Dw

Uni Eropa Larang Bahan Kimia Berbahaya di Kemasan, Usaha Kecil Kelabakan

Sejak hari Rabu (12/08), ketentuan terbaru dari Uni Eropa telah resmi berlaku. Aturan ini bertujuan menekan jumlah limbah serta melindungi kesehatan publik

Desk Dw
Published Agustus 13, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments
uni-eropa-larang-bahan-kimia-berbahaya-di-kemasan-usaha-kecil-kelabakan-1786616409760
Foto : Betty Taylor - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Regulasi Baru UE Cegah Bahan Kimia PFAS di Kemasan Makanan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Regulasi Baru UE Cegah Bahan Kimia PFAS di Kemasan Makanan

Wahanaberita.com – Sejak hari Rabu (12/08), ketentuan terbaru dari Uni Eropa telah resmi berlaku. Aturan ini bertujuan menekan jumlah limbah serta melindungi kesehatan publik dengan melarang penggunaan kandungan PFAS dalam jumlah besar pada kemasan makanan. Senyawa kimia sintetis ini dikenal sebagai “bahan kimia abadi” karena sifatnya yang sangat stabil dan sulit terurai di alam.

Sesuai dengan PPWR atau Regulasi Kemasan dan Limbah Kemasan UE, setiap produk kemasan yang akan dipasarkan harus memenuhi standar ketat, khususnya jika dirancang untuk bersentuhan langsung dengan makanan.

Dampak Kesehatan dan Penggunaan PFAS

Para peneliti telah mengaitkan paparan PFAS dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker serta gangguan kesehatan lain. Meskipun tingkat paparan dari kemasan makanan umumnya rendah, kekhawatiran terhadap efek jangka panjang terus meningkat. Senyawa ini cenderung menumpuk dalam tubuh manusia maupun lingkungan karena sifatnya yang persisten.

Penggunaan PFAS sangat luas, terutama untuk membuat kemasan kertas dan karton yang tahan terhadap minyak dan air. Mulai dari kotak pizza hingga makanan beku siap saji, bahan kimia ini dapat ditemukan di berbagai produk.

Kemasan dengan kadar PFAS lebih rendah diharapkan dapat meminimalkan perpindahan bahan kimia tersebut ke makanan atau lingkungan ketika kemasan dibuang.

Kritik dari Pelaku Usaha Kecil

Aturan ini melengkapi pembatasan Bisphenol A (BPA) yang telah berlaku di seluruh UE sejak bulan sebelumnya. PPWR tidak mewajibkan perusahaan menarik atau menghancurkan kemasan yang sudah beredar di pasar sebelum Rabu ini.

Konsumen mungkin tidak merasakan perubahan signifikan, namun dunia usaha mengkritik keras regulasi ini. Selain standar keberlanjutan baru, pelaku usaha juga menghadapi tantangan birokrasi tambahan.

Banyak pedagang daring dan usaha kecil merasa beban biaya dan aturan baru terlalu berat. Salah satu keluhan utama adalah kewajiban mendaftarkan kemasan di berbagai negara UE yang sering kali memerlukan biaya tambahan.

“Alih-alih memudahkan perdagangan lintas batas, aturan baru ini justru mengancam untuk membuatnya jauh lebih sulit,” ungkap Händlerbund, asosiasi pengecer daring Jerman.

Händlerbund juga memberikan peringatan kepada anggotanya bahwa tidak ada batas minimum maupun pengecualian khusus untuk usaha kecil di bawah regulasi ini.

Elisabeth Dieringer, Anggota Parlemen Eropa dari Partai Kebebasan Austria (FPÖ) yang berhaluan kanan jauh, memperingatkan bahwa PPWR berpotensi menimbulkan biaya lima digit bagi perusahaan menengah. Ia menulis di platform X bahwa sementara perusahaan besar memiliki departemen khusus untuk menangani hal ini, usaha menengah hampir tidak memiliki alternatif selain bertahan atau bangkrut.

Kesulitan Operasional dan Penghentian Pengiriman

Beberapa pelaku usaha, mulai dari pedagang perorangan hingga perusahaan menengah, memutuskan untuk menghentikan pengiriman ke dan di dalam UE akibat aturan baru ini.

“Berdasarkan aturan ini, saya harus menunjuk perwakilan resmi di setiap negara UE yang saya kirimi. Biayanya sekitar 300 euro (sekitar Rp4,9 juta) per negara per tahun… biaya ini sungguh tidak terjangkau,” tulis pemilik toko daring kecil Monstaas Workshop melalui Instagram.

Produsen papan seluncur asal Swedia, iLabs Electronics, juga mengumumkan penghentian pesanan dari negara-negara UE melalui toko daring mereka. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa biaya dan beban administrasi PPWR kini tidak lagi sebanding dengan volume penjualan langsung mereka.

Sebuah petisi online di change.org telah mengumpulkan hampir 45.000 tanda tangan hingga Rabu pagi. Petisi tersebut mendesak Brussel untuk menghentikan kebijakan yang dinilai menghancurkan usaha mikro UE.

Volume Limbah Kemasan yang Meningkat

Masalah limbah kemasan di UE semakin serius. Komisi Eropa mencatat kenaikan limbah kemasan sebesar 20% dalam satu dekade terakhir. Tanpa adanya PPWR, Brussel memperkirakan volume limbah akan meningkat lagi sebesar 19% pada tahun 2030. Peningkatan ini didorong oleh booming belanja daring dan makanan siap saji.

Data UE menunjukkan bahwa pada tahun 2023, setiap orang di seluruh blok UE menghasilkan 178 kilogram limbah kemasan. Dari total tersebut, 35,3 kilogram merupakan kemasan plastik, dan hanya 42% yang berhasil didaur ulang.

Jerman mencatat angka yang jauh lebih tinggi dengan 215 kilogram per kapita pada tahun 2023. Menurut data Eurostat, badan statistik UE, setiap warga UE menghasilkan sekitar setengah kilogram limbah kemasan setiap harinya.

Brussel menyatakan bahwa volume limbah tumbuh lebih cepat dibandingkan tingkat daur ulang dalam satu dekade terakhir. Selain itu, kemasan menyumbang sekitar 40% dari konsumsi plastik di Eropa, sebagaimana disampaikan seorang pejabat UE dalam sesi pengarahan pada Selasa (11/08).

Target Jangka Panjang UE

Meskipun PFAS menjadi fokus utama dalam fase awal PPWR, UE telah menetapkan target ambisius untuk mengeliminasi limbah kemasan secara keseluruhan. Regulasi ini diharapkan dapat menciptakan sistem kemasan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan di masa depan.

Frequently Asked Questions

What is Uni Eropa Larang Bahan Kimia Berbahaya?

Uni Eropa Larang Bahan Kimia Berbahaya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Uni Eropa Larang Bahan Kimia Berbahaya matter?

Uni Eropa Larang Bahan Kimia Berbahaya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment