Visit Agenda: Polri Bongkar Markas Judol di Hayam Wuruk, Ketua Komisi III DPR Apresiasi
Visit Agenda – Dalam Visit Agenda terbaru, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam menindak perjudian online internasional yang berhasil dibongkar di lokasi markas di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Aksi ini menarik perhatian publik karena melibatkan 320 warga negara asing (WNA) serta satu warga negara Indonesia (WNI). Habiburokhman menekankan bahwa keberhasilan ini mencerminkan komitmen Polri untuk melindungi masyarakat dari bahaya perjudian digital yang semakin meresahkan.
Langkah Polri Sejalan dengan Visi Reformasi Hukum
“Komitmen Polri dalam Visit Agenda ini menjadi contoh nyata dalam penerapan reformasi hukum. Aksi penangkapan markas judol menunjukkan kemampuan lembaga keamanan untuk bergerak cepat dan profesional, bahkan dalam menghadapi kejahatan lintas batas. Tindakan ini bukan hanya mencegah kerugian ekonomi, tapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum Indonesia,” ujar Habiburokhman dalam jumpa pers, Senin (11/5/2026).
Habiburokhman menjelaskan bahwa perjudian online kini berubah menjadi bentuk kejahatan terorganisir yang memanfaatkan teknologi dan jaringan internasional. Dalam Visit Agenda, ia menyebutkan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten untuk memutus mata rantai kegiatan ilegal tersebut. Selain itu, ia menyoroti pentingnya koordinasi dengan lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam menindak praktik judi online yang berkembang pesat.
Pengungkapan Judol di Hayam Wuruk: Efek Domino pada Ekonomi dan Masyarakat
Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri, Brigjen Wira Satya Triputra, mengungkap bahwa operasi di Hayam Wuruk berhasil mengungkap jaringan perjudian yang menguntungkan ratusan juta rupiah per hari. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa Polri tidak hanya bertindak sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung kestabilan sosial dan ekonomi bangsa. “Kehadiran Polri dalam Visit Agenda ini membuktikan bahwa kita bisa menghadapi tantangan digital secara bersamaan dengan sektor pemerintahan dan swasta,” terang Wira dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (10/5).
Terlebih, operasi tersebut menimbulkan efek domino karena mengungkap adanya aliran dana besar yang digunakan untuk membiayai kegiatan judi online. Sejumlah pelaku dianggap sebagai aktor utama dalam mengatur sistem taruhan, sehingga tindakan Polri disebut sebagai langkah strategis untuk mematahkan operasi yang memperluas dampak sosial dan ekonomi. “Ini merupakan bagian dari Visit Agenda yang lebih luas, yakni upaya untuk menjaga Indonesia tidak menjadi basis kejahatan digital internasional,” tambah Wira.
Pentingnya Sinergi dalam Membongkar Perjudian Online
Ketua Komisi III DPR menggarisbawahi bahwa Visit Agenda ini bukan sekadar aksi tindakan tunggal Polri, melainkan hasil kolaborasi antara berbagai lembaga. Ia menekankan peran Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Perbendaharaan (BPK) dalam memantau transaksi dan sumber dana yang digunakan oleh jaringan judol. “Kita perlu memperkuat sinergi antar instansi agar tindakan Visit Agenda ini tidak hanya sekali terjadi, tapi menjadi standar dalam mengatasi masalah serupa di masa depan,” jelas Habiburokhman.
Menurutnya, keberhasilan operasi di Hayam Wuruk menjadi momentum penting untuk mendorong penguatan regulasi dalam ranah digital. “Judi online sekarang sudah menembus semua lapisan masyarakat, mulai dari anak sekolah hingga pekerja. Dengan Visit Agenda ini, kita memberi sinyal bahwa kejahatan digital tidak akan bisa bertahan lama jika ada konsistensi dalam pemerintahan dan kelembagaan,” tambah Habiburokhman.
“Kita juga harus mengedukasi masyarakat agar lebih waspada terhadap kegiatan judi online. Visit Agenda ini adalah langkah awal, tetapi perlu diikuti oleh kebijakan yang lebih menyeluruh untuk mencegah kejahatan digital terus berkembang,” pungkasnya.