Israel Serang Kepala Sayap Militer Hamas Baru di Gaza
Israel Targetkan Serangan ke Kepala Sayap Militer – Pasukan keamanan Israel kembali menargetkan pemimpin baru dari sayap bersenjata Hamas, yakni Mohammed Odeh, dalam serangan terbaru yang berlangsung di wilayah Gaza. Operasi ini dilakukan setelah sebelumnya, Ezzedine Al-Haddad, komandan sebelumnya dari Brigade Ezzedine Al-Qassam, gugur dalam aksi serupa. Serangan ini menunjukkan upaya Israel untuk meruntuhkan struktur kepemimpinan Hamas dan menghambat kemampuan organisasi teroris tersebut dalam memperkuat operasi militer di kawasan tersebut.
Peran Odeh dalam Pembantaian 7 Oktober
“Mohammed Odeh dianggap sebagai tokoh penting dalam perencanaan serangan 7 Oktober yang menewaskan ratusan warga Israel,” jelas pernyataan dari Kementerian Pertahanan Israel, Rabu (27/5/2026).
Sebagai komandan Brigade Ezzedine Al-Qassam, Odeh dikenal aktif dalam menyusun strategi serangan lintas batas yang merugikan penduduk Israel. Dalam sebuah pernyataan resmi, Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan bahwa serangan terhadap Odeh dilakukan dalam rangka menggagalkan rencana operasi teror yang berdampak besar pada keamanan wilayah utara Palestina. Serangan tersebut berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya, menunjukkan intensitas dan kecepatan tindakan Israel dalam menekan Hamas.
Badan pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, melaporkan bahwa serangan udara Israel mengakibatkan kematian seorang perempuan di lingkungan Rimal, wilayah barat Kota Gaza. Insiden ini memperlihatkan dampak langsung dari serangan terhadap kepala sayap militer Hamas, yang berdampak pada keselamatan warga sipil dan meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintah Palestina.
Kampanye Serangan Israel Terhadap Hamas
Dalam upaya memperkuat dominasi militer di Gaza, Israel mengadakan serangkaian operasi yang melibatkan serangan terhadap pemimpin Hamas serta infrastruktur terorisnya. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa operasi ini menyebabkan kematian minimal 72.803 orang, dengan ribuan luka-luka dan kerusakan properti besar. Angka ini mencerminkan skala perang yang terus berlangsung antara Israel dan Hamas sejak serangan 7 Oktober.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan pengakuan terhadap data kematian yang disajikan oleh pihak Hamas dan Israel, meskipun angka-angka tersebut terus dipermasalahkan oleh berbagai pihak. Netanyahu, sebagai Perdana Menteri Israel, sebelumnya menegaskan komitmennya untuk menghancurkan gerakan teror yang terkait dengan serangan 7 Oktober, yang menewaskan 1.221 warga Israel. Serangan terhadap Odeh menjadi bagian dari rencana jangka panjang Israel untuk menekan pemimpin-pemimpin utama Hamas dan mengurangi kemampuan mereka dalam menyusun aksi perang.
Selain menargetkan Odeh, Israel juga melakukan serangan ke posisi Hamas di Lebanon, yang dianggap sebagai penghubung strategis organisasi teroris tersebut dengan pihak-pihak pendukungnya. Serangan tersebut menewaskan komandan senior Hizbullah, Hassan Nasrallah, serta Yahya Sinwar, yang dianggap sebagai dalang utama pembantaian 7 Oktober. Langkah ini menunjukkan koordinasi antara Israel dengan negara-negara lain dalam menghentikan aktivitas teroris.
Analisis Strategi Serangan ke Kepala Sayap Hamas
Menurut analis militer, strategi menargetkan kepala sayap militer Hamas memiliki dampak signifikan dalam merusak koordinasi operasi antar tim teroris. Dengan menggagalkan komandan utama seperti Odeh, Israel memaksa Hamas untuk mengalihkan perhatian ke sumber daya dan strategi baru, sehingga melemahkan kemampuan mereka dalam beroperasi secara efektif. Serangan ini juga memperlihatkan bahwa Israel menggunakan intelijen yang canggih untuk mengidentifikasi dan menetralisir ancaman terbesar dalam operasi perang.
Di sisi lain, keluarga dan pemerintah Hamas menyampaikan protes terhadap serangan ini, mengklaim bahwa tindakan Israel bertujuan memperluas perang ke wilayah Lebanon dan mengancam kesejahteraan warga sipil Palestina. Meski demikian, Israel berpendapat bahwa serangan ke kepala sayap militer Hamas adalah keharusan untuk melindungi penduduk Israel dan melawan terorisme. Dengan menewaskan Odeh, Israel berharap memicu kekacauan internal di dalam struktur Hamas dan mengurangi kapasitas mereka dalam mengancam wilayah Israel.
Perang antara Israel dan Hamas sejauh ini telah menciptakan tekanan besar pada masyarakat sipil di Gaza, yang menjadi korban utama dari serangan udara dan serangan darat. Masyarakat internasional memperhatikan perkembangan ini, dengan beberapa negara mengkritik tindakan Israel atas klaimnya bahwa serangan ke kepala sayap militer Hamas adalah bagian dari usaha untuk menegakkan keamanan. Namun, ada juga pihak yang mendukung langkah-langkah ini sebagai respons terhadap ancaman teroris.
