Berita

Main Agenda: Berakhir Damai, Ini Duduk Perkara Rumah Penulis di Depok Digeruduk GRIB

Berakhir Damai Main Agenda - Dalam Main Agenda terbaru, konflik yang memicu kegaduhan antara penulis buku Ahmad Bahar dan organisasi kemasyarakatan GRIB Jaya

Desk Berita
Published Mei 19, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Main Agenda: Konflik Rumah Penulis di Depok Berakhir Damai

Main Agenda – Dalam Main Agenda terbaru, konflik yang memicu kegaduhan antara penulis buku Ahmad Bahar dan organisasi kemasyarakatan GRIB Jaya akhirnya berakhir dengan kesepakatan damai. Perselisihan ini sempat menimbulkan ketegangan, dengan anggota GRIB Jaya menggeruduk rumah Ahmad Bahar di Kota Depok, Jawa Barat. Proses mediasi berhasil memperbaiki hubungan antara kedua pihak, menghindari eskalasi lebih lanjut.

Mula-Mula Konflik dan Sumber Pemicu

Konflik antara Ahmad Bahar dengan GRIB Jaya dimulai setelah nomor handphone penulis dan putrinya diretas oleh pihak ketiga. Hack tersebut digunakan untuk mengirim pesan ancaman ke Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, serta istrinya. Sejumlah video yang mencatut identitas Ahmad Bahar pun beredar di media sosial, menciptakan kesalahpahaman yang memperburuk situasi.

Video tersebut dugaan menyebut nama Hercules, yang menjadi perhatian publik. Akibatnya, anggota GRIB Jaya melakukan aksi langsung ke rumah penulis pada Minggu (17/5). Aksi ini berujung pada pembicaraan intensif untuk klarifikasi. Dalam Main Agenda, ditekankan bahwa konflik muncul dari perbedaan pemahaman, bukan niat menyakitkan.

Penjelasan Ahmad Bahar dan Permintaan Maaf

Menyikapi kegaduhan, Ahmad Bahar memberikan penjelasan melalui video yang dilihat oleh detikcom, Selasa (19/5/2026). Ia menyatakan, “HP saya dan HP anak saya di-hack, bahasa lainnya dikloning. Sehingga ada video-video tertentu yang itu bukan punya saya. Itu barangkali yang menjadi sumber pemicu kesalahpahaman.”

“Jadi intinya, saya memang TikToker, saya penulis buku, dan biasa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan mengomentari berita. Kebetulan ada berita Pak Amien Rais dan Pak Hercules, saya komentari, tapi barangkali ada yang salah paham,” tambahnya.

Penulis menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mengejek Hercules. Ia menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan dalam video merupakan contoh kebiasaannya dalam dunia media sosial. “Misalnya, mohon maaf, bahasa Bung Hercules saya tirukan, jadi kelihatannya seperti mengejek. Padahal ya kalau di dunia TikTok hal itu biasa saja. Tapi sekali lagi, saya yang bermain di dunia media sosial, saya memohon maaf jika ada yang menduplikasi kemudian larinya ke mana-mana,” ujarnya.

Ahmad Bahar juga menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada pihak GRIB Jaya dan istri Hercules. “Sebagai manusia biasa, saya meminta maaf kepada pimpinan GRIB Jaya, yaitu Pak Haji Hercules, kemudian juga kepada istri beliau, dan kemudian kepada pengurus GRIB, baik DPP DKI maupun yang lainnya,” jelasnya. Permintaan maaf ini dianggap sebagai langkah penting untuk menyelesaikan permasalahan dalam Main Agenda.

Respons GRIB Jaya dan Proses Penyelesaian

Wilson Colling, Wakil Ketua Badan Hukum dan Advokasi DPP GRIB Jaya, menjelaskan bahwa kasus ini ditutup melalui kesepakatan bersama. “Terjadi kesepakatan untuk melakukan musyawarah mufakat, kekeluargaan. Sebenarnya kami dari Divisi Hukum, ketika kami menelaah, kami ingin mengambil tindakan hukum. Tapi kebijakan Ketum Hercules Rosario mengatakan jika lebih baik, alangkah eloknya melakukan permintaan maaf saja daripada kita beperkara,” katanya dalam video yang sama.

Menurut Wilson, kedua belah pihak sepakat mengakhiri polemik tanpa konflik. “Kami sama-sama sepakat untuk mengakhiri kegaduhan dan polemik ini secara kekeluargaan dan ke depan tak ada lagi masalah lagi,” tambahnya. Dalam Main Agenda, diperkuat bahwa penyelesaian ini berkat komunikasi yang terbuka dan pengertian antara pihak GRIB Jaya dan Ahmad Bahar.

Sebagai bagian dari proses penyelesaian, anak Ahmad Bahar sempat dibawa ke kantor GRIB Jaya. “Semalam memang anaknya Pak Ahmad ada di kantor, tapi sesungguhnya itu hanya untuk klarifikasi. Ketua Umum menunggu ayahnya tapi sampai selesai ayahnya tidak datang, akhirnya kita jumpa di Polres Depok,” jelas Wilson. Dengan adanya klarifikasi, polemik yang terjadi dalam Main Agenda pun teratasi.

Impak dan Harapan Masa Depan

Konflik yang diakhiri dalam Main Agenda ini menimbulkan dampak luas. Banyak masyarakat yang memperhatikan peristiwa ini, termasuk penggemar Ahmad Bahar dan pengurus GRIB Jaya. Dalam Main Agenda, ditekankan bahwa proses penyelesaian ini memperlihatkan komitmen untuk menjaga hubungan yang harmonis.

Wilson Colling mengungkapkan harapan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran untuk kedua pihak. “Kami berharap, melalui Main Agenda ini, hubungan antara masyarakat dan organisasi bisa lebih baik lagi. Karena setiap konflik bisa diselesaikan jika ada komunikasi yang baik,” ujarnya. Dengan hasil kesepakatan, GRIB Jaya dan Ahmad Bahar sepakat untuk melanjutkan kolaborasi di masa depan.

Dalam Main Agenda, penulis mengakui bahwa media sosial sering kali menjadi sumber konflik, tetapi juga alat komunikasi yang efektif. Ia berharap penggunaan media sosial bisa lebih bijak, terutama dalam konten yang berisiko memicu reaksi emosional. Sementara GRIB Jaya mengapresiasi langkah damai yang diambil, menegaskan bahwa kepercayaan publik harus terus dipertahankan melalui transparansi dan kesopanan.

Leave a Comment