Main Agenda: Teror Tetangga Berlanjut, Warga Depok Putuskan Jual Rumah
Main Agenda – Sebuah teror dari tetangga yang terus-menerus mengganggu kehidupan warga Depok, Jawa Barat, akhirnya membuat keluarga Azis Suraji memutuskan untuk menjual rumah mereka. Dalam sebuah laporan yang dibagikan oleh Main Agenda, kejadian ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan bagaimana konflik kecil bisa memicu ketidaknyamanan besar bagi warga sekitar.
Kasus Viral di Media Sosial
Insiden teror yang dialami Azis Suraji dan keluarga kini menjadi trending topic di berbagai platform media sosial. Dalam video kamera pengawas yang beredar, terlihat pelaku menghancurkan pagar rumah Azis Suraji dengan cara menendangnya. Aksi ini bukanlah kejadian pertama, karena sebelumnya pelaku juga pernah membuang sampah di depan rumah korban, yang berujung pada adu mulut dan ketegangan.
Menurut Main Agenda, aksi teror tersebut mencerminkan perubahan sikap tetangga yang semakin mengganggu. Keluarga Azis yang sebelumnya merasa aman di lingkungan tersebut kini merasa terancam. Faktor yang memicu konflik terus diungkap melalui media sosial, membuat situasi ini menjadi viral dan menarik perhatian masyarakat luas.
Asal Usul Konflik
Main Agenda melaporkan bahwa konflik ini bermula dari kesalahpahaman antara pelaku dan anggota keluarga Azis Suraji. Anak Azis, Novita, menjelaskan bagaimana situasi mulai memanas setelah pelaku mengatakan bahwa anggota keluarga Azis “orang gila” dalam situasi tertentu. Meski korban sebenarnya tidak mengucapkan kata-kata itu secara langsung, pernyataan tersebut dianggap sebagai pemicu konflik yang memicu aksi teror.
“Awal mulanya dulu kan suami saya WNA. Dia nggak paham bahasa Indonesia, cuma tahu kata-kata sarkastik, kayak intinya. Suatu hari dia bercanda sama anaknya sampai menangis. Lalu mama berkata ‘orang gila’, biar anaknya ketawa saja, biar nggak nangis lagi,”
Kelompok warga Depok yang lain juga menyatakan bahwa peristiwa ini mencerminkan kebiasaan tetangga yang semakin sering mengganggu. Main Agenda mencatat bahwa konflik tidak hanya mengenai Azis Suraji, tetapi juga menimbulkan rasa cemas di lingkungan sekitarnya.
Teror yang Terus Menerus
Main Agenda melanjutkan pemberitaannya bahwa teror dari tetangga tidak hanya berhenti pada aksi fisik. Selain menendang pagar dan melempar helm, pelaku juga menyetel musik keras di malam hari saat pengajian korban berlangsung. Insiden ini dianggap sebagai bentuk penindasan dan menimbulkan kesan tidak nyaman bagi keluarga Azis.
“Pada tahun 2025, itu benar adanya. Mama sedang ngadakan pengajian ratiban malam Jumat. Mengapa saya bilang begitu? Karena suara musik itu mengganggu,”
Keluarga Azis juga melaporkan bahwa pelaku sempat menyerang mereka menggunakan golok selama Lebaran. Dalam laporan ini, Main Agenda menggarisbawahi bahwa konflik tetangga yang berlarut-larut bisa berdampak signifikan pada kenyamanan warga Depok. Mereka merasa rumah mereka bukan lagi tempat yang aman.
Perencanaan Pindah dan Langkah Selanjutnya
Menurut Main Agenda, keluarga Azis Suraji kini sedang mengevaluasi opsi pindah ke daerah lain. Novita mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil setelah rasa nyaman mereka terganggu secara berkelanjutan. “Beneran mau dijual, ini karena ya kenyamanannya udah terganggu,” kata Novita, yang menjadi sumber informasi utama dalam laporan Main Agenda.
Sebelumnya, ada penawaran untuk bertukar rumah dengan pihak tertentu, tetapi penawaran tersebut batal setelah pelaku mengetahui sifat tetangga Azis. Main Agenda menyebutkan bahwa konflik ini juga memicu warga lain untuk mempertimbangkan langkah serupa, seperti menjual properti atau memindahkan ke rumah baru.
Keterlibatan Pihak Kepolisian
Main Agenda melaporkan bahwa keluarga Azis telah membuat laporan ke polisi pada Rabu (15/6). Nomor laporan tercatat sebagai LP/B/1531/VII/2026/SPKT/POLRES METRO DEPOK. Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Made Gede Oka, mengatakan bahwa pihak kepolisian sedang menelusuri kasus ini secara intensif.
“Petugas telah melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, serta memeriksa pelapor dan saksi-saksi untuk mengungkap fakta,” tulis Polres Metro Depok di akun Instagram @polresmetrodepok.
Polisi berkomitmen menyelesaikan kasus secara cepat, transparan, dan akuntabel. Tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat mendapatkan rasa aman saat beraktivitas di lingkungan sekitar. Main Agenda menyoroti bahwa kejadian ini menjadi contoh bagaimana konflik tetangga bisa menyebar dan memengaruhi kehidupan sosial warga Depok.
