Berita

Main Agenda: Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying

Main Agenda: Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying Main Agenda - Program Main Agenda, yang menjadi fokus utama acara

Desk Berita
Published Mei 11, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Main Agenda: Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying

Main Agenda – Program Main Agenda, yang menjadi fokus utama acara edukasi hari ini, mengajak para siswa SRMA 21 Surabaya untuk menjadi bagian dari solusi mengatasi bullying. Kegiatan yang diadakan bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI (Kemensos) menarik partisipasi sejumlah peserta, dengan berbagai sesi seperti permainan, diskusi, dan tanya jawab yang dirancang agar peserta merasa lebih terlibat langsung dalam memahami masalah bullying.

Kerja Sama untuk Membangun Lingkungan Aman

Penasihat DWP Kemensos, Fatma Saifullah Yusuf, menekankan bahwa Main Agenda ini bertujuan mengurangi dampak psikologis dari bullying, terutama pada masa remaja. “Bullying tidak hanya terjadi di lingkungan fisik seperti sekolah, tetapi juga melalui media sosial, yang kini menjadi sarana interaksi utama bagi generasi muda,” jelas Fatma, dalam siaran pers, Senin (11/5/2026). Ia menegaskan bahwa perundungan bisa memicu rasa takut, rendah diri, hingga trauma berkepanjangan, terutama jika dibiarkan berlarut-larut.

“Main Agenda ini mengajak kita untuk bersama-sama menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kasih. Mulailah dari diri sendiri dengan menghargai perbedaan dan berani menolak tindakan merendahkan,” tambah Fatma.

Menurut Fatma, pelatihan Main Agenda ini penting karena era digital mempercepat penyebaran perundungan. Ia berharap siswa bisa lebih kritis dalam menyikapi candaan atau ejekan yang bisa menjadi bentuk bullying. “Dengan kesadaran yang tinggi, siswa bisa menjadi agen perubahan yang menginspirasi lingkungan sekitarnya,” tegasnya.

Siswa Mengeksplorasi Dampak Bullying

Dalam sesi diskusi, beberapa siswa aktif bertanya tentang bentuk-bentuk bullying dan dampaknya. Salah satu siswa, Miftahul Ananda (17), menanyakan perbedaan antara bullying verbal dan fisik. “Apakah ejekan terhadap fisik termasuk dalam bullying verbal? Bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi korban?” tanyanya.

“Ejekan yang menyinggung penampilan tubuh termasuk bentuk bullying verbal yang bisa merusak kesehatan mental dan kepercayaan diri seseorang,” jawab Bawinda Sri Lestari, narasumber dari Pusat Pengembangan Desa.

Plt Kepala SRMA 21 Surabaya, Ummi Nazhiroh, menyampaikan bahwa Main Agenda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat karakter siswa. “Capaian akademik bukan satu-satunya parameter prestasi. Kemampuan membangun sikap saling hormat dan empati juga harus diperhatikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini selaras dengan visi sekolah dalam menghadapi tantangan era digital.

Program ATENSI Memberi Dukungan untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

Kegiatan Main Agenda ini juga dilengkapi dengan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), yang didukung Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta. Bantuan yang diberikan mencapai total Rp 24.055.315 untuk kluster disabilitas di Kota Surabaya. Bantuan tersebut berupa alat bantu jalan, kursi roda, serta modal usaha bagi beberapa siswa yang membutuhkan.

“Main Agenda ini tidak hanya fokus pada pencegahan bullying, tetapi juga memberikan perhatian khusus kepada siswa yang rentan terhadap tekanan sosial,” jelas Ummi. Ia menyoroti bahwa bantuan dari ATENSI bisa menjadi pengimbang bagi siswa berkebutuhan khusus, sehingga mereka tidak merasa tertinggal dalam menghadapi tantangan di lingkungan belajar.

Salah satu contoh bantuan dari program ini adalah Tarmudji, yang mendapatkan kaki palsu senilai Rp 9.804.300, dan Afifah Novaria yang menerima sepatu AFO seharga Rp 604.300. Dwi Andi Santoso dan Satimah masing-masing menerima kursi roda dengan nilai Rp 2.629.750. Untuk pengembangan usaha, Dodik Jatmiko diberi modal jualan mainan Rp 1.975.000, Tony Sanjaya mendapat dana untuk usaha gorengan Rp 1.666.065, dan Sutarjo menerima bantuan untuk usaha bengkel sepeda motor sebesar Rp 3.500.000.

Kolaborasi dengan Viva Muda dalam Peringatan Ulang Tahun

Acara ini juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-6 komunitas anak muda binaan Viva Cosmetics. Kerja sama dengan Viva Muda memberi kesempatan untuk memperluas penjangkauan Main Agenda, terutama di kalangan remaja yang lebih terbuka terhadap media sosial. “Viva Muda membantu menyampaikan pesan Main Agenda secara lebih menarik melalui konten kreatif dan interaksi langsung,” kata Ummi.

Program Main Agenda diharapkan mampu menjadi model untuk sekolah-sekolah lain di Indonesia. Dengan kombinasi edukasi dan dukungan fisik, siswa bisa lebih siap menghadapi tantangan bullying, baik secara langsung maupun di dunia maya. “Sekolah harus menjadi ruang yang aman, di mana setiap individu merasa dihargai,” pungkas Fatma.

Langkah Nyata Menuju Perubahan

Sejumlah siswa menyampaikan bahwa Main Agenda memberi wawasan baru tentang bagaimana bullying bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari. “Sebelumnya, saya hanya memandang bullying sebagai sesuatu yang lucu, tapi sekarang saya lebih sadar bahwa ini bisa menyebabkan masalah serius,” ujar salah satu siswa. Ia menambahkan bahwa diskusi bersama para narasumber membuatnya lebih terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam membangun lingkungan bebas bullying.

“Main Agenda ini bukan hanya tentang pengetahuan, tapi juga tentang tindakan. Saya berharap seluruh siswa SRMA bisa menjadi pelopor perubahan,” pungkas Miftahul Ananda.

Dengan adanya Main Agenda, diharapkan kebiasaan bullying di sekolah bisa berkurang secara signifikan. Fokus pada pendidikan dan bantuan praktis memberi dua sisi yang saling melengkapi: satu untuk meningkatkan kesadaran, dan satu untuk memberikan dukungan langsung kepada korban. “Inisiatif seperti ini menjadi bukti komitmen Kemensos dan SRMA untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat,” tutup Ummi Nazhiroh.

Leave a Comment