta memecah belah negara tersebut. Pihak intelijen menyebutkan adanya bukti bahwa musuh menyelundupkan senjata, amunisi, serta perangkat Starlink ke wilayah Iran. Key Strategy juga mencakup penggunaan teknologi siber untuk mengganggu operasi militer AS, termasuk menghambat komunikasi dan sistem navigasi mereka.
Perang kata-kata antara Iran dan AS telah berlangsung selama beberapa minggu, sementara upaya mediasi diarahkan oleh Pakistan. Kedua pihak tampak belum bersedia menyerah pada kesepakatan yang memperketat tuntutan, khususnya terkait Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Meski AS berulang kali menegaskan komitmen pada perjanjian, Iran menolak menurunkan standar persyaratan mereka, yang menjadi bagian dari Key Strategy mereka untuk memastikan keberhasilan negosiasi.
Iran memblokir Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global, sebagai bentuk balasan atas aksi serangan. AS membalas dengan memblokir akses pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada hari Rabu (27/5), angkatan laut IRGC menyatakan hanya kapal yang “menuruti instruksi Iran” yang boleh melewati selat tersebut. Ini adalah bagian dari Key Strategy yang dirancang untuk mengontrol lalu lintas laut dan menghancurkan ekonomi AS melalui tekanan pada jalur perdagangan.
“Kesepakatan damai masih bisa tercapai, tetapi Selat Hormuz akan dibuka kembali dengan cara apa pun,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Selasa lalu.
Dalam keseluruhan Key Strategy Iran, faktor geopolitik dan ekonomi menjadi perhatian utama. Pasar energi global terganggu akibat blokade yang dilakukan Iran, yang berdampak pada harga minyak dan stabilitas ekonomi negara-negara lain. Selain itu, Iran juga memperkuat hubungan dengan negara-negara non-barat, termasuk Rusia, Tiongkok, dan negara-negara Arab, untuk membangun solidaritas internasional. Pernyataan pejabat IRGC menegaskan bahwa Key Strategy tidak hanya fokus pada kekuatan militer, tetapi juga pada diplomasi dan koordinasi strategis dengan sekutu global.
